
Akhirnya akad nikah jadi dilaksanakan, Naura tersenyum pahit ketika orang tuanya pamitan dari KUA. Sedangkan Jessica marah pada adiknya karena mengikuti keinginan kedua orangtuanya, sehingga dia tidak datang pada acara pernikahan adiknya.
Dari awal Naura memang tidak berminat mengetahui siapa yang akan menikahinya, sehingga melihat Firmansyah teman mamanya yang pernah dia temui di Banaran Coffee, tidak menjadikannya terkejut. Setelah selesai akad nikah, dia juga mencium tangan suaminya.
"Pa, ma..., seperti yang pernah kita bicarakan di depan. Sekarang Naura langsung ikut dengan saya ke rumah, apakah perlengkapan dia sudah disiapkan?" tanya Firmansyah sambil tersenyum sinis pada Novi dan Samsuar.
Novi hanya menganggukkan kepala tidak menjawab pertanyaan dari Firmansyah. Dia hanya berharap, jika temannya itu tidak menyakiti hati putrinya. Samsuar mengeluarkan dua trolly bag dari bagasi mobil kemudian mengantarkan ke mobil yang dibawa Firmansyah.
"Naura berangkat ma, mama dan papa selalu jaga kesehatan ya." Naura berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Sayang..., nanti sering kunjungi mama dan papa ya. Jagalah sikap, patuhi suamimu ya sayang." ucap Samsuar menasehati Naura.
Naura menganggukkan kepala, kemudian Novi dan Samsuar memeluk erat putrinya. Naura kemudian mencium tangan orang tuanya, dengan tersenyum dia menghampiri suaminya yang sudah menunggunya di depan pintu mobil. Firmansyah langsung menggandeng tangan Naura dan membukakan pintu mobil untuknya. Naura menganggukkan kepala sebagai tanda hormat pada suaminya.
Di dalam mobil, Firmansyah bersikap acuh pada Naura Demikian juga Naura, dia malah pura-pura memejamkan matanya. Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai Firmansyah memasuki sebuah rumah yang termasuk cluster elite di daerah atas. Tampak penjaga rumah berlari menghampiri mereka, kemudian membawakan trolly bag yang dibawa Naura.
"Selamat siang Tuan, Nona." sapa ART perempuan di depan pintu masuk.
"Siapkan kamar tamu untuk dia Bi." Firmansyah memerintahkan pada ART itu, sambil menunjuk ke Naura. Kemudian dia langsung meninggalkan Naura di ruang tamu.
Naura diam, kemudian dia duduk si kursi tamu. Tidak berapa lama, ART wanita yang tadi diperintahkan Firmansyah menghampirinya.
"Kenalkan Non, nama saya Ijah. Non bisa memanggil saya Bi Ijah." wanita itu mengenalkan dirinya.
"Nama saya Naura Bi Ijah. Apakah kamar saya sudah siap?" Naura ganti mengenalkan dirinya pada Bibi Ijah.
"Sudah Non, mari Bibi antarkan ke kamar. Ujang, ayo tasnya non Naura dibawakan ke kamar."
Akhirnya Naura masuk ke kamar tamu dengan ditemani Bi Ijah sama Ujang.
"Saya tatakan pakaian Non ke lemari sekalian ya." Bi Ijah menawarkan diri untuk menatakan pakaian Naura.
__ADS_1
"Tidak perlu Bi, nanti Naura tata sendiri. Untuk mengisi kesibukan Bi. Kalau boleh saya ditinggalkan sendirian dulu ya, kebetulan saya mengantuk." kata Naura meminta Bi Ijah dan Ujang keluar. Dia merasa sesak di dadanya.
"Baik Non, Bibi keluar. Kalau ada apa-apa, Non panggil saya atau si Ujang ya Non. Ayo Ujang, keluar dari sini." Bibi Ijah langsung menarik tangan Ujang.
Setelah mereka berdua keluar, Naura menutup pintu kamar. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa dia sadari air matanya kembali mengalir. Rasa sakit dan kecewa sangat dia rasakan saat ini. Tatkala gadis-gadis seusianya masih bebas bermain dengan teman-temannya, dia sudah memiliki suami.
Tetapi kemudian Naura terbangun lagi, kemudian dia membuka trolly bag dan mulai menyusun perlengkapannya ke dalam lemari. Dia menaruh foto berempat dengan kakak dan kedua orang tuanya di atas meja. Lama dia memandang foto yang dia letakkan di atas meja tersebut, kemudian dia menciumnya.
"Semoga kalian semua bahagia." ucapnya mendoakan keluarganya.
*********************
"Tok..., tok...,tok.., Non, makan siang dulu Non. Ini sudah jam 14." Bi Ijah mengetuk pintu kamar tamu.
Naura membukakan pintu kamar, dan mendapati Bi Ijah sedang berdiri di depan pintu. Dia tersenyum memandang BI Ijah.
"Ada apa Bi. Naura baru menata perlengkapan ke lemari dan atas meja."
"Ini sudah siang. Non belum makan siang kan, Bibi sudah siapkan makan siang di meja makan. Ayo Non makan dulu."
"Jangan begitu Non. Mubadzir sudah Bibi siapkan dari tadi. Ayo, Bibi sama Ujang saja sudah makan dari tadi."
Karena Bibi Ijah memaksanya, akhirnya Naura mengikuti ke ruang makan.
"Saya makan sendiri ya Bi. Yang lainnya mana?" tanya Naura.
"Tuan Firmansyah sudah makan Non, dan sudah pergi. Mungkin berangkat kerja ke perusahaan, kami sudah makan dari tadi Non."
"Ya sudahlah, saya makan sendiri saja." sahut Naura sambil tersenyum kecut.
Akhirnya Naura menikmati makan siang sendiri. Bibi Ijah meninggalkan istri Tuannya sendiri di meja makan.
__ADS_1
"Pak Firmansyah apa sih maksudnya menikahiku. Diajak bicara atau gimana, malah dari tadi ditinggal sendiri, dan dicuekin lagi." Naura tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Tapi tidak apa-apa juga sih. Kan aku malah enak, tidak harus melayaninya."
"Terus ini perumahan jauh dari jalan besar lagi. Kalau berangkat kuliah, aku naik apa ya."
Naura makan sambil berpikir sendiri dari tadi. Tetapi dia tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Dia hanya membuat kesimpulan sendiri dari apa yang dia alami hari ini.
Setelah merasa kenyang, dia kemudian membereskan piring bekasnya makan, dan mencucinya di dapur. Kemudian dia berjalan mengitari rumah yang ditempatinya.
"Ternyata luas sekali rumah ini. Lengkap dengan kolam renang, ada kebunnya juga. Andaikan aku dibolehkan bawa teman-temanku kesini, pasti hidupku tidak terpenjara." batin Naura sambil tersenyum membayangkan teman-temannya.
Setelah dia memutari rumah, ternyata dia sampai di gerbang depan rumah. Melihat Naura berjalan sendirian, Ujang berlari menghampirinya.
"Non mau kemana, disini sepi Non." kata Ujang memberi tahu Naura.
"Tidak kemana-mana Jang, hanya jalan-jalan saja." sahut Naura sambil tersenyum.
"Kalau keluar dari sini, biasanya naik apa ya Jang?"
"Naik motor atau sepeda Non. Atau naik ojek online juga bisa. Soalnya sini wilayahnya agak tinggi Non, jadi tidak angkutan umum yang lewat sini."
"Oh gitu ya. Kamu sudah lama tinggal disini Jang?" tanya Naura pada Ujang.
"Sudah tiga tahun Non. Diajak sama Bi Ijah untuk kerja disini. Yah, biasa Non cari uang untuk bantu orang tua di kampung." kata Ujang sambil tersenyum kecut.
"Ada hubungan apa kamu dengan Bibi Ijah Jang? Masih ada hubungan saudara ya."
"Iya Non. Bi Ijah itu adiknya bapak saya dari Cirebon. Beliau ada kali 10 tahun ikut Tuan Firmansyah. Saat penjaga rumah ini, pulang ke kampungnya dan tidak boleh kembali sama anaknya, Bi Ijah minta saya untuk menggantikan."
"Oh begitu."
__ADS_1
Keduanya ngobrol sampai habis Ashar, dan setelah terdengar adzan, Naura kembali masuk ke dalam kamar.
****************