PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Panggilan


__ADS_3

Naura mendapatkan notifikasi bahwa ada email masuk, dari alamat email yang diperoleh karena statusnya sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi. Selesai makan malam, di berada di dalam kamar dengan membuka laptop, untuk mengecek email tersebut. Mata Naura terbelalak membaca informasi yang disampaikan oleh Human resource department dari PT. Elang Jaya.Tbk.


"Selamat Anda Lolos Seleksi Tahap Pertama dan Kedua pada Perusahaan kami. Silakan datang hari Kamis, tanggal 15 Oktober pukul 10.00, untuk mengikuti tahapan wawancara."


Naura merasa belum memasukkan lamaran kemanapun, tetapi dia mendapatkan invitation untuk mengikuti wawancara di perusahaan tersebut.


"Atau dari Pusat Karir di Sekolah Tinggi ya yang mengirimkan berkas, atau perusahaan yang dimaksudkan pak Teddy dulu." Naura berpikir sendiri.


Kemudian untuk menghilangkan rasa penasaran, Naura membuka email dan chat whattapps dengan dosen pembimbing akademik pak Teddy. Dia menelusuri chat yang pernah dikirimkan dosen PA nya tersebut.


"Yang dimaksud pak Teddy kok PT. Elang Nusa, Tbk ya, bukan PT. Elang Jaya." batin Naura.


Naura kembali melakukan searching PT. Elang Jaya, Tbk di media perambah Google, dan muncul daftar perusahaan yang menggunakan nama tersebut. Setelah beberapa saat dia mencari informasi, akhirnya Naura memperoleh jawaban jika ternyata perusahaan tersebut dimiliki oleh Prasetyo Pangestu.


"Ternyata kedua perusahaan tersebut memiliki satu pemilik utama. Okay, aku akan segera memberikan jawaban. Kamis besok aku akan hadir." akhirnya Naura tersenyum, dan memberikan jawaban atas undangan tersebut.


Dia menjawab bahwa dia akan hadir pada sesi wawancara dengan HRD pada hari Kamis besok pagi. Setelah mengirimkan email balasan, Naura mempersiapkan diri dengan menyiapkan foto copy ijazah legalisir, transkrip nilai, curriculum vitae, dan surat lamaran resmi, serta tambahan kompetensi lainnya. Meskipun dia sudah dikirimkan dari pihak kampusnya, tetapi dia juga menunjukkan sikap profesional, sehingga dia melengkapi kehadirannya besok pagi dengan berkas lamaran kerja.


Setelah berkas yang akan dia bawa besok pagi ke PT. Elang Jaya dirasa lengkap, Naura kemudian mempersiapkan pakaian yang akan dia gunakan untuk wawancara besok. Akhirnya dia menjatuhkan pilihan untuk menggunakan pakaian batik terusan dengan panjang selutut, dan akan melengkapi dengan heels dan sebuah tas kerja.


"Tok.., tok..., tok..," tiba-tiba terdengar ketukan tiga kali di pintu kamarnya.


"Sebentar." Naura meminta untuk menunggunya sebentar.


Setelah menggantungkan baju yang akan dia kenakan besok pagi, dan mempersiapkan semuanya, Naura kemudian membuka pintu kamar.


"Edward.., ada apa?" Naura terkejut karena melihat Edward sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aku pingin ngobrol dengan aunty, mau ya."


Naura menganggukkan kepala, kemudian menutup pintunya dan mengikuti Edward. Tetapi Edward yang dia ikuti malah keluar melalui pintu depan.


"Edward.., kita mau ngobrol dimana, jangan bilang kalau kamu mengajakku keluar dari rumah ini."

__ADS_1


"Kita keluar sambil cari makan malam ya aunty." 


"Aku sudah makan malam Edward, tadi Bi Ijah masak banyak. Kalau kamu ingin makan, aku temani di meja makan. Tidak perlu keluar, please Edward.., besok pagi aku ada janji interview jam 10.00. Aku harus mempersiapkan perlengkapan yang akan aku bawa besok." Naura memohon pada Edward.


Mendengar itu, akhirnya Edward berhenti dan mengabulkan permintaan Naura.


"Kita ngobrol di meja dekat kolam renang di belakang saja." akhirnya Edward mengajak ke belakang rumah.


"Kamu tidak jadi makan malam? Katanya tadi bilang mau sekalian makan malam."


"Itu urusan gampang, pesan Bi Ijah saja untuk buatkan kopi sama bawakan camilan ke belakang."


Akhirnya Edward meminta bi Ijah untuk membuatkan minuman panas dan mengantarkannya ke tempat mereka mengobrol.


 


******************************************


 


"Naura..., tidak apa-apa ya aku panggil kamu Naura. Toh tidak ada  Om di sekitar sini."


"Terserah kamu." jawab Naura singkat.


Edward diam sebentar, kemudian menyesap kopi dari cangkirnya.


"Naura.., tolong jawab jujur. Sebenarnya kamu dan Om Fir itu sedang memainkan peran apa?"


"Apa maksudmu Edward?" Naura terkejut dengan pertanyaan Edward. Selama dia mengenalnya, Edward anak yang cuek, tetapi sering menggodanya.


"Aku pikir kamu tahu kemana arah pikiranmu Na. Kita sama-sama manusia dewasa, yang bisa belajar dari apa yang kita lihat dan kita temui setiap waktu."


Edward bicara sambil tersenyum sinis, Naura diam mencoba mendengarkan apa yang dikatakan Edward.

__ADS_1


"Aku sudah mendapatkan akta pernikahan kalian berdua. Tetapi makna suami istri yang sebenarnya aku tidak pernah melihatnya. Kalian tidur, aktivitas apapun selalu kalian lalui sendiri-sendiri. Kamu memanggil Om Fir sama denganku yaitu dengan sebutan yang sama yaitu Om. Tolong jelaskan padaku Naura!"


"Apakah kamu sudah bertanya pada Om Fir, apa status yang saya miliki untuknya. Tanyakan dulu Ed, nanti ceritakan padaku. Aku akan menjawab pertanyaanmu saat ini."


Naura menatap ke arah Edward, dan dia menarik tangannya saat Edward tiba-tiba akan menggenggam tangannya.


"Naura.., aku akan mengatakan sekarang. Aku tertarik padamu Naura, aku tidak peduli meskipun kamu adalah istri dari Om-ku sendiri, Jika kamu katakan padaku, kalau kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku, aku akan memintamu pada Om Fir."


Naura terkejut dengan hal yang baru saja disampaikan Edward padanya. Dia langsung berdiri dan meninggalkan Edward sendirian. Tetapi Edward mengejarnya, dan mencoba menghentikannya.


"Aku mau tidur Edward, karena seperti tadi yang aku sampaikan padamu di awal, jika besok pagi aku harus mempersiapkan interview." 


"Jawab dulu pertanyaanku Naura, jangan lari dariku," seru Edward.


"Kamu jangan gila Edward, pelanlah kamu bicara. Satu rumah bisa mendengar apa yang kamu katakan."


Naura menghentikan langkahnya, karena tingkah Edward yang dia rasa sudah gila malam ini. Edward berdiri di depan Naura.


"Naura..., aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu. Melihat perlakuan Om Fir padamu, mendorongku untuk melepaskanmu darinya Na."


"Edward..., kamu bicara apa. Apa pernah kamu melihat Om Fir melakukan sesuatu yang merugikan aku. Kamu salah Ed, Om Fir tidak pernah melakukan sesuatu diluar persetujuanku. Bagiku Om Fir adalah penolongku, penolong keluargaku, tolong jangan asal bicara kamu. Aku sangat menghormatinya."


"Menghormatinya, atau mencoba menerimanya. Naura..., aku mengamati bagaimana Om Fir memperlakukanmu, aku tidak rela Naura. Kamu tidak pernah diperlakukan sebagai seorang istri. Lepaskan semuanya Naura, atau aku akan berusaha untuk melepaskanmu. Aku berjanji Naura."


Mendengar perkataan yang semakin ngelantur diucapkan Edward, Naura langsung bergegas meninggalkan keponakan suaminya itu di belakang. Meskipun Edward berkali-kali memanggilnya, dia sudah tidak peduli lagi. Bahkan Naura tidak menyadari jika di depan kamarnya telah duduk suaminya. Dalam diam Firmansyah hanya menatap istrinya yang tampak terlihat sedang dalam keadaan marah. Begitu sampai depan kamar, Naura langsung masuk kamar, kemudian menguncinya dari dalam.


 


 


 


*************************************************************

__ADS_1


__ADS_2