PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Jakarta


__ADS_3

Naura terbangun dia sudah berada dalam sebuah kamar mewah. Dia mengedarkan pandangannya, sama sekali dia tidak mengenali sekelilingnya, jika saat ini dia tengah berada di dalam sebuah kamar rumah sakit. Kamar yang dia tempati saat ini, lengkap dengan interiornya seperti presidential suites hotel, yang memiliki ruang tamu, dua bed tidur, dan ada balkon yang menghadap keluar. Kemudian dia mengamati dirinya, sudah berganti pakaian dan selang infus masih berada di tangannya.


Naura mendengarkan seseorang sedang berkomunikasi di balkon, tetapi karena situasinya. dia tidak bisa melihat orang tersebut. Naura mencoba untuk duduk, tiba-tiba


"Kamu sudah bangun Naura, mau duduk?" Ditya segera menghampiri Naura, kemudian melakukan penyetelan pada bed, kemudian perlahan membantu gadis itu duduk.


"Kenapa tiba-tiba aku sudah berada di kamar ini? Bukannya terakhir kali kita masih bicara di dalam helikopter?" tanya Naura perlahan pada laki-laki itu.


"Makanya sayang, jika aku bilang makan yang banyak, makanlah. Kamu pingsan lagi, dan rumah sakit ini ada helipad di *roof top, *jadi kita tidak lewat depan. Dari atas langsung menuju kamar ini."


"Aku haus." kata Naura pelan, sebenarnya dia malu minta tolong pada Ditya, tetapi situasi yang dia hadapi menjadikannya tidak berdaya, sehingga satu-satunya cara mencoba berdamai dengan laki-laki itu.


"Mau minum apa, panas atau suhu normal?"


"Air mineral biasa saja."


Dengan telaten, Ditya menuangkan air mineral pada gelas. Kemudian meminumkannya langsung ke mulut Naura. Naura menolaknya, mau memegang gelas sendiri, tetapi Ditya tidak mengijinkannya.


"Mau makan camilan atau buah, aku siapkan!"


Naura menggelengkan kepala.


"Kok sepi, kemana Pak Dipta?" tanya Naura.


"Ada aku, kenapa yang ditanyakan Pradipta sih? Dia saya suruh istirahat dulu di rumah, karena besok pagi dia harus sudah kembali ke Semarang. Perusahaan membutuhkan tenaganya."


"Jadi hanya kita berdua disini?"


Ditya tersenyum, kemudian duduk di samping Naura. Tangannya meraih jari-jari Naura, kemudian menautkannya dengan jari-jarinya.


"Iya, aku akan cuti tidak masuk kerja. tetapi aku akan menjalankan kepemimpinanku secara virtual. Bisa via video call, atau webinar."


"Katanya kak Ditya mau menemukan Naura dengan kak Jess, papa dan mama. Kenapa Naura tidak langsung dibawa ke Semarang sih?"


"Tunggu kekuatanmu sedikit pulih dulu. Nanti aku pindahkan di rumah Semarang, tinggal panggil dokter untuk home visit. Makanya makan yang banyak, biar segera kuat!" kata Ditya sambil memeragakan lengan dan tangan diangkat dan ditekuk ke atas.


Melihat hal itu, tanpa sadar kedua sudut mulut Naura terangkat sedikit ke atas. Hal yang sudah berhari-hari tidak dia lakukan. Entah mengapa, melihat laki-laki yang pernah tidur satu ranjang dengannya itu, melihatnya lucu dengan semua tingkahnya. Melihat ekspresi gadis di depannya, Ditya merasa bahagia. Tanpa henti dia menciumi tangan Naura.

__ADS_1


"Naura bisa ke balkon? Naura bosan, tidur terus dari tadi pagi."


"Bisa sayang, apa sih yang tidak buat Nauraku? Ditya langsung mengambil kursi roda, kemudian menempatkan gadis itu di atasnya. DItya mendorong kursi itu ke balkon.


Naura memandang kota Jakarta dari atas balkon. Gedung-gedung tinggi bertingkat seperti pasak yang ditancapkan, banyak dia lihat di bawah. Dia kemudian mencoba berdiri, dan Ditya memegangi tubuhnya. Naura mengambil nafas dalam, kemudian kembali mengeluarkannya. Dia merasakan, kekuatannya sudah jauh lebih baik, daripada saat tadi pagi dia masih di RSUD Kepulauan Seribu.


*****************************


Di suatu tempat yang lain, di kantor polisi Kepulauan Seribu. Tampak Edward dengan muka memar, ditempatkan dalam sebuah sel. Karena mendengar permintaan Naura untuk tetap memperlakukan Edward dengan baik, Ditya hanya memproses pengajuan tuntutan tidak dari semua kesalahan yang laki-laki itu lakukan.


"Pak Polisi, tolong ijinkan saya menelpon keluarga saya untuk mendatangkan pengacara untuk saya! Tolong saya pak!" Edward mencoba meminta ijin pada Polisi.


"Ini waktunya istirahat, besok kalau pas jam kunjung, kamu bisa menghubungi keluargamu!"


"Please pak, tolong saya. Tidak akan lama pak!"


Karena Edward terus mengajukan permohonan, akhirnya dia diijinkan untuk menggunakan ponselnya. Pertama kali, Edward mengirim pesan via whattsapps pada Firmansyah. Kemudian menyambungkan ke mamanya di Australia.


"Mommy.., ini Edward Mom, bantu Edward Mom!"


"Mommy tolong keluarkan Edward dari sini Mom! Edward saat ini ada di sel kepolisian Kepulauan Seribu. Keluarkan Edward Mommy!"


"Bagaimana ceritanya nak? Tell Mom!"


Secara singkat Edward menceritakan kejadiannya, meskipun Rosie juga sadar jika anaknya telah melakukan kesalahan membawa lari anak gadis orang, tetapi dia tetap seorang Ibu.


"Please Mom, help me!"


"Iya nak, kamu jaga dirimu disana baik-baik. Mommy akan segera menghubungi pengacara ternama negeri ini. Besok pagi Mommy and your Daddy akan terbang ke Jakarta!"


"Terima kasih Mommy, miss you!"


Baru saja Edward mengakhiri panggilan telpon pada Rosie, tiba-tiba terdapat panggilan masuk dari Firmansyah.


"Selamat sore Om Firmansyah, maafkan Edward Om!"


"Cerita pada Om, sekarang kamu ditahan di daerah mana!"

__ADS_1


"Di kepolisian Kepolisian Seribu Om, dekat RSUD om. Edward tidak betah disini Om, bantu Edward keluar dari sini!"


"Anak bodoh! Om sudah bilang, jangan main-main dengan Naura. Saat ini dia di bawah perlindungan Aditya Herlambang. Kamu tidak pernah mau mendengarkan Om!"


Edward terdiam mendengarkan ceramah dari Firmansyah. Tetapi dia sedikit merasa lega, karena dengan kekuatan Mommy dan Daddy nya, dia yakin akan bisa bebas dengan segera dari penjara ini.


"Sudah belum Saudara Edward telponnya?" tiba-tiba petugas kepolisian datang mengejutkan Edward.


"Iya pak, sebentar lagi. Ini baru berbicara dengan Om saya."


"Jangan lama-lama, mengganggu tahanan yang lain!"


"Baik pak."


"Om segera bebaskan Edward ya Om, ini saya sudah tidak diperbolehkan sama polisi untuk bermain ponsel."


'Ya, jaga diri. Jangan berani-berani buat masalah disana! Jika ada yang memancing kemarahan, hindari!"


Edward kemudian mengembalikan ponsel pada pihak kepolisian, dua orang temannya di penjara melihatnya.


"Siapa namamu? Sepertinya kamu bukan orang sini?" sapa salah satu dari mereka.


"Namaku Edward, saya dari Jakarta."


"Buat masalah apa kamu, anak Jakarta kok berani buat masalah disini? Kalau mencuri sepertinya kamu tidak ada tampang, atau narkoba?"


Edward menggelengkan kepala, karena dia tidak mungkin mengaku jika membawa kabur seorang gadis. Toh, Naura juga mau mengikutinya, cuma karena apes saja, mereka harus terpisah.


"Eh kalau ditanya itu jawab pakai suara. Dari penampilanmu sepertinya kamu ini anak mama, tapi status kita di dalam penjara ini sama mas. Kita ini tahanan, ha..ha..ha.." komentar satu lagi temannya.


"Iya maaf, karena saya masuk kesini juga belum paham karena tuntutan apa. Tadi mencoba menghubungi keluarga saya untuk mengirim pengacara kesini."


"Enak ya, jadi anak orang kaya. Pengacara saja bawa sendiri, giliran kita bagaimana Bro?"


"Ya, nasib orang Di, harus terima kita. Ha..ha..ha."


*************************************

__ADS_1


__ADS_2