
"Tanda tangani surat ini sayang, besok siang aku pastikan akta ceraimu dengan laki-laki tua itu akan selesai.!" Ditya memberikan surat tuntutan cerai yang sudah ditanda tangani Firmansyah pada Naura.
Dengan tatapan polosnya, Naura mengambil surat tuntutan cerai dari tangan Ditya. Dia merasa tidak percaya, tanpa merasa membuat kesalahan, suaminya menuntut cerai padanya dengan alasan ketidak cocokan. Perlahan air mata kembali menggenangi kelopak matanya, dia tidak tahu haruskan dia bersikap sedih ataukah bahagia.
"Naura, kenapa kamu menangis? Bukankah seharusnya kamu bahagia dengan adanya tuntutan untuk menceraikanmu, tanda tanganilah sekarang!" Ditya dengan heran menatap Naura, perlahan jarinya meraih pipi gadis itu, dan dengan penuh kelembutan dia menghapus air matanya.
"Apakah pak Ditya memaksa Om Firmansyah untuk tanda tangan di surat ini?" dengan rasa curiga Naura memberanikan dirinya bertanya pada laki-laki tampan yang saat ini ada di hadapannya. Dia sendiri merasa bingung, apa statusnya saat ini bagi laki-laki tersebut. Sebagai mainan, selingkuhan, atau apa, Naura tidak bisa memahami dirinya sendiri.
"Ha.., ha..., ha.., jangan bilang kamu sudah jatuh cinta pada laki-laki tua itu sayang. Ingat aku Aditya Herlambang Pangestu tidak akan pernah mengijinkanmu untuk mencintai pria lain, selain diriku."
Naura tetap diam, tiba-tiba Ditya menaruh sebuah pulpen di tangan kanan Naura, kemudian membukakan surat tuntutan dan membimbing gadis itu untuk tanda tangan atas namanya. Tetapi Naura tetap tidak mau menggerakkan tangannya, dia tetap diam.
"Baiklah sayang, kamu mungkin merasa jika suamimu laki-laki tua itu, adalah laki-laki baik ya. Jika dia laki-laki baik dan taat, apakah kamu tidak berpikir, selama tiga tahun kalian berdua menikah, berapa kali kalian bisa merasakan tidur dalam satu ranjang?"
"Atau kamu masih berpikir jika suamimu menunggu istrinya sampai dia siap? Bukalah amplop ini, lihatlah apa yang dilakukan suami tuamu itu dengan perempuan yang hendak mencelakaimu di hotel dulu! Bersyukurnya, malam itu kamu ditemukan Tuhan denganku, bukan dengan laki-laki bejat."
Setelah menyerahkan amplop itu, Ditya memegang dagu Naura, dan menempelkan bibirnya di bibir mungil gadis itu. Tetapi Naura menolaknya, dan Ditya kemudian membaringkan badannya di samping Naura duduk. Naura langsung membuka amplop berwarna coklat itu, kemudian mengeluarkan beberapa foto, yang membuat matanya terbelalak. Tampak suaminya sedang bermain, sedang making out dengan seorang perempuan yang pernah dia temui beberapa waktu lalu. Dia buka lagi foto yang lain, dan semua foto yang diberikan Ditya menunjukkan gambar suaminya sedang bermesraan dengan seorang perempuan yang sama, dengan latar belakang yang beda. Nafasnya menjadi sesak, dan kembali air mata mengalir ke pipinya.
Melihatnya seperti itu, Ditya kemudian bangun kemudian memeluk Naura dan menyandarkan kepalanya di atas dadanya. Perlahan dengan lembut, Ditya mengelus rambut dan punggung gadis itu.
"Percaya padaku Naura, aku akan menjadi pendamping hidupmu. Laki-laki tua itu tidak pernah mencintaimu, dia hanya mencintai mamamu. Karena mamamu memilih papamu, maka menggunakanmu sebagai alat untuk balas dendam. Tetapi karena kebaikan hatimu, kepolosanmu, laki-laki itu tidak tega untuk menyakitimu, maka membuatmu menjadi tergantung sampai saat ini." Ditya menceritakan informasi yang sudah dia dapatkan dari orang-orang bayarannya.
Tanpa sadar Naura menemukan kenyamanan di dada bidang Ditya, tanpa sungkan dia memeluk erat laki-laki yang dari tadi sudah memeluk dan menghiburnya. Setelah beberapa saat, Ditya melepaskan pelukannya kemudian kembali menengadahkan wajah Naura.
"Bagaimana, maukah kamu menanda tangani persetujuan untuk mengajukan permohonan ceraimu ke pengadilan agama? Tidak butuh waktu lama, kamu akan lepas dari status sebagai seorang istri dari laki-laki tua itu!"
Setelah berpikir sejenak, Naura menganggukkan kepala. Dia meyakini, semoga apa yang akan dia lakukan dapat menjadi petunjuk arah dari kehidupan di masa mendatangnya. Ditya sangat bahagia melihatnya, kembali dia memberikan kecupan lembut di kening gadis itu, kemudian mengambil pulpen dan menyerahkan kertas persetujuan cerai. Naura menanda tangani surat itu dengan cepat. Setelah ditanda tangani, kembali Ditya membawa tubuh Naura ke dalam pelukannya.
__ADS_1
*******************************************
Tanpa menghadiri persidangan, akta cerai Naura dan Firmansyah akhirnya keluar. Karena sikap kooperatifnya, Naura sudah diijinkan keluar dari dalam kamar Ditya. Dia sudah tidak lagi dikunci, tetapi belum diperbolehkan untuk keluar rumah. Permintaan Pradipta untuk kembali meminta Naura agar kembali bekerja di perusahaan, belum dikabulkan oleh Ditya. Dia masih khawatir jika Naura akan pergi meninggalkannya sendiri.
"Bisakah kamu mengganti panggilanmu kepadaku sayang?" Ditya meletakkan sendok, dan menghadap pada gadis yang hadir di mimpinya akhir-akhir ini.
Naura diam, bingung mau memanggil dengan sebutan apa.
"Mulai saat ini panggil aku dengan sebutan kakak, dan setelah kita resmi menikah nanti kita pikirkan panggilan yang lain."
Naura diam tidak merespon perkataan Aditya. Dia sendiri juga merasa bingung tentang posisi dia bagi laki-laki itu sebagai apa. Dia seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas, tanpa status yang pasti.
"Naura, apa rencanamu jika kamu aku ijinkan keluar hari ini?"
Mendengar perkataan laki-laki itu, Naura langsung dengan antusias memandangnya.
__ADS_1
"Benarkah Bapak, eh maaf kak Ditya akan mengijinkan Naura keluar hari ini?" Ditya agak kaget melihat binar bahagia dari mata gadis itu.
"Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dari hasil kesepakatan kita. Jawab dulu pertanyaanku tadi."
"Hal pertama yang akan Naura lakukan adalah kembali ke rumah Om Firmansyah. Na.." belum sampai selesai dia menyampaikan kalimatnya, sudah dipotong Aditya.
"Ke tempat laki-laki tua itu? Apakah kamu akan kembali padanya, ingat Naura kalian berdua sudah bercerai." dengan nada tinggi Aditya berseru pada Naura.
Mendengar itu, Naura menjadi ketakutan dan langsung diam menundukkan kepala. Merasa kehilangan mata jernih dan indah dengan sorot polos, Aditya menurunkan volume suaranya.
"Maafkan aku? Untuk apa kamu ke rumah laki-laki itu?"
"Naura akan minta maaf dan pamitan baik-baik dengan Om Firmansyah, pada Edward dan ART yang ada di rumah itu. Naura datang dengan baik-baik, maka keluarpun juga harus dengan baik-baik." dengan suara lirih, Naura menjawab pertanyaan Aditya.
Aditya mengambil nafas panjang, dan dia berpikir apa yang disampaikan Naura masuk akal, dia bisa memahaminya.
"Baiklah, aku ijinkan. Tetapi kamu kesana harus diantar oleh bodyguard. Aku akan menugaskan dua bodyguard untuk menemanimu kesana."
"Tapi kak?"
"Tidak ada tapi-tapian Naura, jika kamu tidak setuju. Maka silakan kamu kembali ke dalam kamar."
Akhirnya dengan terpaksa Naura menyetujui perkataan Aditya, dan laki-laki segera menelpon Pradipta untuk mengirim dua bodyguard untuk mengawal Naura.
__ADS_1
**********************************************