
"Shi*..., buk.." Ditya memberikan pukulan dan tendangan pada dua orang yang ditugasi untuk mengawal Naura pergi ke rumah Firmansyah. Pradipta ikut memberikan tendangan pada mereka berdua, dan dia tidak bisa berpikir kenapa dengan mudahnya dua orang itu kehilangan Naura.
"Ampun Tuan Muda, kita juga tidak menyangka kita bisa dibius. Tahu-tahu kita sudah berada di jurang, ampun Tuan."
"Bagaimana perginya Naura?"
"Kami tidak tahu Tuan, ketika Non Naura masuk ke kamar, tiba-tiba dari luar rumah ada seorang laki-laki muda yang berada di belakang kita. Bangun-bangun kami sudah ada di jurang."
"Bersama dengan siapa Nauraku?"
"Dia bersama anak muda jika tidak salah namanya Edward, dia mengikuti Naura waktu membereskan barang-barangnya di kamar."
"Buks." Ditya kembali memberikan pukulan di rahang pengawal itu. Kemudian memejamkan mata, dan mengambil nafas panjang.
"Dipta, hubungi polisi yang tugas di perbatasan kota. Suruh melakukan pencegatan di pintu-pintu tol."
"Siap Boss, tetapi kejadian mereka dibius sudah tadi pagi, jika mereka membawa Naura ke Jakarta, aku yakin mereka sudah keluar dari tol. Tapi, tidak ada salahnya aku coba dulu."
"Apakah kamu sudah menemukan mobil apa yang digunakan untuk membawa Nauraku?"
"Sudah, Rubicon warna hitam dengan plat mobil H 1 FH."
Pradipta langsung menghubungi orang-orangnya untuk melakukan patroli, dan pencegatan di pintu keluar tol arah Jakarta, Solo, dan Surabaya. Sebagai sahabat dari kecil, baru kali ini dia melihat sahabatnya Ditya seperti orang gila hanya karena ditinggal seorang perempuan. Dia tidak menyangka, begitu besarnya dampak seorang Naura terhadap seorang Ditya Herlambang putra konglomerat Indonesia. Jika Ditya mau, tinggal tunjuk perempuan lain, maka perempuan itu akan langsung menghampirinya.
Tetapi saat seperti ini, bukan saat yang tepat jika dia memancing kemarahan laki-laki itu. Hanya mengikuti perintahnya, merupakan cara aman untuk meredam emosinya. Tiba-tiba ponsel Pradipta berbunyi.
"Ya, laporkan cepat!" Pradipta dengan cepat menanyakan perkembangan pemantauan CCTV.
"Okay.., terus pantau di masing-masing wilayah!"
Setelah beberapa saat melakukan pembicaraan dengan seseorang via telpon, Pradipta mendekati Ditya.
__ADS_1
"Boss, pada jam 10.45 ada pantauan Rubicon yang membawa Naura telah keluar dari exit tol Pejagan. Tetapi arah mobil dilarikan kemana belum ada informasi lanjutan. Tetapi sudah saya instruksikan agar mencari pada operator CCTV di kota-kota lainnya!"
"Temukan tempat tinggal Edward di Jakarta. Dan aku akan terbang ke Jakarta sore ini juga. Siapkan semua Dipt!"
*******************************************
Santi menangis tersedu dan mencoba melunakkan hati Firmansyah. Kekasihnya itu baru hari ini mau datang ke apartemennya, setelah dari kemarin tidak bisa dihubungi. Tetapi begitu datang, baru Santi membuka pintu, sebuah tamparan sudah dihadiahkan kepadanya. Setelah berminggu-minggu kejadian di hotel itu, dan dia sendiri juga tidak tahu kejadian sebenarnya, hari ini Firmansyah tiba-tiba datang memberinya tamparan karena kejadian itu.
"Aku tidak punya tujuan apa-apa mas, selain untuk memisahkanmu dengan Naura."
"Tapi sadarkah kamu dengan cara yang kamu lakukan? Bagaimana dampaknya terhadap beban psikhologis yang harus dipikulnya jika orang-orang yang kamu sewa itu merusaknya?"
"Maafkan aku mas, semua aku lakukan karena tidak mau kehilanganmu. Semua untukmu mas."
"Dan tahukah kamu Santi, dalam waktu hanya 2 hari, aku telah kehilangan Naura. Ternyata aku mulai menyayangi anak itu, aku kehilangannya." Firmansyah meneteskan air mata, dan Santi sangat kaget.
"Mas Firman, apa maksud perkataanmu mas? Kehilangan bagaimana maksudmu mas?"
Santi terdiam mencoba memahami perkataan yang diucapkan kekasihnya itu, Firmansyah sudah mengajaknya bicara saja, sudah merupakan kebahagiaan terbesar untuknya saat ini. Melihat kekasihnya sudah stabil emosinya, Santi memeluk laki-laki itu.
"Santi, mungkin dalam waktu dekat, akan ada pengacara yang mencarimu terkait penjebakan Naura di hotel. Silakan kamu selesaikan sendiri masalahmu, aku tidak bisa membantumu untuk meringankan akibat dari perbuatan licikmu."
Santi tidak mempercayai apa yang barusan diucapkan Firmansyah. Dia menengadahkan matanya memandang wajah laki-laki itu.
"Siapa mas, yang mengirim pengacara untuk menuntutku? Apakah Naura?"
Firmansyah menggelengkan kepala, kemudian berbicara lirih.
"Naura tidak punya kekuasaan, tetapi orang yang berada di belakangnya yang akan melakukannya. Bahkan kekuatanku tidak ada satu kukunya dibandingkan laki-laki itu. Silakan kamu urusi sendiri!"
Baru selesai berbicara, tiba-tiba ponsel Firmansyah berdering, kemudian dengan cepat dia menerima panggilan.
__ADS_1
"Iya, Oh Tuan Ditya? Ada apa lagi Tuan mencari saya?" sedikit gemetar Firmansyah menerima panggilan dari laki-laki itu.
"Demi Tuhan Tuan, saya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Dari pagi saya meninggalkan rumah, tidak ada Naura yang datang ke rumah."
"Apa??? Edward, kurang ajar anak itu. Baik Tuan, aku akan membantu mencari di Jakarta." Firmansyah tampak lemas meluruskan kaki sambil memijat keningnya. Melihat ekspresinya, Santi memijat leher kekasihnya itu.
"Ada apa mas? Siapa yang nelpon, kok mas Firman memanggil dengan Tuan Ditya, siapa dia?" dengan suara pelan, Santi bertanya pada Firmansyah.
"Edward San. Dia melarikan Naura dengan membiusnya." ucap laki-laki itu pelan.
"Edward? Kenapa bisa Edward mas?"
"Keponakanku itu memang mencintai Naura, dan pernah meminta Naura baik-baik denganku. Tetapi demi nama baik keluarga, aku tidak memberikan gadis itu. Dan saat tadi pagi Naura datang ke rumah untuk mengambil perlengkapannya, dia dibius oleh Edward dan dibawa pergi olehnya."
"Kenapa menjadi pelik seperti ini masalahnya, kemudian Tuan Ditya siapa yang menelpon mas Firman?"
"Aditya Herlambang Pangestu, putra konglomerat negeri ini Prasetyo Pangestu. Karena ulah busukmu, laki-laki itu yang menemukan Naura di malam naas itu, dan laki-laki itu sangat mencintai Naura. Dia bisa melakukan apa saja, termasuk memberiku surat akta cerai hanya dalam waktu 1 hari padaku. Dan sekarang, apa lagi yang dilakukan Edward?"
"Jadi pengusaha muda itu yang akan menuntutku mas?"
Firmansyah menganggukkan kepala. Melihat anggukan itu, Santi tidak percaya, dan dia memegang lengan Firmansyah.
"Mas, aku harus bagaimana mas? Jelas aku akan kalah dengan kekuatannya, tolong aku mas!"
"Sudah aku sampaikan di awal kan, jika aku tidak bisa membantumu. Ditya sudah banyak membantuku sebagai imbalan aku menanda tangani surat tuntutan cerai pada Naura."
"Dia memiliki data tentang aksi-aksiku di pasar gelap. Dia akan menutupinya, dan juga memberi pada perusahaanku injeksi dana."
"Kenapa mas lebih mementingkan materi daripada aku?"
"Apakah kamu pikir, kekuatanku sebanding dengan kekuatan pria itu? dan untuk perbuatan kamu mencelakakan Naura, ingat aku juga marah padamu."
__ADS_1
****************