
"Om, barusan Edward dapat informasi jika Om barusan cerai dengan Naura. Benarkah informasi tersebut?" Edward mengajak bicara Firmansyah, saat ini mereka sedang melakukan sarapan bersama.
Firmansyah melihat pada keponakannya, kemudian kembali melanjutkan sarapan.
"Edward.., ada urusan orang tua yang tidak bisa kita bagi pada orang lain. Pahami Om, banyak kejadian dan masalah yang Om alami selama ini. Kenapa kamu juga tidak minta ijin, saat membuat kekacauan di rumah putra konglomerat itu? Dari awal memang keputusan Om menikah dengan Naura adalah sebuah kesalahan, hanya karena dendam dengan kedua orang tuanya, menjadikan Om mengambil keputusan nekad tersebut." Firmansyah berbicara sambil menghentikan makannya.
"Di awal memang Om berniat untuk menghancurkan Naura, tetapi melihat anak tersebut polos, baik, sopan pada siapapun, sisi hati Om tidak tega melihatnya. Dia tidak pernah menuntut apapun, bahkan memintapun juga tidak pernah dia lakukan. Om hanya melarangnya untuk menemui kedua orang tuanya sejak dari saat awal kita menikah. Itupun juga tidak pernah dilanggar oleh Naura." lanjutnya lagi.
"Om Firman kan tahu, jika Edward pernah meminta pada Om untuk melepaskannya, dan memberikan Naura pada Edward. Tetapi tidak pernah Om lakukan itu, dan sekarang dengan mudahnya Om melepaskan Naura untuk Aditya Herlambang. Edward kecewa Om."
"Edward., apakah kamu paham akan posisi kita. Siapa Naura, dia adalah istriku yang otomatis menjadi Tantemu. Beban berat apa yang akan disandang oleh Naura, olehmu di mata masyarakat jika sampai kamu dan Naura menjadi satu? Dan Naura itu bukan barang yang dengan mudah dilempar kesana kemari."
Edward mengangkat dua sudut bibirnya ke atas.
"Apakah Om sendiri juga tidak berpikir bagaimana pandangan masyarakat pada Om dan Naura, jika Om mengumumkan pernikahan kalian? Beban apa yang akan dipikul sendiri oleh Naura?"
"Saat ini Om lagi malas berdebat denganmu Edward. Terserah apa yang akan kamu lakukan." Firmansyah langsung berdiri meninggalkan Edward.
"Kemarin Edward memutuskan tetap tinggal disini karena ada Naura Om. Karena gadis itu, sudah tidak ada disini, kemungkinan besar Edward akan kembali ke luar negeri." mendengar perkataan Edward, Firmansyah berhenti sebentar dan setelah terdiam melanjutkan lagi langkahnya.
Selesai sarapan, Firmansyah langsung bergegas ke mobil, sedangkan Edward dengan malas langsung masuk ke dalam kamar. Dia merasakan sepi, sudah berhari-hari di rumah ini tidak ada bayangan gadis istri Om nya yang sangat dia sayangi. Apalagi setelah mendapatkan informasi, jika Om nya sudah resmi menceraikan Naura, dan gadis itu sangat sulit untuk dia kejar, Edward ingin segera meninggalkan kota ini.
Dia membuka galeri ponsel, dan tersenyum melihat koleksi foto yang ada di galerinya. Hampir semua foto Naura yang dia ambil secara candid terlihat tampak cantik dengan berbagai pakaian.
"Naura..." bisik Edward.
"Jika ada kesempatan untuk bertemu denganmu, aku akan membawamu lari." jari tangannya mengusap wajah Naura di ponsel yang sedang di pegangnya.
"Bibi.., Naura ijin boleh masuk kamar?" Edward seperti mendengar suara Naura, tetapi kemudian dia menepisnya.
"Sialan.., aku sampai paranoid denganmu Naura."
"Ya Tuhan Non Naura, akhirnya kembali juga. Bibi sangat senang sekali dapat bertemu Non lagi." tiba-tiba samar Edward juga mendengar Bi Ijah seperti bicara dengan Naura.
Sontak Edward langsung bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ruang keluarga. Dia seperti tidak percaya melihat Naura yang tampak lebih kurus dari terakhir Edward melihatnya. Di depan pintu, ada dua orang laki-laki kekar seperti pengawal yang mengawasi Naura.
__ADS_1
"Edward..," desis Naura saat melihat kedatangan mantan keponakan suaminya itu.
Edward berjalan menghampiri Naura yang berdiri di depannya, di bawah tatapan dua pengawal itu.
"Siapa Naura?" tanya Edward sambil menunjuk dua laki-laki itu.
"Orang-orangNya Ditya. Apakah Naura boleh masuk kamar, Naura akan membawa barang-barang pribadi Naura."
"Boleh donk, ayo aku temani Naura." Edward langsung menarik tangan gadis itu, tetapi dengan cepat Naura melepaskannya. Saat dua pengawal itu akan mengikuti Naura masuk kamar, Edward berteriak.
"Apakah Boss kalian mengijinkan, kalian akan masuk ke kamarnya?"
"Tapi kami diberi tugas untuk mengawasi Non Naura."
"Jadi sampai urusan pribadi, bossmu akan ikut campur, ke kamar mandipun kalian berdua juga akan mengikutinya? Lihat ke kamarnya, apakah ada pintu baginya untuk melarikan diri?"
"Sudah Edward, biarkan saja mereka semaunya." Naura berusaha menghentikan Naura.
Pengawal itu kemudian menengok ke dalam kamar Naura, kemudian memberi kode temannya. Setelah itu, mereka berdua kembali berdiri di depan pintu seperti awalnya.
"Duduklah disitu, Naura tidak akan bisa melarikan diri," kata Edward, dan untungnya Bi Ijah terlihat membawa nampan berisi minuman dan camilan kemudian meminta pengawal itu untuk meminumnya.
Edward memeluk erat tubuh Naura di dalam kamar, Naura berusaha mendorongnya tetapi dia kalah tenaga dengan keponakan mantan suaminya itu. Tidak lama kemudian Edward melepaskan pelukannya.
"Naura.., mumpung kamu disini, ayo pergi sama aku. Apakah kamu merasa nyaman dengan Ditya?" Edward mengajak pergi Naura.
"Aku seperti hidup dalam penjara Edward. Untung saja hari ini aku diijinkan keluar sama Edward, tetapi harus mau dikawal oleh dua orang itu."
"Sekarang menurutlah padaku Naura, aku akan membawamu kemanapun tempat yang kamu inginkan."
__ADS_1
Naura tersenyum tidak menanggapi ajakan Edward. Dia paham dengan kekuatan yang dimiliki keluarga Ditya, dan menuruti keinginannya mungkin saat ini adalah cara terbaik baginya.
"Edward.., maafkan Naura ya. Jika selama kita bergaul, mungkin aku banyak salah terhadapmu. Maafkan aku, hari ini aku pamit sama kalian, aku sudah tidak ada hak untuk berada di rumah ini lagi. Sampaikan pamit dan maafku untuk Om Firmansyah ya Edward!" kata Naura tiba-tiba.
"Naura, please." dengan tatapan memohon, Edward mengajak Naura untuk pergi.
"Aku tidak bisa Edward, maaafkan aku!"
"Kenapa? Apakah kamu sudah merasa silau dengan Ditya?"
"Sebegitunya kamu memandangku kali ini Edward. Kamu menyakitiku."
"Tok.., tok.., tok.." terdengar ketukan pintu kamar Naura.
"Masuk Jang!" Naura agak mengerenyitkan keningnya, karena Edward menebak jika Ujang yang mengetuk pintunya.
"Bagaimana kedua pengawal itu Jang?"
"Sudah beres Tuan, mungkin saat ini tepat untuk membawa Non Naura pergi."
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Naura pada Ujang dan Edward.
Tapi tiba-tiba, Edward menutupkan kain ke hidung Naura.
"Maafkan aku Naura, aku akan membawamu!"
Edward langsung mengangkat tubuh Naura dan membawanya keluar kamar dibantu Ujang. Ujang langsung membukakan pintu dan segera lari keluar untuk membukakan pintu mobil. Edward mendudukan Naura di kursi depan, sambil menidurkan kursinya dan memasangkan sabuk pengamannya.
"Ujang, terima kasih bantuanmua! Aku langsung pergi ya, lemparkan tubuh dua orang itu ke jurang depan sana!"
"Baik Tuan, Ujang pesan jangan sia-siakan Non Naura Tuan. Non orang yang baik, jaga Non ya Tuan!"
Setelah melambaikan tangan pada Ujang, Edward segera melarikan mobilnya. Dia membawa pergi Naura bersamanya.
__ADS_1