
Ditya tegang menunggui dokter memeriksa Naura di kamar, sambil memangku Ezaz. Tetapi dokter Wijaya, dokter keluarga Prasetyo Pangestu hanya senyum-senyum. Naura juga terlihat bingung melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh dokter tersebut, tetapi dia dia mengikuti proses.
"Untuk nafsu makannya gimana mbak Naura?" tanya dokter Wijaya.
"Sedikit berkurang dokter, ada beberapa makanan yang lidah saya seperti tidak mau menerima. Bawaannya eneg saja, padahal baru melihat belum menyentuhnya." Naura menceritakan apa yang dia alami akhir-akhir ini pada Dokter Wijaya, bahkan suaminya sendiri tidak dia beri tahu.
"Okay.., perut rasanya ada yang sakit tidak?" dokter merangkum hasil diagnosisnya.
"Kalau sakit sih tidak dokter, tetapi sering merasa begah. Terus kepala yang terkadang tidak mau bekerja sama, sering mengalami sedikit pusing, kemudian hilang lagi. Bawaanya pingin geletak saja di atas tempat tidur. Sebenarnya saya sakit apa dokter, kenapa bawaannya seperti itu? Apa saya terkena maag?" tanya Naura ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dokter Wijaya mengeluarkan tas tangannya, kemudian mengambil sebuah kotak kecil. Sambil tersenyum, dokter mengambil tiga buah test pack.
"Untuk sementara dulu, habis periksa silakan mbak Naura masukkan test pack di air seninya. Paling ampuh hasilnya sih sebenarnya pas bangun tidur. Makanya ini saya tinggalkan 3 buah, sesudah ini lakukan apa yang saya perintahkah! Jika belum kelihatan hasilnya, besok pagi sesudah bangun tidur bisa dilakukan pengecekan lagi dengan cara yang sama." dokter Wijaya memberikan test pack pada Naura.
Ditya membelalakkan mata, dia merasa tidak percaya. Dan dengan pandangan penuh tanya, dia melihat pada istrinya. Naura hanya mengangkat kedua pundaknya, juga tidak tahu dengan yang dimaksud Dokter Wijaya.
"Dokter.., apa yang kamu maksud? Apakah istriku Naura hamil?" tanya Ditya tidak sabar.
Dokter Wijaya hanya tersenyum, kemudian membereskan peralatannya.
"Semua yang disampaikan mbak Naura, menjadi salah satu indikasi terjadinya proses ngidam pada ibu hamil. Jika kurang percaya dengan hasil yang diperoleh, mungkin malam ini kalian bisa melakukan pengecekan ke laboratorium. Atau bisa pula datang ke tempat praktik saya." dokter Wijaya menjawab pertanyaan Ditya.
Mendengar jawaban dokter, Ditya menurunkan Ezaz dan mendudukannya di kursi. Dia kemudian menghampiri Naura.
"Mommy kuat berdiri tidak, jika kuat ayo Daddy antar ke kamar mandi sekarang? Mumpung Dokter Wijaya ada disini, kita coba gunakan test pack yang diberikan Dokter Wijaya." Ditya mengajak Naura untuk melakukan pengetesan saat ini juga.
"Ezaz sama dokter dulu ya, atau mau sama Bibi sebentar? Daddy mau menemani Mommy sebentar di kamar mandi." ucap Ditya pada Ezaz.
"Mommy ke kamar mandi sendiri saja. Daddy temani Ezaz sama Dokter Wijaya." Naura segera bangun, kemudian mengambil satu test pack dan melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
Setelah melakukan hal seperti yang dianjurkan Dokter Wijaya, Naura merasa shock. Dalam petunjuk, diminta menunggu beberapa menit untuk mengetahui hasilnya. Ternyata baru saja test pack dicelupkan, sudah muncul dua garis merah yang mengindikasikan jika Naura mengalami kehamilan. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, dia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya. Dia terduduk di kamar mandi untuk beberapa saat.
"Tok.., tok.., tok..," ketukan di pintu kamar mandi mengejutkan Naura. Dia langsung menghapus air matanya dan berdiri kembali, kemudian membuka pintu kamar mandi.
Ditya terkejut melihat mata sembab istrinya, dia langsung masuk ke kamar mandi.
"Kenapa Momm..., Mommy kenapa?" tanya Ditya dengan panik.
Naura menyerahkan hasil test pack pada suaminya, dan Ditya memandang tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dia langsung mengangkat Naura dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Dokter..., benarkah ini? Apakah istriku benar-benar hamil?" tanya Ditya pada Dokter Wijaya.
Melihat tanda dua strip merah di test pack yang dia berikan, dokter Wijaya tersenyum.
"Selamat mas Ditya.., mbak Naura, akan hadir seorang baby di rumah ini lagi. Untuk memastikan, kalian bisa datang ke tempat praktik saya atau ke laboratorium." kata dokter Wijaya mengucapkan selamat pada mereka berdua.
Dengan air mata menggenang di pelupuk matanya, Ditya menciumi istrinya di depan dokter Wijaya tanpa sedikitpun merasa malu.
*************
Berita tentang kehamilan Naura dengan cepat sampai ke keluarga Prasetyo Pangestu. Pagi harinya, apartemen Ditya sudah mendapatkan kunjungan dari anggota keluarganya.
"Selamat menantuku.., kamu selalu menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga kita!" Prasetyo Pangestu memberikan ucapan selamat pada Naura sambil memeluk tubuh menantunya itu.
Marina dengan berlinangan air mata, juga memeluk menantunya itu dengan penuh kasih sayang. Dia merasa di awal pernikahan sudah meragukan gadis itu, tetapi saat ini dia merasa bersyukur atas menikahnya Ditya dengan Naura. Menantunya itu memberikan banyak gelombang emosional pada keluarganya, dan betapa mereka merindukannya saat Naura hilang selama 3 bulan. Disitu, Marina bisa melihat bagaimana perasaan Ditya yang besar untuk Naura.
__ADS_1
"Terima kasih ma.., pa.., do.akan kandungan Naura sehat. Dan adiknya Ezaz bisa terlahir di dunia dalam keadaan sehat." ucap Naura terharu dengan ucapa kedua mertuanya itu.
"Kakak ipar..., selamat.., selamat. Ponakan aunty akan lahir lagi ke dunia ini. Do,akan Claudia juga kak Naura, biar cepat-cepat dapat momongan seperti kakak." Claudia memeluk dan mengucapkan selamat pada kakak iparnya.
"Iya.., iya.., semoga apa yang sudah dibuat tadi malam langsung berhasil dan gol." ucap Naura tulus.
"Masih utuh Naura.., hiks.. hiks.., memang nasibku apes." sahut Pradipta yang berdiri di belakang Claudia.
"Maksudnya?" tanya Naura bingung.
"Tamu bulanannya datang, jadi masih utuh dia belum tersentuh." sahut Pradipta.
"Ha.., ha.., ha.., pas, dan cocok sekali Dipt." ucap Ditya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Awas ya kamu Dity.., dibelain, dibantuin semuanya. Ada sahabat sengsara malah tertawa." Pradipta pura-pura ngambek.
"Eits.., kuwalat kamu Dipt. Call me.. brother in law.. okay!" seru Ditya sambil tertawa.
Naura hanya menggelengkan kepala melihat dua orang sahabat itu saling berdebat.
"Makan pagi dulu yukkk..., ini mama bawa sop burung walet! Bagus untuk perkembangan janin, dan pertumbuhan Ezaz." Marina mengajak mereka untuk menikmati sarapan pagi.
Pelayan segera menata barang bawaan Marina dan Claudia di atas meja makan. Ditya dengan penuh kehati-hatian menuntun Naura ke meja makan. Sebenarnya Naura menolak perlakuan dari suaminya, tetapi Ditya tidak pernah mau menerima penolakan.
"Ini untuk Mommy hamil, dan ini untuk cucu Oma tersayang." kata Marina sambil menuangkan sop di kedua mangkok. Satu mangkok dia letakkan di depan Naura, dan satunya di depan Ezaz.
"Terima kasih Ma, Naura bisa ambil sendiri." kata Naura merasa malu dilayani oleh mama mertuanya.
"Sudah biarkan saja mamamu begitu Naura. Itu menunjukkan perhatiannya pada menantunya." ucap Prasetyo Pangestu. Dia merasakan kebahagiaan seutuhnya, keluarganya merasa bersatu dalam kesenangan.
__ADS_1
******************