PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pertengkaran


__ADS_3

Hampir empat jam dihabiskan Naura melakukan treatment ditemani Iin sahabatnya. Berkali-kali ingin balik ke kantor terlebih dahulu, karena merasa tidak enak dengan Pradipta. Sampai akhirnya Naura harus melakukan panggilan pada Pradipta langsung, dan baru Iin mau menemaninya sampai sore. Selesai melakukan treatment, Naura mengajak Iin melihat koleksi baju di salah satu merchant. Selama ini, Naura kebanyakan mengenakan pakaian dari keluaran butik, jarang memiliki koleksi baju yang dia pilih sendiri di merchant.


"Ke toko itu dulu ya In.., aku mau cari celana jeans. Sudah lama banget, aku ga pernah pakai celana itu lagi." ajak Naura.


"Yok.., di H & M atau mana??" tanya Iin.


"Lihat-lihat saja dulu. Ntar mana yang pas dan cocok, baru aku ambil." kata Naura sambil menarik tangan Iin menuju koleksi jeans type skinny yang ada di pojok ruangan.


"Mbak, bisa saya coba jeans yang ada di pojokan itu?" Naura menunjuk jeans dengan warna standar yaitu blue black. Dengan cekatan pramuniaga mengambilkan barang tersebut, dan setelah diberikan Naura minta untuk dicobanya. Untuk atasan, Naura minta diambilkan kemeja warna putih dengan model menggelembung di lengan bagian atas.


"Bagus kan In? Cocok ya untuk aku?" Naura menunjukkan barang yang dia beli pada Iin, dan sahabatnya itu langsung mengacungkan dua jempol.


"Aku akan mencobanya dulu. Kamu ga cari In?"


"Ga Na..., lagi malas. Aku tunggu kamu disini ya, biasa sambil chatting." sahut Iin yang lagi chatting dengan Pradipta, yang menanyakan posisi mereka saat ini ada dimana. Karena yang memiliki istri sudah seperti cacing kepanasan, menanyakan istrinya terus.


Naura meninggalkan Iin sendirian, kemudian dia langsung masuk ke kamar pas, dan setelah mencobanya ternyata pakaian yang dia pilih terlihat sangat cocok dengan kulitnya. Saat Naura memakainya, dia seperti anak usia SMA. Tidak mau capai lagi pilih-pilih, Naura langsung menitipkan pakaian yang sudah dia pilih pada pramuniaga. Kemudian dia melihat-lihat tas, tetapi merasa tidak ada yang cocok untuknya.


"Mbak mana pakaian pilihan saya, mau saya bayar??" tanya Naura pada pramuniaga yang tadi dia titip pakaian yang sudah dua coba.


Tetapi pramuniaga itu malah terlihat seperti ketakutan.., sambil menunjuk seorang cewek muda yang ditemani ibunya sedang membuka tas belanjaannya.


"Maafkan saya mbak, itu diambil sama mbaknya itu." ucap pramuniaga itu lirih.


"Tenang mbak, itu urusan saya." Naura merasa tenaganya kembali seperti saat dia masih menjadi mahasiswa semester awal, dia akan mengusik orang yang berani mengganggunya. Dia tersenyum kemudian menarik Iin yang masih main ponsel sambil duduk.

__ADS_1


"Ada apa Na, sudah selesai ya?" tanya Iin sambil mengikuti Naura. Iin heran kenapa Naura membawanya ke tempat dua orang berdiri sambil membawa tas belanja.


"Permisi mbak.., Bu.., ini tas belanja saya kenapa jadi dibawa anda berdua ya?" dengan sikap ramah, Naura melakukan konfirmasi.


"Apa kamu memanggilku, mbak..??? Kapan aku menikah dengan kakakmu, ada apa kamu mencariku??" dengan judes mbaknya bertanya pada mereka berdua.


"Mau mengambil tas belanjaan saya, kenapa kok bisa sama mbaknya. Itu kan barang dimana aku sudah mencobanya, dan langsung nitip sama pramuniaga untuk membawanya ke kasir." Naura masih berperilaku sopan.


"Belum kamu bayar kan??? Jika barang ini belum kamu bayar, semua pengunjung di merchant ini bebas dong untuk membelinya. Enak saja, baru juga mencobanya, sudah main klaim saja jika barang ini milikmu. Kamu pilih barang lain, ini jadi milikku." mbaknya tetap mempertahankan tas belanja itu.


"Eh.., jangan suka main serobot barang pilihan orang dong. Cantik, cantik itu mbok ya pakai etika sedikit gitu lho. Bisa-bisanya main ambil barang pilihan orang." Iin terpancing emosi ikut berkomentar.


"Kamu apanya dia?? Main ngomelin anak saya saja. Dasar kampungan." tiba-tiba wanita yang lebih tua ikut marah.


"Ini putra anda?? Yah, pantaslah. Like Girl like Momm." ucap Iin cepat. Naura langsung menarik Iin, memintanya untuk mengalah. Beberapa orang disitu ikut melihat mereka bertengkar sambil bisik-bisik.


"Itu pak..., amankan tukang serobot belanjaan orang!" Iin langsung mengadu.


"Jaga mulutmu gadis kampung, kamu saja yang asal nyolot!" teriak perempuan muda itu. Naura tampak senang melihat sahabatnya Iin berjuang untuk memperjuangkan haknya.


"Sudah.., sudah.., ayo kita selesaikan di pos penjagaan! Jangan mengganggu pelanggan lainnya." teriak security yang ikut pusing dengan pertengkaran itu.


"Siapa yang akan membawa istri saya?? Berani kamu menyentuh secuil kulitnya saja, aku akan ratakan merchant ini." Naura kaget, karena tiba-tiba terdengar suara suaminya disitu. Dia menoleh ke sumber suara, terlihat suaminya marah dengan ditemani Pradipta.


"Kak Ditya.." teriak cewek muda yang merebut tas belanjaan Naura tadi. Tetapi Ditya langsung merangkul Naura, dengan memandang security dengan emosi. Dia sama sekali tidak memperhatikan cewek muda tersebut.

__ADS_1


Melihat cewek muda itu sedang terpana melihat suami sahabatnya, Iin langsung merampas tas belanjaan Naura, dan membawanya langsung ke kasir.


"Ditya..., kamu lupa dengan Tante ya?? Tante ini temannya mama, dan ini Susan putri tante." wanita separuh baya itu mendekati mereka. Tetapi Ditya langsung melangkah ke kasir, sama sekali tidak menganggap wanita itu ada.


******************


"Kok kakak bisa sampai sini?? Maaf ya sudah buat keributan, jadi malu." ucap Naura.


"Ga pa pa.., kan jadi teringat waktu muda. Tidak suka ya kalau aku temani? Tadi telpon ke rumah, ternyata kamu belum pulang. Mumpung kerjaan di kantor sudah sepi, mending menyusul saja kesini." Ditya menjawab pertanyaan Naura.


"Hmm.., kok tiba-tiba jadi serak ya leherku." celetuk Pradipta yang langsung ditengok sama Ditya. Iin hanya diam tidak berani berbicara di hadapan kedua Boss besar tempat dia bekerja.


"Mau Naura pesanin air mineral pak Dipta?" tanya Naura.


"Naura..., bantu aku jaga image dong. Jangan panggil aku dengan pak.., berapa kali sih aku harus ingatkan kamu?" seru Pradipta.


"Terus Naura harus panggil dengan panggilan apa? Masa Kak.., sama dong dengan panggilan untuk suami Naura." sahut Naura bingung.


"Ganti juga panggilan untuk Ditya.., kan kalian sudah punya baby. Jadi Mommy Daddy atau papa mama.., panggilan kakak untukku."


Naura menoleh pada suaminya, Ditya tersenyum kemudian menganggukkan kepala.


"Tuh.., setuju kan suamimu. Pokoknya jika kamu besok telpon atau ketemu langsung panggil aku dengan sebutan pak, aku ga akan mau jawab."


"Iya kak Dipta.., nih Naura sudah mulai." ucap Naura sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iin kok jadi anteng, ga ada suaranya dari tadi. Ga usah sungkan, anggap saja mereka berdua ini tidak ada."


***********


__ADS_2