
Firmansyah sudah siap di meeting room perusahaannya, hari ini dia akan menemui orang yang sudah mengatur janji untuk bertemu dengannya hari ini. Semalam dia merasakan kegalauan yang teramat sangat, saat Naura ada di rumahnya, dia tidak pernah merasa seperti ini. Tetapi begitu mendapatkan informasi dari Edward, jika Naura pergi karena ditahan oleh putra konglomerat negeri ini, dia menjadi panik. Bayangan wajah istrinya selalu menghantuinya, kepolosan, dan senyumnya selalu menampakkan di depan matanya. Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa menyesal karena sudah memperlakukan Naura dengan tidak baik, meskipun Naura sendiri tidak pernah melakukan protes terhadapnya.
"Tuan Firman, tamu yang ditunggu sudah berada di lobby. Apakah diminta menunggu terlebih dulu, atau langsung saya persilakan masuk ke ruangan ini?" sekretarisnya tiba-tiba datang melapor jika tamu yang sudah mengatur janji
dengannya sudah datang.
"Langsung diminta masuk kesini!"
"Siap Tuan?"
Tidak berapa lama, Firmansyah melihat ada 3 orang memasuki meeting room perusahaannya, dan di luar meeting room terlihat 4 orang berdiri mengawal mereka. Dari perawakan badannya, mereka terlihat seperti pengawal yang ikut mendampingi Bossnya.
"Silakan duduk!" Firmansyah mempersilakan ketiga orang itu duduk, dan sekretarisnya langsung sigap menyiapkan minuman untuk mereka.
Setelah beberapa saat, Firmansyah mulai mengajak mereka untuk berbicara.
"Okay, sebelumnya selamat datang di perusahaan saya. Sebelum hari kemarin, saat ada yang menghubungi saya jika tim dari PT. Elang Jaya akan berkunjung kesini, saya sudah merasa bangga. Karena kami merasa akan mendapatkan tambahan satu mitra kerja yang cukup handal. Tetapi jujur, saat anda mungkin yang menelpon saya
kemarin, harapan langsung saya pupus semuanya."
"Untung pak Firmansyah adalah orang yang tidak suka berbasa-basi. Kenalkan saya adalah Aditya Herlambang Pangestu, dan di samping saya ini adalah pengacara yang saya yakin anda pasti sudah sangat familiar dengannya. Dan sebelah kiri saya, Pradipta dia adalah asisten pribadi saya."
"Yupz, terus apa tujuan Bapak-bapak kemari, dan saya masih memiliki etika. jadi anda tidak perlu membawa pengawal untuk masuk ke ruangan sini."
Aditya memberi isyarat pada pengacara, dan sebuah map berisi diberikannya pada Aditya.
"Pak Firmansyah, seperti yang sudah saya sampaikan kemarin secara baik-baik via panggilan telpon, dan juga langsung pada keponakan anda, Tolong tanda tangani surat-surat yang ada di dalam map ini."
Firmansyah kemudian mengambil map tersebut, kemudian membacanya. Mukanya langsung menghitam, sebagai tanda emosi tinggi sedang menghampirinya. Map itu berisi tuntutan cerai darinya untuk Naura.
"Shi*.., apa maksud anda, apakah kamu pikir, aku dan Naura itu menikah secara main-main?"
Aditya tersenyum mendengar pertanyaan Firmansyah, dia tidak bereaksi apapun tetap tenang memandang Firmansyah.
__ADS_1
"Kami menikah secara sah secara hukum dan agama. Tidak semudah itu, kalian semua tidak sopan datang ke kantorku untuk memisahkan aku dan istriku."
"Okay, Siregar.., ceritakan!"
Pengacara kemudai mengambil berkas yang lain, dan menunjukkan pada Firmansyah. Laki-laki itu kemudian mengambilnya, kemudian mukanya tampak pucat dan pias setelah membacanya sekilas. Daftar angka suapan yang dia keluarkan untuk pabean, pihak kepolisian beserta bukti-buktinya terpampang jelas di depannya.
"Darimana mereka bisa mendapatkan bukti-bukti ini?" Firmansyah dengan geram berpikir sendiri.
"Mungkin pak Firman juga perlu melihat map yang ini!" Pradipta ikut menyerahkan map.
Mukanya tambah pucat saat melihat fotonya dan Santi yang sedang bermesraan berdua, tercetak di depannya. Selain itu, beberapa bukti booking kamar hotel dan foto-foto Naura saat dijebak kekasihnya Santi, juga tertata rapi pada map yang diberikan Pradipta.
"Sialan, kalian semua telah berencana untuk menjebakku."
"He..he..he.., semua ini pantas untuk orang licik seperti anda. Untung Naura dipertemukan dengan saya, dan atas ulah licik kekasih anda, menjadikan Naura akan menjadi pendamping hidup saya."
"Dan kabar terakhir katanya dalam waktu cepat, perusahaan anda membutuhkan injeksi cash money ratusan milyar untuk melunasi hutang dagang, dan juga untuk kegiatan produksi. Karena perusahaan ini tidak hati-hati, sudah kena tipu dari calon investor dari Swedia."
"Tenanglah Tuan Firmansyah, kami kesini bukan tidak memiliki belas kasih pada perusahaan kalian. Aku akan melakukan investasi ke perusahaan ini, asalkan kamu menanda tangani surat tuntutan cerai untuk Naura. Dan bukti-bukti aksi gelapmu tidak akan aku blow up ke publik. Bagaimana Tuan Firmansyah?"
Firmansyah diam, dia duduk sambil memijat keningnya yang mendadak pusing. Dia saat ini merasa berada dalam kotak yang tidak bisa berkelit kemana-mana. Hanya dengan menanda tangani surat tuntutan cerai, maka semua permasalahan finansial yang sedang dia hadapi, akan hilang terlepas begitu saja.
"Maafkan kami Tuan Firmansyah, jika anda tidak mau bekerja sama dengan kami. Maka di media massa cetak dan elektronik berita perbuatan hitam anda akan tercetak disana. Dan aku pastikan, beberapa mitra kerjamu, besok siang mereka akan menghentikan perjanjian kerja sama dengan perusahaan ini. Waktuku tidak banyak, permisi!" dengan senyum sinis, Aditya berdiri diikuti Pradipta dan Siregar.
Saat mereka sudah sampai di pintu keluar, terdengar suara Firmansyah.
"Tunggu!"
Aditya dan orang-orangnya berhenti kemudian membalikkan badannya, mereka melihat ke arah laki-laki yang telah memaksa Naura untuk menikah dengannya itu.
"Apa jaminan yang aku dapatkan kalau aku menanda tangani surat tuntutan ini?"
"Apakah kamu meragukan aku pak Firman? Dengan nama besar kedua orang tua dan saudara-saudaraku, apakah kamu masih juga ragu pada diriku?" tersenyum smirk Aditya bertanya pada Firmansyah.
__ADS_1
"Tanda tangani dulu, aku akan tinggalkan Siregar dan pengawalku untuk mengatur semuanya!" kata Aditya sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Pradipta mengikuti di belakangnya, dan dua pengawal tinggal menemani Siregar, dan dua lainnya mengikuti kedua Boss PT. Elang Jaya keluar perusahaan.
*****************************************
Naura dengan pandangan kosong, membaca majalah yang dikirimkan ART untuk mengisi kesepiannya. Sudah tiga hari, tiga malam dia belum diijinkan keluar dari dalam kamar oleh Aditya. Laki-laki itu sepulang kantor akan selalu menemaninya di kamar. Dengan sabar, meskipun Naura tidak pernah mengajaknya berbicara, akan selalu bercerita tidak peduli apakah didengar atau tidak ceritanya.
Tetapi meskipun mereka berdua selalu berada di dalam kamar, Aditya tidak pernah melakukan perbuatan mesum kepadanya. Paling hanya memeluk, dan mencium Naura, tetapi tidak pernah meminta lebih dari itu. Naura juga diperbolehkan untuk menggunakan ponsel dan disediakan laptop untuk memantau dunia maya.
"Non Naura.., Bibi masak pisang goreng. Non mau kan, ini Bibi bawakan kesini." seorang ART membawa nampan yang berisi satu cawan pisang goreng dan segelas teh manis panas.
"Terima kasih Bi, untung ada Bibi yang selalu mengajakku bicara." sahut Naura dengan senyum kecut.
"Bibi sudah menyelesaikan semua kerjaan Non, dan sebelum berangkat Tuan Ditya juga berpesan, jika sudah selesai pekerjaan diminta menemani Non."
"Non Naura itu beruntung lho disukai oleh Tuan Ditya. Baru sekali ini Tuan membawa gadis datang kesini, biasanya Tuan akan menolak jika ada gadis yang mencarinya. Sampai Tuan dan Nyonya Besar pernah khawatir jika Tuan Ditya itu ada hubungan dengan Tuan Pradipta."
Mendengar perkataan Bibi itu, Naura tidak sadar dia tersenyum sedikit.
**********************************************
__ADS_1