PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Panggil Namanya Langsung


__ADS_3

Naura merasa serba salah di dalam mobil. Sejak dari Polres, Ditya tidak berkata apa-apa langsung membawanya masuk ke mobil. Dia lebih suka jika suaminya marah-marah, daripada diam tidak bicara.


"Kak.., kita mau kemana? Ponsel sama tas Naura masih ada di kantor." Naura memberanikan diri bertanya pada Ditya.


Tetapi laki-laki itu tidak meresponnya sama sekali, dia malah melarikan mobilnya ke arah Utara.


"Kak Ditya, Naura mengaku salah. Naura minta maaf kak, tadi semua terjadi secara spontan. Dan tadi rencana mau menelpon kakak dan pak Dipta, tetapi kan ponsel Naura tertinggal." Naura mengajak bicara suaminya, meskipun sepatah katapun Ditya tetap tidak merespon.


"Apa aku perlu rayu kak Ditya ya, agar mau bicara denganku." Naura berpikir sendiri, akhirnya dia menyiapkan mentalnya. Naura yang biasa pemalu, mencoba menggoda suaminya.


Pas mobil berhenti di traffic light, Naura mendekat ke arah suaminya. Ditya meliriknya, dan spontan Naura terkejut dan langsung kembali ke posisi awal. Tanpa sepengetahuan Naura, sudut bibir Ditya tertarik sedikit ke atas. Ditya kembali melajukan mobilnya, dan tanpa Naura sadari mobil memasuki kawasan pantai Marina.


Setelah memarkir mobil, Ditya meninggalkan Naura di dalam mobil sendiri. Naura bergegas mengikuti suaminya, dan ternyata suaminya duduk di dalam gazebo. Merasa telah membuatnya pontang-panting mencarinya, Naura memeluk Ditya.


"Ayolah kak, bicaralah! Marahi Naura, jangan diamkan Naura dong! Naura janji, ke depan tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama." Naura menghadapkan tubuh Ditya dengan posisi menghadapnya.


"Teriak ke laut sana, ulangi janjimu sampai 20 kali!" akhirnya keluar juga suara dari mulut Ditya.


"Apa? Kakak bergurau?"


Ditya diam, dan kembali melihat ke arah laut. Banyak kapal nelayan terlihat sedang berada di lautan. Melihat Ditya mengacuhkannya, Naura segera berjalan ke arah laut. Di pinggir pantai, di atas batu pembatas laut, Naura berdiri.


"Naura mengaku salah... Naura janji tidak akan membuat kak Ditya khawatir dan cemas.." teriak keras Naura, dan gadis itu mengulangi kalimatnya tepat 20 kali sesuai permintaan suaminya.


Selesai mengucapkan pengakuan salah, Naura kembali mendatangi suaminya.


"Capai?" tanya Ditya dengan sinis.


"Sudah dong kak marahnya! Kan Naura sudah lakukan apa yang kak Ditya perintahkan. Apa kak Ditya tidak kasihan sama putra kita, masak putranya pingin makan soto saja, pulang-pulang malah jadi heboh." Naura mencoba menggunakan bayi yang dikandungnya sebagai alasan.


Ternyata benar dugaan Naura, begitu dia menggunakan kandungannya, Ditya langsung mendekat padanya. Laki-laki itu memeluk pinggang Naura sambil duduk, kemudian memeluk perut Naura. Lumayan lama tanpa suara, Ditya mencium perut Naura.


"Kak..., Naura pingin duduk. Boleh ya? Naura capai, masak berdiri terus."


Ditya langsung mendudukkan Naura disampingnya, dan memegang kepala gadis itu kemudian meletakkan di dadanya.


"Besok lagi kalau ingin pergi bilang! Jangan buat kekacauan lagi, banyak orang yang akhirnya jadi korban karena perbuatan isengmu." Ditya menasehati istrinya.

__ADS_1


"Iya kak, maaf."


"Sekarang tunjukkan rayuanmu tadi pada kakak! Tadi mood kakak sedang bad, kalau sekarang sudah hilang. Ayo..., sekali-kali kamu dong yang inisiatif. Masak aku terus."


"Aaaaa.., ga mau. Maalu." Naura menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Masa sama suami sendiri malu, terus mau diberikan siapa rayuanmu tadi? Ayolah..!"


Naura menurunkan kedua tangannya, kemudian saat Ditya lengah, dengan cepat Naura memberikan kecupan di pipi suaminya. Tetapi ternyata, Ditya lebih cepat, tangannya langsung memegang bagian belakang kepala Naura, dan dengan pelan mendorongnya ke depan. Bibir Ditya dan bibir Naura dengan cepat menyatu dan menjalin dengan erat.


"Kak.. lepaskan, kita di tempat umum kak!" tiba-tiba Naura teringat jika saat ini mereka sedang berada di tempat terbuka.


Dengan berat hati Ditya melepaskan, kemudian menarik tangan Naura dan membawanya kembali ke mobil.


******************


"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Ditya pada Naura. Saat ini mereka sudah berada di rumah makan Pondok Ikan.


"Naura sudah kenyang kak, kan tadi keluar sama kak Jess dan teman-teman sudah makan soto."


"Please kak..., kan Naura sudah minta maaf. Dan juga sudah janji tidak akan mengulangi lagi." Naura menundukkan wajahnya.


"Hey .., tunggu aku dong makannya. Sudah dibantuin, sini mengurus semuanya, malah duluan ninggalin makan!" tiba-tiba Pradipta sudah sampai di tempat ini.


"Sendirian saja pak Dipt?" tanya Naura.


Pradipta langsung duduk di samping Ditya, dan langsung mencomot daging lobster yang sudah dibuka Ditya. Dengan cepat Ditya memukul tangan Pradipta.


"Pelit amat kamu Dity? Tidak ingat apa, siapa yang pontang-panting cari informasi keberadaan istrimu?"


"Tuh.., banyak. Kupas sendiri!"


Naura mengambilkan piring kemudian meletakkannya di Depan Pradipta. Ditya melihatnya dengan tatapan melotot.


"Hai Naura .., sadar tidak? Kamu melayani laki-laki lain di depanku? Sedangkan tadi saja, aku ambil sendiri piringnya?" terdengar protes dari suaminya.


"Halah Dity.., Dity... Wajar dong, kan di kantor aku Bossnya Naura. Yah.., tugas dia dong melayaniku."

__ADS_1


"Cuma piring saja kenapa jadi masalah sih? Sudah ayo makan, Naura harus balik ke kantor lagi."


"Balik kantor? Mau ngapain?" tanya Ditya sambil melanjutkan makannya.


"Kan tadi Naura sudah bilang kan? Ponsel sama tas Naura ada di kantor. Ya ambil barang-barang itu kak."


"Coba kamu lihat, paper bag yang ada di sampingmu itu apa isinya!" kata Pradipta sambil senyum-senyum.


Naura mengambil paper bag, dan melihat isi di dalamnya.


"Terimakasih pak Boss Dipta, Bapak memang Boss yang paling jempol." kata Naura sambil mengacungkan dua jempol di depan wajahnya.


"Yang menyuruh Dipta untuk membawanya, sama sekali tidak mendapatkan ucapan apapun. Giliran yang bawa, dari tadi menggerutu mendapatkan apresiasi."


"Terima kasih kak Ditya." ucap Naura sambil tersenyum.


"Na..., kamu itu bisa mesra kali manggil Ditya dengan panggilan kakak. Kenapa kalau sama aku panggilnya Bapak? Aku tuh seusia dengan Ditya." protes Pradipta.


"Trus Naura panggil pak Dipta dengan apa? Kan memang pak Dipta atasan Naura, ya wajar dong kalau panggil dengan Bapak."


"Di kantor oke tidak masalah. Tapi kalau diluar Na, orang mikir aku sudah tua kali."


"Tidak boleh panggil dengan sebutan Kakak!" kata Ditya tiba-tiba.


"Trus Naura panggil dengan sebutan Mas, gitu?"


"Juga tidak boleh!"


"Terus, harus panggil apa?"


"Daripada pusing, kalau tidak mau dipanggil Bapak, yah panggil saja dengan namanya langsung. Okay?"


"Tapi kan usia Naura dengan pak Ditya memang terpaut lumayan jauh. Nanti dipikir Naura tidak menghormati orang yang lebih tua?"


"Udah panggil langsung saja namaku saja Na, ga usah pakai embel-embel. Daripada menimbulkan pertikaian kalian.."


********************

__ADS_1


__ADS_2