PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Makan Siang


__ADS_3

"Naura, bawa bekal tidak siang ini? Makan siang bareng yuk!" Bambang mendatangi Naura di ruang kerjanya. Naura menengok ke arah jam tembok, dan memang sudah menunjukkan pukul 12.15. Sebenarnya dia tidak merasakan lapar, tetapi mengingat pesan Dokter akhirnya dia mengiyakan ajakan Bambang.


"Tapi aku malas keluar jauh Bang, di depan perusahaan saja ya! Sepertinya ada yang jualan Soto disitu?"


"Okay Tuan Putri, yok.. cuzz!"


Segera Naura mengambil dompet dan ponselnya, baru saja keluar dari ruangan tempat mereka, banyak pandangan sinis dirasakan Naura. Tetapi mereka tetap berusaha santai, dan Naura memberikan senyum pada mereka.


"Eh.., itu bukannya anak baru yang tadi pagi datang bareng Boss Besar Ditya?" terdengar salah satu karyawan bertanya pada temannya.


"Yang mana sih, penasaran aku? Seperti apa cantiknya, sampai bisa merubah kebiasaan Boss Besar. Sama kita saja, memandang saja tidak mau, masak sampai bawa teman kita di mobilnya."


"Halah paling karyawan itu saja yang keganjenan, merayu Boss besar kali."


"Hush, ya jangan segitunya kali! Naura kan memang wajar kalau lebih kenal dekat dengan Boss Besar daripada kita. Dia kan memang sekretaris Boss Dipta, yang setiap detik ibaratnya berinteraksi dengan Boss Besar. Lha disampingnya itu kan, Bambang sekretarisnya Boss besar."


Bambang menoleh ke arah suara-suara sumbang yang sedang membicarakan gadis yang saat ini, sedang berjalan di sampingnya. Dia menengok ke arah Naura, tetapi dia tidak melihat ada kegalauan di Naura.


"Na.., kamu dengar tidak apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya Bambang.


"Sudah Bang, abaikan saja! Kita disini karyawan baru, jangan cari masalah atau gara-gara sama mereka!"


"Iya juga sih, tapi rasanya gatel ini telinga. Dengar mereka membicarakan kamu."


"Sudah ayo segera ke warung soto depan saja! Katanya keburu lapar, aku membayangin pingin makan mendoan sama bakwan."


"Yukk, abaikan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu."


Sesampainya di depan gedung, beberapa satpam yang tahu bagaimana interaksi Naura dengan Boss Ditya, tampak santun mereka menyapa Naura. Mereka menyapa dan bersikap sangat halus dengan gadis itu, yang menimbulkan rasa heran di hati Bambang.


"Mau kemana Non Naura? Makan siang ya, kok tidak menemani Boss Dipta atau Boss DItya?"


"Iya pak, lagi pingin makan mendoan di warung soto depan. Beda selera pak kalau sama kedua Boss itu. Mari kami duluan pak Kardi!" dengan tersenyum dan sikap ramah, Naura menjawab pertanyaan satpam perusahaan.

__ADS_1


"Oh mari Non, warung yang mana Non? Siapa tahu nanti Boss bertanya, kan saya bisa menjawabnya."


"Depan situ pak, yang depannya ada atap terpal warna orange itu lho." jawab Naura sambil menunjuk warung tenda yang berada tepat di depan perusahaan.


Dengan pandangan heran, Bambang menatap Naura. Kemudian mereka menyeberang jalan, dengan dipandu satpam. Bambang kemudian memesan dua mangkok soto dan satu teh manis panas serta es jeruk. Dia mengambil gorengan satu piring, kemudian meletakkannya di depan Naura.


"Terima kasih Bang, kamu tahu deh apa yang aku inginkan."


Naura tersenyum kemudian duduk berdampingan dengan Naura.


"Na.., kok tadi aku lihat pak Satpam ramah banget sih sama kamu? Kalau sama aku, terkadang cuma ngliatin saja deh."


"Kamu tuh aneh sih Bang, orang mereka menyapa karyawan kan wajar ya. Mungkin sih, karena aku sekretaris Boss Dipta, jadi mereka segan juga terhadapku." jawab Naura sekenanya, sambil mencomot satu mendoan dan mulai asyik menikmatinya.


"Kalau karena alasan itu, harusnya sama aku dong segannya. Kan aku langsung dibawah Boss Ditya, atasannya Boss Dipta, iya kan?" dengan penasaran, Bambang terus mengejar naura.


"Halah, rugi banget deh kamu Bang. Kayak gitu saja dipikir, ntar deh aku bilangin sama pak Satpam. Agar mereka juga bersikap ramah terhadapmu, okay!"


"Kwk...kwkk...kwkk..., iya juga ya, Rugi aku mikir kayak gitu." sambil terkekeh akhirnya Bambang ikut mencomot bakwan.


 


 


 


"Na.., itu di seberang jalan bukannya Boss-boss kita ya?" Bambang menyenggol lengan Naura, sambil menunjuk ke arah seberang jalan. Naura menengok ke arah yang ditunjukkan, dan melihat Ditya dan Dipta sedang menengok ke arah kanan dan kiri. Naura langsung menggeser tubuhnya ke tempat yang agak terlindung, agar tidak terlihat dari arah depan.


"Ini diajak ngomong, kok malah bergeser tuh kenapa sih?" protes Bambang.


"Jaim dong Bang, kalau mereka tahu kita sedang makan disini, gimana kalau kita kena tegur mereka."


"Wah benar juga ya." Bambang ikut bergeser mengikuti Naura.

__ADS_1


"Ya Tuhan, selamat datang ke warung saya Boss. Mimpi apa saya semalam, sampai Boss berdua berkenan mampir kesini." terdengar suara pemilik warung menyapa pelanggan.


"Mas, tolong kalian berdua pindah kesana ya!" tiba-tiba Naura dan Bambang menengadahkan wajah, karena melihat pak Kardi satpam perusahaan, berusaha menyingkirkan pembeli lain yang sudah duduk disitu. Tetapi, karena mereka juga karyawan di perusahaan, mereka akhirnya bergeser.


"Pak Dipta, kok Bapak kesini juga?" hampir melompat jantung Naura karena melihat kedatangan Dipta dan Ditya ke depan mereka.


"Tuh, nemani dia. Katanya tidak mau makan siang, kalau tidak ditemani sang pendamping hati." sahut Dipta sambil menunjuk ke arah Ditya. Naura tidak berani memandang Ditya, yang berdiri di belakang Dipta.


"Bang, kamu geser ya, duduk sana! Tempatmu biar untuk tempat duduk Boss Ditya!"


"Baik pak, ayo Na kita pindah sebelah sana!" Bambang mengajak Naura ikut pindah tempat duduk bersamanya.


"Kamu saja sendiri yang pindah. Naura biar tetap disini!"


Ditya langsung duduk di samping Naura, dan gadis itu akan bergeser ke sebelah kanan. Tetapi tangan Ditya tiba-tiba sudah berada di pinggangnya, dan menahan gadis itu untuk tidak meninggalkannya sendiri.Karena tidak mau menimbulkan keributan, akhirnya Naura tetap bertahan di tempat, tangannya berusaha melepaskan tangan Ditya dari pinggangnya, tetapi Ditya tetap tidak mau melepaskannya.


"Kak, lepasin dong! Ini tempat umum, kasihani Naura sedikit saja. Naura tidak mau jadi bahan perbincangan di kantor."


"Naura sayang, kamu harus mulai menyesuaikan diri dengan status kamu! Siapapun yang berani membicarakan kamu, gampang. Mereka tinggal aku pecat!"


"Enak sekali ya kak, kalau posisi di atas. Apa-apa main pecat, main beri punishment?"


Dipta tersenyum melihat perdebatan kecil mereka berdua, sedangkan Bambang dan para pengunjung lainnya hanya berani mengintip interaksi Boss dengan Naura. Untungnya pemilik warung segera mengantarkan soto ke meja mereka. Ditya tampak bengong menyaksikan makanan yang tersaji di depannya.


"Kenapa Boss, tidak doyan?" tanya Dipta.


"Kok keruh, tidak bening? Naura, kamu mau kasih makan bayi kita dengan...," belum menyelesaikan kalimatnya, tangan Naura sudah menutup mulut Ditya.


Para karyawan terkejut melihat keberanian Naura memperlakukan Bossnya di depan umum. Mereka melihat ekspresi Ditya, ternyata tidak marah malah berbinar-binar matanya. Sejenak, Naura baru sadar apa yang dia lakukan. Akhirnya dengan tersipu, dia melepaskan tangannya kemudian mulai menyuapkan soto ke mulut mungilnya.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2