PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Syukuran


__ADS_3

"Ditya..., kelola perusahaan papa yang ada di Semarang. Sampai mendapatkan manajer baru" Pangestu menyuruh Aditya untuk mengelola perusahaan cabang di kota Semarang.


"Kok mendadak sih pa? Bagaimana kalau Pradipta saja, nanti Ditya yang akan menyampaikan padanya."


"Papa menyuruh kamu Ditya. Kelola dan benahi carut-marut di perusahaan itu. Manajer yang papa berhentikan, tidak becus mengurus perusahaan itu. Tugasmu mengembalikan perusahaan itu, sampai ada keuntungan."


"Kenapa tidak perusahaan papa yang di kota lain. Kota itu sangat panas, dan sering terjadi banjir rob pa. Ditya tidak nyaman di kota itu."


"Kamu papa kirim kembali ke luar negeri atau ikut perintah papa. Itu tugas dan tantangan yang harus kamu hadapi. Ingat usiamu Ditya, sudah 27 tahun. Bukan masanya lagi, kamu tiap malam keluar kelayapan."


"Ada apa sih ini. Suara papa sampai keluar dari ruangan itu lho." tiba-tiba mama Ditya masuk ke ruang kerja suaminya tanpa ketuk pintu.


"Masak ma, papa mau mengirim Ditya ke Semarang. Kota itu sangat panas, dan sering ada banjir rob, Ditya tidak suka disana ma."


Mama Ditya tersenyum, kemudian duduk di kursi.


"Ditya..., benar itu saran dari papa. Kamu bisa merintis perusahaan dan berhasil sukses kan, sekarang kamu saatnya bantu papa. Perusahaan di Semarang itu sangat prospektif, kemarin karena human error' sehingga perusahaan itu merugi." kata mama Ditya.


"Mama yang menyarankan pada papa, agar kamu saja yang mengambil alih kepemimpinan di Semarang. Bantu papa dan mama Dity." lanjutnya lagi.


"Sudah ma, sekarang tugas mama yang kasih tahu anak kesayangan mama." sahut Pangestu.


Mama Ditya menyampaikan maksud sebenarnya kenapa Ditya yang mereka pilih. Setelah mengalami adu pendapat, akhirnya dengan terpaksa Ditya menerima tawaran papa dan mamanya.


"Lagian saat ini juga sudah ada tol. Jakarta ke Semarang tidak butuh setengah hari perjalanan darat. Tidak perlu kamu khawatir, kamu butuh apa, nanti kasih tahu mama. Hari itu juga mama akan kirimkan kebutuhanmu."


"Iya ma. Sudah cukup pa, apa yang akan papa sampaikan pada Ditya. Kalau sudah cukup, Ditya mau keluar sama Pradipta."


"Yah, sana terserah."


Ditya langsung keluar dari ruangan kerja Pangestu, mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap putra laki-lakinya.


"Ada apa ma, siang-siang menyusul kemari?" Pangestu memecah kesunyian.


"Mama mau minta ijin sama papa."


"Ijin apa? Uang belanja kurang, atau mau beli branded goods?" tanya Pangestu sambil melihat istrinya.


"Bukan pa. Mama pingin ke Indonesia Timur, sama teman-teman arisan. Boleh ya pa?"


"Indonesia Timur? Mau cari apa mama disana? Sarana transportasi juga belum lengkap di sana."


"Papa tidak perlu khawatir. Semua akan dicukupi sama teman mama. Mama diajak diving dan snorkeling disana pa. Atau papa mau ikut, sekalian cuti pa?"

__ADS_1


"Kamu itu aneh ma, ma. Perusahaan di Semarang mengalami kerugian saja, papa harus minta Ditya yang membereskan. Malahan mau cuti."


"Ya tidak apa-apa lah, papa itu juga oerlu refreshing disana. Mau ya pa."


"Tidak, kalau mama mau pergi, silakan berangkat sendiri. Tidak perlu mengajak papa. Papa mau kerja."


"Terima kasih pa. Ternyata papa orangnya baik dan pengertian. Besok lagi kita mau berangkat pa." Mama Ditya langsung menghampiri Pangestu dan mencium pipi suaminya itu.


Pangestu hanya geleng-geleng kepala.


"Tidak anak, ternyata mamanya juga sama.Jika sudah memiliki keinginan, apa-apa langsung tancap."


"Sudah ya pa, mama mau pulang. Mau packing dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, mama Ditya langsung meninggalkan suaminya sendirian di ruang kerja.


**********************


"Ambilkan lagi." Ditya memerintah waiters untuk mengambilkan minuman keras.


"Sudah Dity, aku malas membawamu pulang, kalau kamu mabuk disini." Pradipta mengancam Ditya.


"Aku lagi pusing Dipt, biarkan aku. Toh, besok aku di kota itu juga tidak akan minum lagi."


"Sebentar lagi kenapa sih, kalau kamu pulang. Sana pulanglah sendiri, aku masih mau disini."


Pradipta hanya geleng-geleng kepala, kemudian dia meninggalkan Ditya sendiri. Dia berpindah duduk, dan menghampiri cewek yang duduk di sudut ruangan.


"Kenapa Ditya? Minum lagi dia."


"Iya, coba kamu kesana Sal, siapa tahu dia nurut." Pradipta menyuruh cewek yang bernama Salsa untuk menghentikan Ditya.


"Malas Dipt, sama saja. Dari dulu Ditya kalau ada masalah selalu larinya ke minum."


"Ya sudah, kita lihatin saja dia dari sini. Kalau ada apa-apa langsung kita bawa pulang."


*************************


Naura mendapatkan ucapan selamat dari teman-temannya, dia mendapatkan hasil A dari ujian pendadaran yang baru dia laksanakan hari ini.


"Selamat Naura, nilaimu bagus." Jessica memeluk adiknya dengan penuh kasih. Air mata mengalir deras dari matanya.


"Terima kasih kak Jess. Kenapa kakak menangis, Naura saat ini bahagia kak."

__ADS_1


"Sudah, tenanglah. Kakak bahagia bisa melihatmu selesai kuliahnya. Kamu adik kakak yang begini pokoknya." kata Jessica sambil mengacungkan dua jempol jarinya.


"Selamat Naura, kamu minta hadiah apa dari kak Doni?"


"Kakak segera menikah dengan kak Jess, itu saja hadiahnya kak."


"Ya Naura bilang dong sama kak Jess, kapan dia bersedia kakak nikahi."


Mereka tertawa bersama. Naura menghampiri teman-temannya yang dari pagi sampai siang ini tetap setia menunggunya.


"Thank you guys..., kalian pokoknya segalanya buat aku."


"Iya, iya..., tapi jujur aku lapar Naura." sahut Akbar.


"Halah..., dasar kamu tukang makan Akbar." semprot Iin.


"Oh iya, ayok kita keluar makan. Kak Jess yang traktir kalian semua."


"Asyik..., pucuk dicinta ulam pun tiba. Terima kasih kak Jess."


Akhirnya mereka diajak Jessica makan di resto kepunyaan orang tua Doni. Mereka menuju kesana dengan menggunakan dua buah mobil.


Begitu sampai di parkiran mobil, Naura melihat ada mobil suaminya terparkir di ruang parkir khusus VVIP. Tapi Naura tidak menyampaikan pada kakak dan teman-temannya. Dia tetap tenang berjalan masuk bersama dengan mereka.


"Sudah kak Doni pesan, kita langsung masuk di private room."


Mereka ramai-ramai masuk ke private room, dan di depan pintu masuk, Naura bertemu dengan suaminya yang sedang di gelendoti Santi. Naura dan Firmansyah sama-sama terkejut, tetapi Naura dengan cepat menyesuaikan dirinya. Dia tersenyum dan menyapa suaminya. Firmansyah agak gugup, tapi segera menguasai keadaan.


"Ya, ada acara apa?"


"Kak Jess ngajak teman-teman Naura syukuran. Mari Om."


"Siapa mas?" tanya Santi yang tetap berpegang pada Firmansyah.


"Sudah ayo balik, bukan urusanmu."


Firmansyah langsung bergegas membawa Santi keluar dari restoran tersebut.


"Siapa itu tadi Naura, suamimu ya?" bisik Jessica sambil mendekati Naura.


"Iya kak, tapi Naura tidak apa-apa kok. Benar." Naura langsung menggandeng kakaknya dan segera membawa teman-temannya masuk ke private room.


**********************

__ADS_1


__ADS_2