PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Naura Milikku


__ADS_3

"Anda siapa, apakah kita saling kenal?" Aditya bertanya pada Edward sambil berdiri di depannya, tanpa ada sopan santun terhadap tamu.


"Huh..," Edward mengangkat dua sudut bibirnya ke atas.


"Aku kesini mencari temanku. Naura ada disini kan?"


"Memang kamu pikir rumahku tempat penampungan orang hilang, kenapa tidak tanya ke kantor polisi? Malah mencari kemari." dengan senyum smirk, Ditya menjawab Edward.


"Maaf saya tidak biasa basa-basi. Saya kesini karena tadi siang, Naura menelpon saya untuk menjemputnya. Sekarang dimana Naura, aku akan membawanya pulang."


Edward berdiri di hadapan Ditya, dia menatap mata laki-laki di depannya itu. Ditya tersenyum sinis menatap balik Edward.


"Silakan kamu keluar dari sini sekarang, aku sedang tidak ingin menerima tamu. Banyak hal yang harus aku selesaikan."


"Aku tidak akan pulang, sebelum kamu berikan Naura padaku. Jangan uji kesabaran saya."


"Ha..ha..ha.., hai kamu sadar tidak bung? Saat ini kamu ada di rumah siapa? Berani-beraninya memerintah aku."


Melihat ekspresi Ditya yang masa bodoh, Edward menjadi jengkel.


"Naura.., Naura, dimana kamu?" tiba-tiba Edward berteriak.


Ditya langsung mencengkeram kerah baju Edward.


"Punya sopan santun tidak? Main teriak di rumah orang."


Edward menarik tangan Ditya dari kerah bajunya.


"Edward, tolong aku Edward." tiba-tiba Naura sudah berdiri di belakang Ditya.


"Berhenti disitu kamu Naura? Jangan berani kemana-mana." Naura langsung berhenti mendengar suara keras Ditya.


"Siapa laki-laki ini Naura? Pacar, kakak atau siapamu?" dengan senyum sinis, Ditya menunjuk Edward.


"Pak Ditya, kita ini sama-sama laki-laki. Mari kita bermain secara jantan, jangan bertindak seperti pecundang." seru Edward tidak mau kalah.


"Apa maumu, Naura ini milikku. Siapapun tidak akan ada yang bisa membawanya dariku. Sekali lagi aku perintahkan, keluar dari rumahku!"

__ADS_1


"Pak Ditya .., dia Edward keponakan saya pak. Tolong jangan sakiti dia, Naura yang memintanya untuk kesini. Naura ingin pulang pak, Naura sudah memiliki suami." Naura menjatuhkan badannya di lantai. Dia memohon sambil berlutut di kaki Ditya.


"Naura..., berdiri. Apa yang kamu lakukan? Tidak pantas kamu berlutut di kaki laki-laki ini. Dia ini pecundang." teriak Edward dengan suara keras, sambil menunjuk muka Ditya.


Ditya ikut berjongkok kemudian memegang bahu Naura, kemudian dengan lembut mengajaknya berdiri.


"Naura sayang, masuklah ke dalam. Ada yang akan aku bereskan dengan laki-laki ini." dengan lembut Ditya menghapus air mata di pipi Naura.


Naura menatap mata Ditya, sangat lembut dan senyuman manis diberikan untuk gadis itu. Tetapi melihat itu, Naura malah menjadi takut. Dia memundurkan badannya sedikit menjauhi Ditya, tetapi dengan cepat Ditya merangkul tubuhnya.


Melihat pemandangan di depannya, Edward menjadi tambah marah.


"Jauhkan tanganmu dari Naura." seru Edward sambil mengayunkan kepalan tangannya ke arah Ditya.


Dengan sigap, Ditya menangkap kepalan tangan itu, kemudian menghempaskan ke belakang. Edward hampir terjatuh ke belakang, tetapi dengan cepat dia kembali menyeimbangkan tubuhnya.


"Kamu perlu aku laporkan ke polisi, atau dengan rela kamu meninggalkan rumahku. Mumpung aku masih bisa mengendalikan emosiku, aku tidak mau menghajar orang di depan wanitaku." dengan pelan Ditya berbicara pada Edward.


"Kembalilah ke kamar sayang," tapi Ditya melihat Naura tetap berdiri di tempatnya.


"Pelayan..," teriak Ditya memanggil pelayan.


"Bawa Non Naura kembali ke kamar."


Tanpa menunggu pengulangan perintah, 4 ART memegang Naura dan kembali membawanya ke dalam kamar. Naura menangis menolak untuk dibawa, tetapi tenaganya kalah dengan mereka.


Sedangkan Ditya menghalangi Edward yang akan menarik kembali Naura. Akhirnya Edward kembali pulang karena Ditya memanggil beberapa pengawal untuk mengamankannya.


*******************


"Om, apakah Om Fir tidak merasa kehilangan Naura?" Edward mendatangi Firmansyah dalam ruangan kerjanya.


"Apa maksudmu?"


"Dari semalam Naura tidak pulang ke rumah, tetapi Edward lihat tidak ada sedikitpun kepedulian dari Om selaku suaminya untuk mencari atau menanyakan keberadaan Naura."


"Lho bukankah tadi pagi kamu sendiri yang bilang pada Om, kalau Naura baru ke luar kota sama Bossnya. Ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


Dengan emosi Edward menceritakan keberadaan Naura ada dimana. Firmansyah langsung menyandarkan badannya di kursi kerjanya.


"Tadi kata Ditya, besok dia ada janji ketemu dengan Om Fir. Bagaimana mungkin Om Fir bilang tidak tahu situasi ini."


"Tadi ada dua orang yang datang kesini menemui Om. Tetapi dia hanya menyampaikan pesan jika Bossnya mau ketemu Om besok. Akhirnya Om sepakati, tetapi Om tidak tahu kalau ini semua ada hubungan dengan hilangnya Naura."


Pandangan Firmansyah menjadi kosong, dia membayangkan bagaimana sikap dia selama ini dalam memperlakukan Naura. Semua dia lakukan, karena sikap kedua orang tuanya. Dan Naura sama sekali tidak bersalah padanya.


"Ternyata aku begitu kejam memperlakukan gadis itu." Firmansyah membatin sendiri.


"Tadi kamu sempat ketemu Naura kan? Bagaimana kondisinya?" tanya Firmansyah dengan khawatir.


"Naura nya sehat Om, cuma tadi siang Naura menelpon Edward, dia minta tolong untuk dibebaskan. Tapi Edward yakin, saat ini rumah itu sudah didatangkan banyak pengawal untuk pengamanan."


"Terus apa yang akan kita lakukan saat ini. Melaporkan pada polisi? Aku yakin, keluarga Prasetyo Pangestu sudah mengkondisikan pihak kepolisian."


"Iya juga sih. Tapi tadi Edward lihat sendiri, bagaimana Ditya memperlakukan Naura. Sepertinya putra konglomerat itu betul-betul sangat menyayangi Naura. Tapi, darimana Naura mengenalnya?"


Firmansyah dan Edward sama-sama terdiam, mereka berpikir bagaimana melepaskan Naura.


"Om, tolong Om jawab jujur pertanyaan Edward. Sebenarnya bagaimana hubungan Om dengan Naura?" dengan lirih Edward memberanikan diri bertanya pada pamannya.


Firmansyah memandang wajah keponakannya itu.


"Apa yang kamu tanyakan Edward? Kamu tahu kan kalau Naura itu istri Om. Pertanyaan apa itu?" seru Firmansyah dengan suara tinggi.


"Jujur Om, Edward sangat menyayangi Naura, melebihi sayang Om padanya. Dan Edward bukan anak kecil, yang bisa melihat bagaimana hubungan Om dengan Naura setiap harinya."


"Sayang? Apa maksud perkataanmu Edward, jaga bicaramu!"


"Om Fir tidak pernah memperlakukan Naura selayaknya suami istri. Setiap malam Naura selalu tidur sendiri, dan bahkan Edward tidak pernah melihat Om mengajaknya bicara."


"Lepaskan Naura Om. Serahkan Naura pada Edward, aku akan memberi status sebenarnya untuk gadis itu."


"Keluar sekarang juga dari ruangan ini Edward, jangan membuat Om pusing mikirin kamu. Harusnya kamu berpikir bagaimana menolong Naura keluar dari rumah Ditya, tidak malah bicara omong kosong. Keluar!" dengan emosi Firmansyah berdiri dan menunjuk ke arah pintu menyuruh Edward meninggalkannya.


"Terserah Om. Setuju atau tidak setuju, Edward akan tetap berusaha untuk mengambil Naura dari Om." Edward langsung keluar dari ruang kerja Firmansyah.

__ADS_1


*******************


__ADS_2