
Ditya terbangun di tengah malam, tiba-tiba dia merasakan ada tangan lembut yang melingkar tubuhnya. Dia membuka matanya dan menengok ke samping. Tampak wajah polos seorang gadis yang terlihat imut di.matanya. Tiba-tiba Ditya merasa, ada aliran darah yang mengalir deras ke seluruh badannya. Tubuh bagian bawah perutnya seperti melonjak ingin membebaskan diri.
"Ada dimana aku, kenapa di kamarku tiba-tiba ada seorang gadis disini. Apa Pradipta yang mengirimkan gadis ini kesini?" Ditya berpikir sendiri.
"Panas, kenapa tubuhku terasa panas." terdengar suara lembut keluar dari gadis yang masih memejamkan matanya.
Tangan mungil gadis itu langsung melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya.
Ditya terpana melihat betapa indahnya tubuh gadis itu. Pinggangnya ramping, kulitnya putih bersih, dan anggota tubuh bawah perut Ditya tambah bergejolak, saat melihat dua bukit kembar yang tampak kencang tersaji di hadapannya.
Ditya merasa nafasnya menjadi sesak, tanpa berkedip dan menghindar, dia mengamati tingkah gadis itu. Dengan hembusan nafas kasar, Ditya melihat tiba-tiba gadis itu sudah tidak mengenakan pakaian.
"Aku sepertinya pernah melihat gadis ini. Dimana aku ketemu dengannya?"
"Aah," tiba-tiba keluar **sahan dari mulut mungil gadis itu, yang terdengar sangat seksi di telinga Ditya.
Tanpa sadar Ditya menggeser tubuhnya mendekat ke arah gadis itu. Ditya heran dengan dirinya, yang selalu tidak tertarik dengan gadis manapun. Tetapi melihat gadis polos yang membuka semua pakaian di depannya, menjadikan hasrat kelelakiannya menjadi terbangun.
Gadis itu merasakan kenyamanan, saat kulitnya yang polos tidak tertutup sehelai benangpun, tersentuh dengan kulit polos Ditya. Dia membuka matanya, dan langsung mengangkat tubuhnya dan menjatuhkan di atas tubuh Ditya. Ditya terpana, tetapi gairah yang tiba-tiba muncul telah menguasainya. Tidak tahu siapa yang memulai terlebih dulu, dua bibir itu kemudian saling menyatu.
"Aah..," kembali terdengar suara ***ahan yang terlontar dari mulut gadis itu, yang menambah gairah pada Ditya.
Mereka berdua saling memagut, saling membelit. Bibir mereka saling menyatu dan terlepas saat mereka kehabisan nafas. Tanpa tahu siapa yang memulai mereka saling mengeksplorasi tubuh pasangan masing-masing.
Tangan Ditya sudah mulai memberikan **masan pada kedua bukit kembar itu, yang sangat pas berada di tangannya. Kemudian dia mengarahkan bibirnya untuk memberikan ******* di atasnya.
Tubuh gadis itu menggeliat hebat, seperti ingin minta untuk dipuaskan.
Seperti tidak memiliki rasa sabar, tangan gadis itu sudah memegang senjatanya dan mengarahkan untuk masuk ke bagian intinya.
"Apakah kamu yakin?" tanya Ditya dengan suara serak.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Tanpa mengulang pertanyaan, Ditya mencoba memasukkan senjatanya ke bagian inti gadis itu, tetapi dia merasa kesusahan.
__ADS_1
"****..., gadis ini ternyata masih virgin." Ditya mencoba menarik kembali senjatanya, tetapi gadis itu menjadi liar. Dia membalikkan tubuh Ditya dan langsung duduk di atasnya.
"Hai.., apakah kamu tidak akan menyesal?" kembali Ditya bertanya.
Tidak mendapatkan Jawaban, akhirnya Ditya membalikkan kembali tubuh gadis itu, kemudian dia mencoba memaksakan untuk memasukkan kembali senjatanya.
"Aduh." jerit gadis itu kesakitan. Air mata mengalir ke pipinya.
Ditya menghentikan sebentar, kemudian dia memberikan ciuman ke bibir gadis itu. Kemudian perlahan dia menggerakkan anggota badannya di bawah sana. Dia terus bergerak, tidak peduli dengan tangisan gadis itu. Dia sudah tidak bisa menahan lagi untuk membatalkan niatnya.
Akhirnya setelah beberapa lama, Ditya merasakan semburan kencang ke dalam rahim gadis itu. Dia tetap berada di atas tubuh gadis itu untuk beberapa saat, kemudian dia melepaskan bagian intinya, dan Ditya melihat ada darah yang menempel di atas bagian intinya.
***************************
Pukul 03 pagi Naura terbangun, dan dia kaget saat membuka matanya dia melihat seorang laki-laki sedang berada di sebelahnya. Laki-laki itu sedang tidur.sangat pulas. Dia mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Mata Naura meneteskan air mata, dan saat melihat dia dan laki-laki itu dalam keadaan tidak berpakaian.
Segera Naura bergegas bangun dan segera beranjak dari tempat tidur. Rasa perih dan sakit di bagian intinya tidak dia pedulikan. Dia menuju kamar mandi kemudian dengan bercucuran air mata, dia membersihkan tubuhnya. Dia menyabuni tubuhnya yang banyak terdapat stempel kepemilikan yang diberikan laki-laki itu padanya.
"Kenapa aku bisa berakhir di kamar ini?"
"Siapa yang menjebakku disini?"
Banyak pertanyaan yang mengalir di pikiran Naura saat ini. Tetapi dia sudah tidak mau berpikir lagi, pikirannya saat ini adalah dia harus segera pergi dari kamar itu.
**********************
Bunyi bel kamar membangunkan Ditya di pagi hari. Suara riuh di luar kamar, menjadikan Ditya langsung emosi.
"Sial, siapa lagi yang pagi-pagi begini sudah ribut di luar?"
Dia menengok ke sampingnya, dan dia tersenyum mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.
"Dimana gadis itu? Ah mungkin baru di kamar mandi."
__ADS_1
Dengan malas Ditya terbangun, kemudian berjalan menuju lemari.Dia mengambil kimono handuk dan mengenakan di tubuhnya. Dia berjalan ke pintu, dan membukanya. Melihat siapa yang membuka pintu, beberapa orang menjadi terkejut.
"Tuan Aditya, kenapa anda berada di kamar ini?" tanya Santi.
Dia mengajak Firmansyah dan beberapa security untuk melihat Naura yang sedang bersama dengan gigolo yang mereka sewa. Tetapi kenapa yang keluar malah putra dari pengusaha yang terkenal di negara ini.
"Harusnya aku yang bertanya, ada apa kalian pagi-pagi datang mengganggu tidurku?"
"Maafkan kami Tuan, mungkin kami keliru. Saya permisi."
Santi kemudian mengajak rombongannya berlalu dari situ. Dia tidak berani berurusan dengan laki-laki itu.
Ditya kemudian menutup pintu, kemudian dia berjalan ke kamar mandi. Dia mengetuk pintu tetapi dia tidak mendengar jawaban dari dalam. Dia mendorong pintu, dan tidak melihat siapapun yang berada di kamar mandi itu.
"Sialan, kemana Gadis itu?" Ditya kemudian duduk kembali di pinggir ranjang.
Dia mengelus tempat tidur yang bekas ditiduri Naura. Matanya terbelalak dan akhirnya dia tersenyum saat melihat bisa darah yang tertinggal di atas sprei yang berwarna putih itu.
"Gadis itu masih perawan. Aku harus mencarinya, aku harus bertanggung jawab padanya." gumam Ditya.
Dia merebahkan badannya di atasnya, dan sambil senyum-senyum dia membayangkan apa yang dia alami tadi malam.
"Pradipta, dia paling yang ngerjain aku."
Ditya mengambil ponsel yang dia letakkan semalam di atas nakas. Dahinya berkerenyit saat melihat ada kertas memo yang diletakkan di bawah ponselnya.
"Maaf. Lupakan yang terjadi semalam, itu kesalahan. Maaf." Ditya membaca pesan yang tertulis di dalam memo tersebut.
"Bagimu itu kesalahan, tapi kamu tidak tanya padaku, apa arti semalam itu."
Tidak menunggu lama, Ditya menghubungi Pradipta Lewat panggilan telepon, untuk segera datang ke kamarnya.
******************
__ADS_1