
Naura mengenakan baju terusan yang dipesan Firmansyah dari butik untuknya. Sekalipun, dia belum pernah mengenakannya. Baju itu tergantung di lemari pakaian dari saat diantarkan oleh orang butik sampai sekarang. Tadi sore dia mencobanya, dan ternyata baju itu terlihat sangat pas di tubuhnya.
Dia melengkapi baju dengan model sederhana itu dengan menggunakan Bros besar yang dia pasang di sisi kanan pada bagian dada. Kemudian, Naura melengkapinya dengan anting, tas tangan dan high heels.
"Non Naura terlihat sangat cantik dengan baju ini."
Bi Ijah terpukau melihat tampilan majikannya itu. Naura memang tidak pernah berdandan saat di rumah maupun saat berangkat kuliah. Dia lebih sering bare face, daripada menghiasi mukanya dengan bedak.
"Terima kasih Bi Ijah."
Tiba-tiba Ujang masuk dengan tergesa-gesa.
"Non Naura, mobil online yang Non pesan sudah menunggu di depan pintu gerbang Non."
"Terima kasih Ujang. Bi Ijah, Naura berangkat ya Bi."
"Iya Non, hati-hati di jalan."
Sebenarnya Bi Ijah memiliki perasaan yang tidak enak, melihat istri Tuan Firmansyah itu pergi sendiri di malam hari. Tapi kemudian, dia menenangkan dirinya sendiri.
"Toh nanti di hotel, Non juga akan ketemu dengan Tuan."
*******************
Pradipta dengan sabar menemani bosnya Raditya di Club' **maya Tower Hotel. Sebagai member executive di hotel tersebut, Raditya mendapatkan layanan yang sangat istimewa. Dia sekaligus memesan Suite room untuk bosnya. Dia berjaga-jaga jika bossnya nanti malam minum sampai mabuk.
"Dipta..., bilang waiters untuk mengantarkan Macallan 64." seru Ditya ditengah dentuman suara musik.
Dia duduk di sofa eksekutif, sambil menikmati music. Sesekali kakinya ikut menghentak-hentak. Pradipta menggunakan isyarat meminta waiters mendekat padanya, kemudian menyampaikan pesanan Ditya.
"Pergi kamu dari hadapanku. Aku tidak butuh kamu." seru Ditya dengan nada tinggi, saat seorang perempuan mencoba untuk mendekatinya.
"Sini mbak duduk di sampingku saja. Dia kebal terhadap perempuan." seru Pradipta.
Perempuan yang barusan ditolak Ditya, mendekat dan duduk di samping Pradipta. Saat waiters mengantarkan minuman pesanan Ditya, perempuan itu akan mengambilnya dan berusaha melayani laki-laki itu.
"Jauhkan tangan kotormu itu dari slokiku." Ditya langsung melarang perempuan itu menyentuh slokinya.
Ditya memang sering datang ke club' malam, tapi dia hanya datang untuk menikmati musik dan minuman. Bukan untuk menikmati tubuh perempuan.
__ADS_1
"Hai, kamu disini saja jangan kemana-mana. Layani aku saja, jangan dia." teriak Pradipta.
"Okay sayang." perempuan itu kemudian melayani Pradipta.
Kemudian Pradipta berdiri dan menarik perempuan itu untuk mengajaknya berjoged di lantai. Sedikitpun Ditya tidak tertarik untuk mengikuti Pradipta, dia tetap duduk sambil pelan-pelan menyesap minuman yang telah dia pesan.
**************************
Naura meminta driver mobil online untuk menghentikan mobil di depan lobby hotel. Baru saja dia akan membuka pintu mobil, ternyata pelayan hotel sudah terlebih dulu membukanya dari luar. Kemudian dengan percaya diri, Naura langsung masuk ke hotel. Saat dia mau ke receptionis untuk menanyakan arah ballroom, tiba-tiba ada seorang perempuan muda yang menghampirinya.
"Selamat malam, apakah anda Non Naura istri dari Tuan Firmansyah?" perempuan itu langsung bertanya pada Naura
"Iya benar, Anda siapa?"
"Kenalkan nama saya Farah, saya commitee dari acara yang diadakan perusahaan. Mari Non saya antarkan ke ruang transit dulu, nanti Tuan Firmansyah akan menjemput Non."
"Baik, terima kasih." kata Naura sambil tersenyum manis
Dia kemudian mengikuti Farah berjalan ke arah lift. Di lantai tujuh, lift berhenti, kemudian Farah mengajaknya masuk ke sebuah ruangan kecil.
"Silakan duduk Non." Farah memintanya duduk.
"Non mau minum apa, biar Farah bikinkan?"
"Orange Juice saja jika ada."
"Siap Non, tunggu sebentar ya."
"Acara memang dimulai jam berapa mbak Farah? Yang diminta duduk dulu di ruang sini apakah cuman saya saja?"
"Tidak Non, ada 5 orang. Tapi mungkin Non datang lebih awal, jadi lebih dahulu sampai."
Farah kemudian menaruh orange Juice di atas meja.
"Silakan diminum Non."
Naura kemudian segera meminum Juice yang dibuatkan Farah. Mereka mengobrol tentang banyak hal, tiba-tiba sekitar 15 menit kemudian Naura merasa pusing dan panas. Dan setelah 30 menit, dia sudah tergeletak di sandaran sofa di ruangan tersebut. Tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang masuk ke ruangan tersebut, kemudian mereka membawa tubuh Naura dan memasukkan ke dalam kamar sebuah hotel.
**********************
__ADS_1
Seperti dugaan Pradipta, Ditya minum banyak malam itu. Merasa lelah dan sedikit pusing, Ditya pamit akan masuk ke dalam kamarnya.
"Perlu diantar ke kamar Boss?" tanya Pradipta padanya.
Dia masih duduk menikmati belaian gadis itu, sambil mendengarkan musik.
"Mas Dipta mau kemana, kan sudah aku temani disini." perempuan itu memeluk Pradipta dan melarangnya untuk meninggalkan dia.
"Tidak, urusi saja perempuan itu."
"Okelah kalo begitu."
Ditya langsung bergegas menuju Suite room yang berada di lantai tujuh. Dia membuka pintu kamarnya, tapi dia ingat tidak melihat ponselnya.
Dia sibuk mencari ponselnya. Ternyata ponselnya masuk ke dalam tas, dia merasa lega kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar. Kemudian dia masuk dan mengunci pintu.
Merasa berada di dalam kamar sendiri, Ditya langsung melepaskan bajunya. dan hanya mengenakan pakaian dalam dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia agak bingung, kenapa bed yang dia rebahi seperti kurang rapi. Tapi karena sedikit pusing, tidak berapa lama, dia langsung tertidur.
*********************
"Ayolah mas, kan tidak setiap malam menemani Santi."
Santi malam itu mengajak Firmansyah untuk menginap di kamar yang berada di samping kamar yang digunakan untuk tidur Naura. Dia akan memberikan kejutan pada kekasihnya itu, siapa perempuan yang telah dia nikahi itu.
"Kenapa harus menginap disini?"
"Bosen mas, masak di apartemen terus. Sekali-kali kita juga berbulan madu seperti orang-orang kebanyakan."
"Sebenarnya aku sangat lelah dan capai San. Tapi yah, terserah apa maumu saja."
Santi menarik tangan Firmansyah dan mengajak ke atas bed.
"Tenang mas, Santi punya gaya baru malam ini. Kita akan habiskan malam ini hanya berdua." bisik Santi sambil memberikan kecupan di belakang telinga Firmanzah.
Mendapatkan perlakukan seperti itu dari kekasihnya, Firmansyah langsung mengangguk tubuh Santi dan menjatuhkan di atas ranjang. Tidak menunggu lama, tangan mereka masing-masing sudah saling melucuti pakaiannya.
"Mas.., ah. Jangan tinggalkan Santi mas." ceracauan keluar dari mulut Santi.
Firmansyah menutup mulut Santi dengan bibirnya. Pergulatan panjang kedua anak manusia terjadilah di kamar itu. Rasa malu karena mereka bukan pasangan yang telah menikah tidak mereka rasakan. Keduanya saling membelit dan mengikat satu dengan lainnya.
__ADS_1
**************************