
Setelah acara lamaran diadakan, hanya satu minggu sejak acara lamaran langsung dilaksanakan resepsi pernikahan. Tampak wajah Claudia bersinar sangat bahagia, demikian pula terlihat di raut wajah Pradipta. Setelah dalam waktu yang cukup lama, laki-laki itu memendam perasaannya pada gadis itu, hari ini dia sudah mempersuntingnya. Naura tidak pulang ke Semarang, dari pertama kali dia datang ke kota Jakarta sejak sebelum acara lamaran. Dia tinggal di apartemen berdua dengan Ezaz, dan ditemani pelayan yang didatangkan dari pelayan yang ada di rumah Prasetyo Pangestu. Sedangkan Ditya, karena wakil CEO akan melangsungkan pernikahan, dia meng handle sendiri sementara semua urusan perusahaan.
"Capai Momm.., kalau capai tidak usah dipaksakan berdiri menemui tamu. Istirahat saja, duduk di round table!" Ditya menghampiri Naura yang tampak kelelahan di wajahnya. Sebagai kakak dari penyelenggara pesta, sejak tadi Naura memang sibuk ikut mengarahkan acara.
"Sedikit sih.., ga tahu kenapa ya Dadd. Dari kemarin pagi, kepala Mommy terasa agak pusing, terus menghilang, ini dari pagi tadi muncul lagi." Naura yang jarang mengeluh sakit, tiba-tiba siang ini menceritakan pusing yang dia alami.
"Ayo sekarang kita ke dokter! Kenapa tidak bilang dari kemarin, sehingga lebih cepat untuk ditangani." Ditya kaget mendengar perkataan istrinya, dia langsung ribut mengajak Naura ke dokter.
"Dadd.., sabar dulu kenapa. Pusingnya bukan pusing yang sakit itu, tetapi hanya seperti pusing, kemudian hilang, dan pusing lagi. Tapi Mommy masih bisa untuk menahannya." Naura menarik tangan suaminya yang langsung heboh mendengar dia mengeluh pusing.
"Iya ngerti, tapi jangan dibiarkan. Sudah aku telpon saja dokter keluarga papa, biar stand by memeriksamu setelah acara resepsi ini." kata Ditya tidak bisa ditawar lagi.
"Terserah Daddy sajalah. By the way... Ezaz kemana Dadd.., kok Mommy tidak melihatnya dari tadi?" tiba-tiba Naura teringat akan putranya.
Ditya dengan lembut memegang muka istrinya, kemudian mengarahkan ke depan. Dia melihat putranya duduk di pangkuan papa mertuanya, duduk di atas panggung pelaminan.
"Oh my God...., kenapa tidak Daddy ambil! Kasihan papa dong, terganggu dengan adanya Ezaz disitu." celetuk Naura dengan nada khawatir.
"Sudah biarkan saja. Lihat tuh ekspresi papa, dia bahagia dan bangga pamer cucunya di depan para koleganya. Lagian jika Ezaz disini, anak itu malah bored. Biarkan saja!" Ditya cuek melihat Ezaz duduk di pelaminan dengan dipangku papanya. Tidak ada sedikitpun niat untuk mengambil putranya itu.
"Kak Ditya..., gimana kabarnya kak!?" tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian seksi mendatangi dan menyapa Ditya. Wanita itu terlihat datang dengan papa dan mamanya. Wanita itu mengulurkan tangannya, dan terlihat Ditya memundurkan kepalanya saat wanita itu ingin memeluk dan melakukan ciuman di pipi kanan dan kirinya.
Ditya menarik Naura untuk lebih mendekat padanya, kemudian merangkul istrinya. Naura bingung dengan apa yang terjadi padanya.
"Clandys.., kenalkan ini Naura istriku, dan yang di stage sama papa itu putra laki-lakiku. Ezaz namanya." Ditya langsung mengenalkan Naura pada wanita itu. Naura bingung memandang suaminya, tapi sambil tersenyum dia mengulurkan tangan pada wanita itu.
"Oh.. ya, Clandys." dengan raut wajah yang kurang senang, Clandys menerima uluran tangan Naura.
"Gimana kabarnya nak Ditya..? Sudah jarang ya sekarang di Jakarta, kata Prasetyo kamu lebih menikmati tinggal di kota kecil." laki-laki separuh baya yang datang bersama Clandys berbasa-basi mengajak Ditya bicara.
__ADS_1
"Iya Om..., soalnya di kota itu ada bidadari Ditya Om. Ini Om.., kenalkan bidadari Ditya, namanya Naura." Ditya mengenalkan istrinya pada laki-laki yang datang bersama Clandys.
"Cantik sekali ternyata istrimu Dity. Kenalkan nak.., saya Iskandar." Naura menerima uluran tangan laki-laki tua itu, tapi Clandys dan ibunya segera menarik tangan Iskandar.
"Ayo pa.., mumpung sudah tidak begitu antri ke depan." ketiga orang itu segera meninggalkan Ditya dan Naura.
"Mari nak Ditya, Naura.. Om ke depan dulu!" Iskandar berpameran pada mereka berdua.
"Ya Om." sahut Ditya cepat.
Naura melihat ke arah suaminya, dan Ditya hanya mengangkat kedua pundaknya ke atas sambil tersenyum.
"Siapa barusan? Fans ya." tanya Naura agak ketus.
"Maklumlah.., suamimu ini, banyak penggemarnya.' jawab Ditya menggoda istrinya.
"Momm.., Zaz capai." Ezaz menghampiri Naura yang sedang menikmati makan siang bersama keluarga. Acara resepsi sudah berakhir dari tadi.
"Sini nak Mommy sayang, mommy juga kangen sama Ezaz." saat Naura akan mengangkat putranya, Ditya sudah lebih dulu mengangkat Ezaz dan memangkunya.
"Pangkunya sama Daddy saja, kasihan Mommy lagi kurang sehat. Sini duduk di samping Mommy." kata Ditya kemudian duduk di samping Naura. Dengan penuh kasih, tangan Naura diusap-usapkan pada kepala anak kecil itu.
"Naura sakit?? Sakit apa Na.., jika begitu segera ke dokter saja." mendengar putranya menyebut Naura kurang sehat, Marina langsung menunjukkan kepeduliannya.
"Hanya sedikit pusing saja Ma. Tadi kak Ditya sudah memanggil dokter keluarga kok. Sore paling nanti sudah siap di apartemen." jawab Naura.
"Kenapa balik apartemen? Kenapa tidak pulang ke rumah saja sama-sama." ucap Marina kurang begitu suka.
"Biar Naura bisa fokus istirahat Ma. Nanti biar kedua pengantin honeymoon nya tidak ada yang ganggu." Ditya menjawab pertanyaan mamanya.
__ADS_1
"Ga usah ngeles aja Dity. Siapa yang nikah, tapi siapa pula yang bulan madunya ga mau kalah." sahut Pradipta.
"Ha..ha .ha.., harus begitu, biar ikatan cinta tidak lekas usang. Karena diperbaharui terus."
"Terserah kamu saja Dity, yang penting jangan ngributin dan recokin saja." kata Pradipta langsung kembali menikmati makanannya.
Claudia hanya geleng-geleng melihat suami dan kakaknya berdebat.
"Mommy udahan makannya, Daddy sudah belom. Pingin segera menggeletakkan kepala di bed." Naura memberi kode pada Ditya untuk segera pulang.
"Daddy juga sudah, ayok kita balik apartemen sekarang saja." Ditya langsung berdiri sambil menggendong Ezaz yang juga tampak kelelahan.
"Papa.., mama.., Ditya balik dulu ya. Sudah janjian sama dokter, untuk cek kesehatan Naura. Ini Ezaz juga sudah kelelahan." Ditya pamit sama Prasetyo Pangestu dan Marina.
"Ya hati-hati. Kabar-kabar kalau ada apa-apa." kata Prasetyo Pangestu.
"Siap." jawab Ditya singkat.
Naura menyalami papa dan mama mertuanya, kemudian melambaikan tangan pada Claudia dan Pradipta yang masih melanjutkan makannya.
"Putra kita itu betul-betul sangat menyayangi istrinya." ucap Prasetyo Pangestu yang melihat putra dan menantu yang berjalan meninggalkannya.
"Iya pa..., BUCIN banget kak Ditya sama kak Naura." sahut Claudia.
"Kalau kak Dipta gimana Claudi.., BUCIN tidak sama kamu?" tanya Pradipta sambil senyum-senyum.
"Belum teruji, jadi Claudia belum bisa jawab." sahut Claudia sambil senyum-senyum.
***********
__ADS_1