
"Ada hubungan apa antara kamu dengan pak Aditya? Selama ini Boss kita selalu menekankan profesionalitas, baru tadi malam saya mendapatkan pesan, jika pagi ini tanpa ada rekruitment formal, tiba-tiba saya diminta mewawancarai kamu." Irwan bertanya pada Iin.
Sejenak Iin terdiam, karena bingung mau menjawab apa.
"Mohon maaf pak, apakah tidak bisa mewawancarai sesuai dengan bidang ilmu yang saya miliki, atau terkait dengan bidang tugas yang akan saya pegang nanti di perusahaan ini." Iin memberanikan diri meminta Irwan untuk mengganti topik wawancara.
"Huh..., belum jadi karyawan resmi, kamu sudah mengatur apa yang mau saya tanyakan. Apakah karena kamu merasa pasti akan diterima, so... kamu berani memintaku ganti topik pertanyaan." ucap Irwan sambil tersenyum sinis.
Sebagai aktivis kegiatan organisasi kampus selama dia kuliah, mendidik Iin berani untuk memprotes sesuatu yang berada di luar ruler. Mendengar ucapan dari Irwan, Iin langsung berdiri.
"Mohon maaf pak Irwan, saya juga tidak begitu butuh pekerjaan ini. Jika bapak memandang miring dengan kemampuan yang saya miliki, saya berpikir perusahaan ini tidak cocok dengan saya. Orang tua saya juga Punya perusahaan, lebih baik saya melanjutkan perusahaan orang tua saya, daripada saya harus ketemu dengan orang sepicik pak Irwan." sambil berkata, Iin langsung berjalan keluar.
Tetapi baru saja mau membuka pintu, tiba-tiba Irwan melarangnya keluar.
"Mbak Iin..., duduklah kembali! Saya akan merubah topik pertanyaan saya."
Iin berhenti, kemudian dia membalikkan badan dan melihat Irwan seperti khawatir.
"Maafkan saya mbak Iin! Tolong kembalilah duduk!"
Merasa tidak enak dengan upaya Naura, akhirnya dengan perasaan jengkel Iin kembali duduk di depan Irwan. Sebenarnya dia sudah merasa muak dengan laki-laki di depannya itu, yang demikian mudah memandang rendah orang lain tanpa melihat dulu bagaimana kapasitasnya.
"Baiklah..., dari bidang ilmu apa yang anda tekuni dan kira-kira, divisi apa yang cocok dengan bidang ilmu mbak Iin?"
Iin mengambil nafas dulu untuk meredakan rasa jengkel di hatinya, dan mencoba untuk bersikap profesional.
"Saya menempuh kuliah Business Digital dalam waktu 3 tahun lebih 9 bulan dengan IPK 3.76. Selama kuliah, banyak pengalaman organisasi yang saya dapatkan. Bisa Bapak lihat di lampiran dan surat rekomendasi yang dibuat oleh pihak kampus."
__ADS_1
Iin mengambil jeda sejenak.
"Untuk divisi pada perusahaan ini, sebenarnya saya bisa masuk ke divisi manapun sesuai keahlian saya, tetapi untuk kecocokan dengan latar belakang keilmuan, saya akan lebih cocok masuk pada Divisi Marketing atau Research and Development."
Irwan melihat SKPI sebagai lampiran surat lamaran yang dibuat Iin, dan juga mempelajari bukti aktivitas organisasi. Laki-laki itu terkejut saat melihat ternyata Iin juga aktif sebagai pelatih taekwondo dengan tingkatan Dan IX pemegang sabuk hitam dengan 8 strip putih.
"Untung gadis ini bisa dengan cepat menyesuaikan diri, jika tidak aku bisa apes." batin Irwan.
"Okay.., apa yang melatar belakangi anda mengambil perusahaan ini untuk mendapatkan pekerjaan?"
"Saya asli dari kota ini, dan sejak kecil sudah mendengar nama perusahaan ini. Meskipun beberapa tahun lalu perusahaan ini pernah mengalami decline, tapi dengan cepat perusahaan bisa kembali bangkit. Dan ternyata karena human error', dan eksekutif bisa menangani dengan cepat."
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Irwan dapat dijawab Iin dengan tegas dan tepat. Sedikitpun Iin tidak menyinggung Naura maupun Ditya, dia disini atas nama dirinya sendiri. Irwan agak malu, dia tadi sempat meremehkan kemampuan Iin, ternyata setelah mempelajari SKPI dan CV gadis itu, ternyata banyak prestasi yang berhasil didapatkan gadis itu.
"Baiklah mbak Iin .., saya rasa sudah cukup, saya menggali kapabilitas mbak Iin. Nanti secepatnya akan kita informasikan, hasil dari interview kita pada pagi hari ini."
"Tunggu sebentar mbak Iin, ini kartu nama saya. Mohon save ya nomor ponsel saya, siapa tahu kapan-kapan saya menghubungi mbak Iin." Irwan mengulurkan Kartu namanya.
Setelah menerima, tanpa mengatakan apapun Iin langsung keluar dari ruang kerja Irwan.
"Menarik gadis itu, bisa nih nanti aku dekati dia..," gumam Irwan sambil tersenyum sendiri.
************
"Naura..., thanks ya atas bantuanmu. Barusan aku dari perusahaan suamimu, habis wawancara dengan pak Irwan."
Iin mengirim chat pada Naura. Dia sebenarnya mau ke rumahnya selesai mengikuti wawancara, tetapi dia merasa tidak nyaman. Karena baru kemarin dia dan dua sahabatnya main ke tempat Naura.
__ADS_1
"Iyakah In? Kak Ditya malah tidak bicara apa-apa saat aku cerita, bahwa aku nawarin kamu untuk melamar di perusahaannya. Tadi pagi berangkat, juga ga bicara apapun. Syukurlah In, semoga bisa kecantol ya disana."
"Aamiin.., tapi aku sebel sama HRD nya. Masak dia nanya, aku ada hubungan apa dengan pak Dipta. Aku saja tidak tahu, mana lagi yang namanya Dipta. Suamimu kan namanya Ditya, bukan Dipta kan?"
"Ha..ha..ha.., Dipta itu asisten sekaligus Wakil CEO di perusahaan suamiku In. Masih jomblo dia kalau kamu tertarik padanya."
"Aku cari kerja tahu, bukan cari jodoh. Bilang Na..., sama suamimu. Tegur itu HRD yang sok-sokan itu. Udah gitu, selesai interview kasih card name lagi."
"Wow..., berarti si HRD Jomblo yang namanya pak Irwan itu tertarik sama kamu In. Sebenarnya dia itu baik sih, on the track. Mungkin kamu dipikir masuk karena katebelece, jadi dia agak judes-judes gimana gitu sama kamu."
"Iya juga sih.., tapi ya seharusnya tidak begitu juga kali. Mau aku tendang tadi sebenarnya dia, biar tahu sedang bermain sama siapa dia."
"Ha..ha..ha.., jangan berani main-main ya sama pemegang peringkat Dan IX, bisa gelangsar dia. Ha..ha .."
"Habisnya betul-betul nyebelin lihat laki-laki itu tersenyum sarkasme padaku, apa dia pikir aku tidak punya keahlian apapun berani masuk ke situ."
"Sabar ., sabar.. In. Jangan sampai berlaku pepatah orang jaman dulu. GETHING NYANDING..., terlalu benci, akhirnya kalian malah bersatu jadi pasangan."
"Hueks..., amit.., amit.., jangan berdoa kamu Na! Membayangkan dan mengingat ekspresinya tadi, aku bawaannya jadi pingin muntah tahu ga?"
"Enggak, kan aku tidak bisa lihat kamu saat ini. He..he..he.."
"Aaahh.. Naura kamu kenapa jadi ikut nyebelin sih? Bela aku dong, masak belain si HRD itu!"
"Iya..iya.., nanti kalau aku ketemu sama pak Irwan, aku bilangin deh. Pak Irwan.., tolong ya jangan berani-berani lagi gangguin Iin! Dia itu sahabat yang T O P B G T pokoknya, anaknya baik, dan masih jomblo juga. Persis dengan pak Irwan, boleh nih kalau mau dihalalin."
"Nauraaaa.."
__ADS_1
************