
Dengan bergegas Edward menggendong Ezaz memasuki mansion tempat tinggalnya. Obsesinya yang terlalu tinggi membuyarkan akan sehatnya, dengan sumber daya keluarganya anak laki-laki ini membawa Naura dan Ezaz ke kota kelahirannya. Dia bisa mendapatkan asset berupa mansion ini menggunakan uangnya sendiri. sehingga mama dan papanya tidak tahu jika dia bisa memiliki asset di kota dengan harga property termahal di Australia.
"Where is she now?" begitu berpapasan dengan maid yang membukakan pintu untuknya, Edward langsung menanyakan keberadaan di kamar.
"She's still in the room, sir." sambil memberikan penghormatan dengan membungkukkan badannya, maid menjawab pertanyaan Tuannya.
"Okay .., open me the door to her room!" maid langsung berjalan mendahului Edward, kemudian membukakan pintu kamar tempatnya menempatkan Naura. Perlahan Edward menurunkan Ezaz, kemudian mendorong pintu kamar ke dalam.
"Mommy..., Zaz kangen.." Ezaz langsung berlari mendatangi Naura,saat melihat mommy nya sedang duduk di atas ranjang. Dengan tatapan tak percaya, Naura menyambut kedatangan putranya dengan merentangkan kedua tangannya kemudian memeluknya erat. Air mata mengalir dari matanya. karena tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Ezaz dalam keadaan sehat dan ceria.
"Mommy menangis?? Ini Zaz Momm..." dengan suara cedalnya, Ezaz bertanya pada Naura, dan tampak terdiam memandangi Mommy nya yang menangis.
"Mommy menangis bahagia sayang, Ezaz darimana sayang?? Mommy kangen memeluk Ezaz sayang." dengan menghapus air matanya, Naura bertanya dengan putranya sambil memaksakan senyumannya.
"Pelgi Momm... dengan Uncle, beli toys.." tanpa tahu jika dia sedang diculik, Ezaz menunjuk Edward yang berdiri memandangi mereka berdua dalam berinteraksi.
"Selamat siang Naura..., putramu sangat lucu dan pintar. Dia juga sangat pintar menyesuaikan diri." Edward menyapa Naura sambil tersenyum dan memuji putra kesayangannya.
Tidak mau menimbulkan persepsi buruk di depan Ezaz, Naura hanya melirik tetapi tidak memberikan jawaban apapun pada Edward. Dia mendiamkan laki-laki yang sudah menyebabkannya berada di tempat itu. Sudah kedua kali ini, laki-laki itu nekad melakukan penculikan terhadapnya. Dia juga tidak tahu bagaimana respon suaminya jika tahu, bahwa Edward yang telah membawanya dan Ezaz kemari.
__ADS_1
"Ezaz mau main train sama mobil remote control tidak?? Kalau mau.., ayok ikut Uncle kita nyalakan di ruang tengah. Kalau main disini, kamar Mommy sempit sayang." merasa didiamkan Mommy nya, Edward mengajak Ezaz main di luar kamar. Seperti putranya sendiri, Ezaz segera melepaskan diri dari Mommy nya kemudian langsung berlari ke luar kamar. Edward mengikuti anak itu ke ruang tengah.
"Naura.. kamu disini dulu sebentar ya?? Aku menemani Ezaz dulu." dengan suara lembut karena takut membuat Ezaz khawatir, Edward kembali menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar. Melihat putranya baik-baik saja, Naura mengikuti kemauan Edward. Dia hanya diam melihat Edward menguncinya dari luar, karena dalam segalanya untuk saat ini dia merasa kalah. Meskipun dia bisa melarikan diri dari tempat ini, dia juga tidak memiliki tujuan untuk lari. No pasport, no visa mempersempit ruang geraknya di negara ini. Sat ini, dia hanya berharap bisa mendapatkan ponselnya kembali, sehingga secepatnya bisa menghubungi Ditya di Indonesia.
********************
"Maaf Tuan Ditya..., pemilik usaha rental helikopter yang ditinggalkan di lepas pantai tidak mau menginformasikan, siapa sebenarnya yang telah menyewa helikopter. Berkali-kali hanya menyebut nama Mr. Smith, dan kami sudah menyerah belum mendapatkan titik temu siapa dia." orang suruhannya menyampaikan laporannya.
"*h*t ...\, gunakan cara kekerasan jika dia masih belum mau mengaku!" teriak Ditya.
"Sudah Tuan.., tetapi data-data yang ada di kantornya memang hanya tertera nama Mr. Smith. Kemudian setelah turun dari helikopter, sepertinya istri dan putra Tuan dibawa pergi menggunakan kapal pesiar. Ini beberapa orang saya, baru mencari track kapal pesiar siapa yang meninggalkan pelabuhan."
"Jika belum ada kabar penting, besok lagi tidak usah telpon. Lanjutkan pencarian!" secara sepihak Ditya mematikan panggilan telpon, kemudian dia berdiri dan membanting kursi.
__ADS_1
Ditya kembali masuk ke dalam kamar, seperti anak ayam kehilangan induknya dia mengambil baju yang Naura, kemudian dia mencium aroma yang masih tertinggal. Berbagai koneksi sudah dia coba gunakan, tetapi titik terang keberadaan Naura dan putranya sedikitpun belum dia dapatkan.
"Drtt..., drtttt...," tiba-tiba ponselnya berdering, dan saat melihat Pradipta yang melakukan panggilan, dengan cepat Ditya menerimanya.
"Ya.., gimana Dity?? Ada informasi baru?" kata Ditya dengan merasa letih, karena hanya kecewa yang dapat dia terima jika ada orang yang melakukan panggilan telpon padanya.
"Untuk perkembangan dimana Naura dan Ezaz belum ada Dity. Cuma aku tiba-tiba teringat, kamu pernah cerita kan jika penunggu rumah Firmansyah pernah datang ke rumahmu. Katanya dia membawa hadiah dari Edward untuk kelahiran putramu dulu, dan bahkan menitipkan kado serta oleh-oleh untuk Naura." Pradipta membuka kemungkinan adanya informasi baru.
"Yupz..., kenapa tidak aku pikirkan dari awal. Aku akan segera menuju Semarang."
"Tenang dulu Dity.., aku sudah temui Firmansyah langsung dan anak itu Ujang namanya. Memang mobilitas Edward saat ini lebih banyak di Indonesia, karena papanya memberikan perusahaan yang ada di negara ini dan sudah dibalik nama atas nama Edward. Tetapi, Firmansyah sudah berusaha membantu kita, dia sudah menghubungi adiknya di Australia, dan sudah mendapatkan kabar jika Edward belum tampak ada di negara sana."
"Berarti Nauraku dan Ezaz kemungkinan besar masih ada disini. Pradipta.., kirimkan orang-orang untuk melakukan penyelidikan, perusahaan yang dimiliki oleh keluarganya ada di kota mana saja. Juga jangan lupa, kemungkinan rumah atau property tempat tinggal yang dia miliki. Aku akan menggunakan koneksi papa untuk menyelidiki database kepemilikan rumah atau apartemen di negeri ini."
"Iya Dity..., aku hanya berharap semua segera aman terkendali. Kapan Naura akan menikmati masa bahagia, aku hanya berpesan padamu. Jagalah dia dengan segenap jiwa ragamu."
"Terima kasih Dipt.., hanya kamu yang selalu membantuku. Aku betul-betul kehilangan arah berpikir untuk saat ini, duniaku serasa runtuh. Aku seperti orang bodoh, yang sangat buta akan petunjuk dimana putra dan istriku berada." tanpa sadar air mata mengalir dari kelopak mata DItya. Pradipta dengan sabar mendengarkan keluhan hati sahabatnya itu.
__ADS_1
******************