
Malam itu saat Claudia dan Naura menemani Ezaz di kamar, Ditya mengajak Pradipta bicara di pinggir kolam. Meskipun malam hari, ternyata beberapa orang terutama wisatawan asing banyak berenang.
"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Claudia Dipt? Aku tidak mau.., kalian kelamaan kesana kemari berdua, tanpa ada kepastian yang jelas." Ditya menanyakan komitmen lanjutan Pradipta terhadap adiknya.
Pradipta menghela nafas panjang. Dia menerawang ke atas.
"Jujur Dity..., aku belum memiliki keberanian untuk meminta Claudia pada Om Prasetyo Pangestu. Apalagi dengan Tante Marina, karena maaf, kamu juga tahu sendiri bagaimana gaya dan tuntutan dari mamamu sendiri kan Dity?" Pradipta akhirnya menyampaikan isi hatinya.
"Terus .., kamu akan begini terus dengan Claudia. Jika hanya seperti ini, mendingan kamu tinggalkan saja adikku, silakan kamu mencari perempuan lain yang bisa kamu gantung statusnya." terdengar ucapan pedas sarkasme dari Ditya.
"Atau kamu lakukan seperti aku dan Naura, hamili Claudia baru melamarnya?" lanjutnya lagi.
Memahami apa yang dirasakan oleh kakak tentang status adiknya, Pradipta tidak marah mendengar perkataan tersebut. Dia memaklumi kerisauan Ditya, karena sebagai seorang kakak yang hanya memiliki satu adik perempuan, berusaha untuk mendapatkan yang terbaik untuk adiknya.
"Baiklah Dity..., nanti aku akan membicarakan hal ini dulu dengan papa. Jika papa dan mama sudah tahu, Minggu depan aku akan mengajak kedua orang tuaku ke Jakarta. Aku akan melamar Claudia secara resmi." akhirnya Pradipta menyampaikan keinginannya.
Ditya merasa tidak percaya, dia menoleh dan memandang langsung ke mata sahabatnya itu. Pradipta juga melakukan hal yang sama pada Ditya. Setelah keduanya bertatapan sejenak, Ditya merangkul bahu sahabatnya itu.
"Terimakasih Dipta.., aku nitip Claudia padamu. Aku yakin papa dan mama, pasti akan menyetujui dan merestui kalian berdua. Kamu adalah saudaraku." ucap Ditya dengan suara lirih.
"Iya Dity.., sejak dulu aku pernah menyampaikan perasaanku untuk Claudia padamu. Rasa cintaku padanya adalah tulus, bukan main-main." kata Pradipta sambil menelan ludah.
"Aku akan memperlakukan dia seperti kamu menjadikan Naura seperti permaisurimu." lanjutnya lagi.
Ditya tersenyum, dia kemudian membayangkan bagaimana dirinya terhadap Naura. Semua yang ada pada gadis itu, membuatnya untuk selalu memiliki dan mencintainya. Dia juga menyadari, terkadang terlalu over protective dia memperlakukan istrinya. Tetapi itu semua dia lakukan, karena dia tidak mau berpisah dan tidak ditinggalkan oleh Naura. Setiap tarikan nafas sudah dia berikan pada istrinya itu
"Menurut pendapatmu, apakah aku perlu untuk memberi tahu Claudia terlebih dulu, sebelum aku melamarnya pada Om Prast?" tanya Pradipta memecah lamunan Ditya.
"Aa.pa Dipt?" Ditya terkejut, tidak konsentrasi mendengarkan Pradipta bicara.
__ADS_1
"Hadeh.., diajak bicara malah melamun sendiri." Pradipta menepuk jidatnya.
"He..he..he.., makanya segera menikah Broo. Aku kangen istriku."
"What??? Jangan gila kamu Dity!" teriak Pradipta jengkel.
"Sorry Bro.., jujur aku teringat Naura. Aku tiba-tiba merindukannya, balik kamar yukk. Aku ingin segera memeluk tubuhnya." Ditya langsung berdiri dan segera melangkahkan kakinya. Tiba-tiba dia teringat tubuh empuk dan lembut Naura.
"Terus gimana jawaban dari pertanyaanku? Kasih saran dong!" seru Pradipta.
"Kamu sudah dewasa Dipta.., biasanya juga kamu yang selalu kasih aku saran, harus begini.., begini. Kenapa sekarang kamu malah nanya ke aku." Ditya tetap lanjut berjalan meninggalkan Pradipta sendirian.
"Dasar BUCIN loe ya .," teriak Pradipta. Dia juga akhirnya bergegas menyusul di belakang Ditya
Beberapa orang melihat mereka berdua dengan tanda tanya, tetapi seperti biasa mereka tidak akan pernah mempedulikan hal-hal remeh seperti itu.
********
Setelah membasuh muka dan menggosok gigi, Ditya langsung bergabung dengan Naura naik ke atas ranjang. Dia membuka selimut yang menyelimuti tubuh istrinya, dan tersenyum melihat pakaian tidur yang dikenakan Naura. Tiba-tiba istrinya terbangun dari membuka matanya.
"Sudah datang Dadd.., dari mana saja?" tanya Naura dengan suara serak, yang bagi Ditya suara itu terdengar sangat seksi.
Ditya mengangkat tubuhnya, dia mengungkung Naura di bawahnya. Matanya lembut seperti ingin menguliti istrinya.
"Iiihh, tatapan Daddy seram. Ditanya malah seperti itu sih ekspresinya?" tanya Naura sewot.
"Jangan khawatir sayang. Daddy hanya ngobrol sesama laki-laki saja dengan Pradipta. Aku menanyakan, bagaimana keseriusan hubungan ke depannya dengan Claudia."
"Iyakah..? Terus bagaimana respon Pradipta, mau serius atau hanya menganggap Claudia cinta monyet saja?"
__ADS_1
"Bisa aku bunuh dia, jika berani memperlakukan adikku hanya sebagai mainan saja. Dia serius, bahkan Minggu depan dia ada rencana mau melamar Claudia. Habis ini, dia akan memberi tahu papa dan mamanya terlebih dahulu."
"Syukurlah kalau begitu. Mommy turut merasa senang. Karena yang dinanti semua perempuan adalah kepastian, bukan janji doang." ucap Naura.
"Harus gentle ya seperti Daddy. Langsung masuk kamar seorang gadis yang sedang tidur dan mabuk. He..he..he.." kata Ditya bercanda.
"Jangan diulang-ulang terus Dadd, Mommy jadi malu." Naura mengangkat tangan dan menutup mukanya.
"Malu ya.. karena yang meminta dan mengajak dulu kan Mommy dulu, Daddy tidak mau melanjutkannya. Tapi Mommy malah yang langsung menahan Daddy."
"Iya..iya.., itu mimpi buruk."
"Ha..ha..ha.., mimpi buruk tapi berbuah Ezaz sayang." goda Ditya.
Ditya langsung menyingkirkan kedua tangan Naura. Sejenak mereka berpandangan, dan melihat bibir mungil di bawahnya, seperti biasa Ditya langsung menyergapnya.
Tangan Ditya sudah masuk ke dalam pakaian Naura, dan dia tersenyum smirk saat merasakan dua daging kembar yang kenyal dan mulus terbuka tanpa ada penutup di atasnya.
"Terima kasih sayang.., ternyata istriku sudah siap dari tadi." bisik Ditya yang membuat muka Naura jadi memerah.
Perlahan bibir Ditya merambat turun ke leher istrinya, dan dia tidak mau berhenti. Setelah beberapa saat bermain disitu, akhirnya bibir itu berhenti dan memainkan puncak kecil di atas kedua bukit kembar tersebut.
"Aaahhh.., uuhhh.., Dadd.." de...sahan Naura mengiringi dan memberi irama yang semakin menyemangati untuk lebih menyusuri bagian tubuh yang lain.
Tangan Ditya segera mencopoti pakaian yang dia kenakan, dan juga menarik baju tidur istrinya. Kedua pakaian mereka sudah terbang dan jatuh di atas lantai, mereka juga sudah tidak menghiraukan semua yang ada di sekitarnya. Bahkan keberadaan Claudia di connecting room juga mereka abaikan.
"Kita habiskan malam ini berdua sayang. Ezaz sudah ada Claudia yang menemani." ucap Ditya dengan suara lirih.
Kedua insan itu akhirnya mencari kepuasan dengan kembali menyatukan inti mereka. Ada rasa, ada getaran dan ada cinta yang selalu menyatukan mereka.
__ADS_1
********