
Menunggu Ezaz yang tidak datang-datang, Naura kembali keluar mencari putranya ke tempat awal dia tinggalkan bersama Edward. Tetapi dia tidak menemukannya, kemudian dia mencari maid untuk bertanya padanya.
"Excuse me, have you seen my son?" dengan pelan, Naura bertanya apakah maid melihat putranya.
"I saw Ezaz swimming with Mr. Edward in the pool behind the house." maid memberi tahu jika melihat Ezaz sedang berenang.
"Okay, thank.s," Naura bergegas menuju kolam renang di belakang rumah. Dari pintu keluar, dia melihat putranya Ezaz sedang berenang dan bercandaan dengan Edward. Jika orang tidak tahu, seperti seorang papa sedang berenang dengan putra laki-lakinya.
Naura berdiri diam agak lama di depan pintu, dia merasa bingung mau mengambil Ezaz, karena melihat anaknya sangat menikmati kegiatannya di pagi ini.
"Ezaz..., look it that!! Your Mommy found you." tiba-tiba terdengar suara Edward memberi tahu jika Naura datang mencarinya.
"Mommy... come here!! Ezaz suka berenang!" Ezaz berteriak memanggil Naura.
Tidak mau mengecewakan putranya, Naura segera melangkah ke pinggir kolam. Ezaz berenang mendatangi Mommy nya. Edward tersenyum melihat Naura yang berjongkok di pinggir kolam, dan memegang tangan putranya.
"Ezaz .., berenang sebentar saja ya, tidak boleh lama-lama!" Naura menyampaikan pesan pada putranya.
"Okay, dua kali putaran ya Momm.." sahut Ezaz yang langsung membalikkan badannya.
Tetapi Naura masih memegang tangan putranya, dan tanpa sadar Naura tertarik masuk ke dalam kolam tanpa persiapan. Tubuh Naura langsung masuk ke dalam air, sampai gelagepan. Dengan cepat Edward langsung berenang cepat mendatangi Naura, kemudian mengangkat dan memegangi tubuhnya.
"Ambil nafas dulu, mau lanjut berenang atau aku bawa kamu naik ke kolam renang." ucap Edward pelan sambil tersenyum.
Naura agak deg-degan karena dada bidang six pack Edward yang tidak mengenakan kain pelapis saat ini bersentuhan dengan kulitnya. Pakaian yang dia kenakan berbahan ktun dan sangat tipis, yang saat ini melekat pada tubuhnya dan membentuk siluet pemandangan seksi. Dengan cepat Naura mendorong dada Edward untuk menjauh darinya.
"Ha..ha..ha.., tidak perlu malu padaku Naura. Bahkan beberapa kali lho aku sudah mengangkat tubuhmu." Edward menggoda Naura.
__ADS_1
Dengan muka merah, Naura berenang menjauh dari Edward.
"Momm..., mommy tidak apa-apa? Maafkan Ezaz ya Momm!" Ezaz segera berenang ke arah Naura.
"Mommy baik Zaz sayang..., hanya sedikit kaget saja tadi karena Mommy tidak persiapan. Sudah capai belum, kalau sudah kita naik yok. Kita berbilas dan sarapan pagi." dengan sabar Naura mengajak putranya untuk segera naik ke atas.
"Belum Momm.. Sekarang Mommy temani Ezaz dulu ya! Kita berenang dulu dua putaran, kemudian janji deh, Ezaz akan naik." Ezaz mengajak Aleta berenang dulu dua putaran, baru mau berhenti.
Merasa sudah kepalang basah, akhirnya Naura menuruti permintaan putranya. Dia segera berenang berdampingan dengan putranya berkeliling kolam renang. Ternyata sangat mengasyikkan, setelah sebulan lebih dia tidak melakukan aktivitas.
Edward terkesima melihat kelincahan Naura mendampingi Ezaz berenang. Merasa seperti obat nyamuk, Edward naik ke atas kolam renang dan berjalan masuk ke ruang ganti. Beberapa saat dia keluar, dengan membawa dua buah handuk yang dia persiapkan untuk Naura dan Ezaz. Kemudian dia duduk di dekat tangga naik dari kam renang.
"Finished..," teriak Ezaz bahagia.
"Sudah ya, Ezaz harus menepati janji. Kita berhenti dan berbilas." ajak Naura.
Tiba-tiba Edward mengulurkan tangannya yang sebelah kanan, dan tangan kirinya memegang handuk. Karena dia juga tidak menginginkan maid dan penjaga mansion melihat tubuh Naura. Merasa kepalang basah, Naura menerima bantuan dari laki-laki itu dia kemudian naik keatas dengan dipegangi Edward, dan langsung mengambil handuk dari tangannya. Edward tersenyum melihat tingkah gadis itu.
**********
Di dalam ruang kerjanya, Edward menyandarkan pada kursi kerjanya. Dari tadi otaknya tidak mau diajak untuk bekerja sama. Naura memenuhi ruang di otaknya, dan tidak bisa dia keluarkan meskipun dia sudah berusaha.
"Apa yang sudah kamu dapatkan Edward dari tindakanmu menculik Naura?"
"Kamu puas, bahkan menyebut namamu pun gadis itu tidak mau. Dia bisa mendiamkanmu seumur hidupmu."
"Dia akan memusuhi sampai kapanpun. Itukah yang kamu inginkan darinya?"
__ADS_1
"Suara, senyumnya menghilang saat dia tahu kamu melakukannya lagi. Itukah yang membuatmu bahagia?"
Edward menjambak rambutnya sendiri, berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Dia sudah berhasil mendapatkan Naura dan putranya, tetapi apa yang dia dapatkan saat ini seperti pepesan kosong. Dia masih ingat tatkala mereka masih tinggal dalam satu rumah bersama, yaitu di rumah Om Firmansyah. Mereka biasa bercanda bersama, makan bersama, tetapi saat ini suara Naura saja sangat sulit untuk dia dapatkan.
Gadis itu mau makan hanya untuk sekedar bertahan hidup karena masih ada Ezaz yang menjadi kewajiban dan tanggungjawabnya. Tubuhnya semakin kurus, dan senyumnya sudah memudar.
"Drttt...drttt...drttt..," tiba-tiba ponselnya bergetar. Edward melihat mamanya Rosie melakukan panggilan masuk. Dengan malas, dia langsung mengambil ponsel kemudian menerima panggilan tersebut.
"Siang.., ada apa ma?" Edward mengucapkan satu pada mamanya.
"Kamu dimana nak? Sudah satu bulan kamu tidak mengunjungi mama dan papa. Mama mampir ke apartemen, kata penjaga kamu juga tidak kesana satu bulan lebih." Rosie menanyakan ada dimana Edward.
"Jangan khawatir Ma.., Edward lagi butuh waktu sendiri. Edward tetap berada di kota ini. Toh, kerjaan juga tidak pernah Edward tinggalkan."
"Ya sudah, tapi jaga dirimu. Jangan lakukan tindakan yang membahayakan."
"Iya Momm."
"Oh iya Edward.., kamu sudah dengar berita belom? Jika Naura gadis yang pernah kamu bawa lari itu pergi meninggalkan suaminya." tiba-tiba Rosie menanyakan tentang berita Naura. Edward langsung terdiam, dia tidak mau membuat kedua orang tuanya merasa khawatir.
"Edward.., kamu dengar apa yang mama katakan?"
"Iya ma, Naura kenapa??" tanya Edward dengan gugup.
"Beberapa hari lalu Om Fir menelpon mama menanyakan kamu. Terus dia cerita jika Naura mantan istrinya, entah pergi dengan kemauannya sendiri, atau diculik belum bisa ditelusuri. Konglomerat Prasetyo Pangestu dan putranya Ditya sudah mencari informasi tentang keberadaan istrinya, tetapi belum juga ada kabar. Kasihan benar anak itu, dulu dia menikah dengan Kak Firman seperti itu, kemudian kamu culik, dan baru saja menikmati kebahagiaan dengan suaminya, dia sudah hilang lagi." Rosie merasa prihatin dengan nasib yang dialami Naura.
"Iya ma.., nanti kalau Edward ada informasi, akan coba Edward bantu. Sudah ya Mam.., masih banyak kerjaan ini di kantor." Edward mengakhiri panggilan dari mamanya.
__ADS_1
*********