PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pelampiasan


__ADS_3

Firmansyah minum the Winston Cocktail di dalam ruangan perusahaannya. Pikirannya sedang kalut, karena beberapa karyawannya pindah ke perusahaan lain. Mereka menuntut akan pindah, kalau tidak diberikan tambahan bonus. Asistennya sudah mengajak mereka untuk diskusi, tetapi mereka malah mengancam akan pindah. Akhirnya dengan marah, Firmansyah mengabulkan mereka untuk pindah ke perusahaan lain, dan dia memutuskan untuk melakukan proses recruitment.


"Bagaimana Tuan, siapa yang akan mewawancarai tenaga baru yang sedang kita cari?" tanya Rudi asisten pribadinya.


"Kapan itu akan dilaksanakan, kenapa kamu menanyakan hal remeh ini padaku. Discuss dengan Manajer Divisi SDM, dia yang harus memikirkan masalah ini."


"Mereka khawatir jika salah langkah Tuan. Kalau Tuan sudah ok, aku akan perintahkan pada Divisi SDM untuk memikirkan cara-cara yang akan mereka ambil. Nanti sebelum action, akan saya mintakan pertimbangan lagi pada Tuan."


"Yah, itu lebih bagus. Sekarang tinggalkan aku sendiri. Aku mau tidur sebentar."


"'Baik Tuan. permisi."


Sepeninggal Rudi, Firmansyah kembali meneguk satu sloki minuman favoritnya. Dia mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan pada Santi kekasihnya.


"Santi, kamu dimana? Aku membutuhkanmu saat ini, sekarang kamu langsung ke hotel. Aku akan menyusulmu kesana sebentar lagi."


"Jangan sekarang, aku lagi kumpul-kumpul arisan sama teman-teman sosialitaku  sayang. Nanti malam saja ya sayang."


"Aku bilang sekarang. Atau aku kirim orang untuk membubarkan arisanmu saat ini juga."


"Yah, kamu itu sukanya maksa kalau butuh aku. Huh.., ya sudah aku segera menuju hotel."


Setelah mendapatkan jawaban dari kekasihnya, Firmansyah tersenyum smirk. Kemudian dia menyimpan kembali botol minumannya ke dalam kulkas di samping kursinya. Setelah selesai, dia keluar dari ruangannya dan mendatangi Rudi di ruang kerjanya.


"Rud..., hubungi pak Karto untuk mengantarku ke hotel ***tika. Aku butuh pelampiasan sekarang." perintahnya pada Rudi.


"Siap Tuan, tapi nanti sore Tuan balik lagi ke perusahaan tidak?"


"Sepertinya tidak. Aku sampai malam di hotel tersebut. Jika ada kolega yang akan ketemu denganku hari ini, kamu re schedull lagi."


"Ya Tuan. Saat ini pak Karto sudah siap menunggu Tuan di depan pintu lobby."


"Ya." jawabnya singkat, dan langsung meninggalkan Rudi sendirian.


Rudi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku pimpinannya. Susi sekretarisnya juga terlihat bingung melihat komunikasi pimpinannya.

__ADS_1


"Pak Rudi, Tuan Firmansyah itu sudah menikah bukan?" tanya Susi.


"Iya sudah. Kenapa, kamu naksir Tuan?"


"Ih, ya jelas tidak pak. Meskipun kaya, tapi Tuan kan sudah tua. He..he.."


"Eh, kamu berani mengejek Tuan sudah tua. Aku sampaikan lho nanti."


"Jangan pak Rudi. Susi kan hanya bercanda. By the way... aku pernah ketemu sama istrinya Tuan Firmansyah. Masih kecil, tapi wajahnya cantik banget. Terus kalau ke hotel itu, Tuan sama istrinya atau sama siapa ya Pak?"


"Kamu itu hari ini kenapa Susi? Kerjaanmu masih kurang, dari tadi kepo terus sama kehidupan rumah tangga Tuan Firmansyah."


"Habis Tuan orangnya antik sih. Usia sudah segitu, tapi belum punya anak. Nanti istrinya enak ya, masih muda, cantik, dan warisannya banyak. He..he..he.."


"Apa maksudmu dengan kata warisan Sus? Kamu mendo'akan Tuan Firmansyah meninggal, karena warisan diberikan kalau yang punya sudah meninggal."


"Maaf pak, diabaikan saja perkataan saya. Please... ya pak. Bapak mau saya bantu apa lagi, mumpung Susi sudah selesai nih, kerjaan yang Bapak berikan tadi."


"Ada sini pijat punggungku, pegal rasanya. Kalau tidak mau, aku sampaikan pada Tuan Firmansyah tentang ejekanmu tadi." Rudi mencoba menekan Susi.


"Pijat pak? Bapak memangnya tahu jika Susi dulu sebelum kerja disini, pernah kerja di spa. Suka mijat-mijat juga sih."


************************************************


Sesuai janjinya di hari kemarin, Naura hari ini mengikuti Iin dan teman-temannya yang lain ke mall **putra. Si Susan temannya sedang ulang tahun, jadi hari ini merayakan ulang tahun Susan, sambil sekalian mengerjakan tugas kuliah. Karena Naura tidak membawa motor, dia datang ke mall ikut dengan mobilnya Fikri dengan ditemani Akbar.


"Kita di food court atau di mana San?" tanya Iin setelah mereka sudah masuk ke dalam mall.


"Di ***rtbuck saja ya. Ntar kalau Akbar masih lapar, pulangnya bisa mampir lagi di chicken." kata Susan.


"Asyik.., rejeki anak sholeh memang tidak akan pernah melarikan diri." sahut Akbar sambil cengar-cengir.


Naura yang lebih dari enam bulan tidak masuk mall, hanya memandang etalase yang memajang barang-barang kesukaannya. Tetapi dia tidak membeli apapun, karena dia pikir percuma mengumpulkan banyak barang. Toh apa yang dimilikinya juga jarang dia gunakan.


"Permen kesukaanmu Naura, nih." Fikri mengulurkan permen lolipop pada Naura.

__ADS_1


Naura menerimanya sambil tersenyum. Dia terharu ternyata teman-temannya meskipun akhir-akhir ini tidak pernah kumpul, masih mengingat kebiasaan kecilnya. Dia membuka bungkus permen lolipop, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


"Terima kasih Fikri."


Fikri hanya mengangkat kedua pundaknya ke atas sambil tersenyum. Ternyata Susan sudah memesan tempat duduk di balkon. Mereka kemudian duduk sambil bercanda ria.


"San..., ternyata kamu sudah booking tempat ya sebelumnya. Kok bisa kita dapat duduk disini." tanya Akbar.


"Bukan aku yang pesan Bar, tapi kakakku. Karena Manajer Tokonya kakakku sih. he..he..,"


"Owalah, pantesan, pantesan."


Tidak berapa lama, dua orang waiters laki-laki mengantarkan pesanan yang sudah dipersiapkan kakaknya Susan. Bahkan ada juga kue tart ulang tahun.


"Ayo, Iin kamu jadi master of ceremony kali ini. Segera dimulai, perutku sudah tidak sabar menanti soalnya." seru Akbar.


Iin kemudian menjadi MC untuk mereka berenam.


"Ayo tiup lilinnya Susan. And make a wish." teriak Naura.


Susan kemudian meniup lilinnya, dan memejamkan matanya untuk meminta suatu harapannya pada Tuhan. Teman-temannya bertepuk tangan, bahkan tamu yang sedang menikmati kopi yang duduk di sekitar mereka, ikut bertepuk tangan.


"Sekarang waktu yang kita tunggu sudah datang. Mari kita makan." teriak Akbar yang dijawab teman-temanya dengan memukulnya.


Akbar tidak memedulikan mereka, dia langsung mengambil nasi kebuli dengan potongan daging di atasnya. Dia langsung menyantapnya, tanpa menunggu Susan memotong kue tart. Melihat tingkah Akbar, teman-temannya hanya menggelengkan kepala.


"Okay, sekarang waktu kita makan. Ayok yang mau ganti minumannya tinggal panggil waiters ya."


"Okay San, ini sudah cukup kok. Kok ada nasi kebuli, kan disini tidak menyediakannya kan?"


"Mamaku yang memasaknya. Enak lho, mamaku kan senang memasak. Kapan-kapan main ke rumahku saja, nanti biar dimasakkan mama."


"Beres, jangan lupa. Call me ok!" sahut Akbar.


"Ah  dasar kamu tukang makan Akbar."

__ADS_1


Naura sejenak melupakan masalahnya, dia bisa melampiaskan rasa kecewanya pada keadaan yang menimpanya. Tiba-tiba matanya menangkap pemandangan, seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang berjalan sambil saling merangkul. Melihat suaminya, Naura langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


*************************************************


__ADS_2