
Pradipta segera menuju ke ruang makan, disana ada Prasetyo Pangestu dan Marina yang sedang melakukan sarapan pagi.
"Selamat pagi Om.., Tante..." Pradipta mengucapkan salam kemudian menjabat tangan dan mencium tangan Prasetyo Pangestu dan Marina.
"Kamu disini, datang jam berapa?" tanya Prasetyo Pangestu, sambil melanjutkan sarapannya.
"Pas shubuh tadi sampai di halaman Om, langsung tidur terus barusan bangun." jawab Pradipta sambil duduk di kursi.
"Tuan Pradipta mau minum apa, biar Bibi siapkan?" pelayan rumah menawarkan minuman untuk Pradipta.
"Kopi hitam saja Bi. Excelso ya."
"Baik Tuan." bibi segera meninggalkan ruang makan.
"Ditya mana Dipt? Apakah masih tidur di kamar?" tanya Marina.
"Ditya tidak saya ajak Tante. Karena saya ada perlu dengan Om Prasetyo terkait Naura, jadi sengaja saya belum mau libatkan Ditya. Emosi Ditya sampai sekarang un stabil, sampai pengawal kewalahan mengawasinya." Dipta menjawab pertanyaan Marina.
Mendengar jawaban Pradipta, Marina terdiam. Dia merasa bersalah karena Naura dan Ezaz hilang saat bepergian bersamanya.
"Makanlah dulu.., Om tunggu di ruang kerja. Om juga tidak ada agenda penting pagi ini di kantor." Prasetyo kemudian menyelesaikan makannya. Kemudian mengambil tissue untuk membersihkan mulutnya.
"Baik Om." Pradipta kemudian segera menyelesaikan makannya.
"Om duluan.., selesaikan dulu makanmu!" Prasetyo Pangestu berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan diikuti Marina di belakangnya.
Setelah minum air putih, Pradipta segera berdiri untuk menuju ruang kerja Prasetyo Pangestu. Tiba-tiba Claudia datang mau sarapan pagi.
"Lhah... kok sudah pada sepi?? Pada kemana ini?" protes Claudia.
"Sudah makan sendiri dulu cantik. Kalau kak Dipta ga ada urusan, kakak temani deh. Tapi sayangnya, kakak baru ada urusan dengan Om Prasetyo." goda Pradipta sambil berjalan meninggalkanku Claudia sendiri.
"Ga usah bilang kalo cuman kayak gitu aja." sungut Claudia.
__ADS_1
"Sekalian minta tolong Claudia, jika bibi datang bawa kopi untuk kakak, minta untuk diantar ke ruang kerja Om Prasetyo ya!" Pradipta menambahkan pesan untuk Claudia.
"Yaaaaa..., apalagi pesannya?" teriak Claudia. Sambil tertawa, Pradipta segera meninggalkan Claudia.
Sesampainya di depan ruang kerja, Pradipta mengetuk pintu tiga kali, kemudian mendorongnya ke dalam. Di dalam ruangan kerja, Prasetyo Pangestu sudah menunggu Pradipta sendirian. Tidak ada Marina disitu.
"Duduklah Dipt!" Prasetyo Pangestu mempersilakan Pradipta duduk.
Pradipta segera duduk di sofa, mengambil posisi depan Prasetyo. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
"Tok.., tok.., tokk." ternyata Claudia masuk sambil membawa nampan berisi cangkir kopi untuk Pradipta dan satu piring berisi sandwich.
"Kok bukan Bibi yang antarkan?" tanya Pradipta sambil tersenyum.
"Sekalian Claudia mau gabung disini. Malas.. makan sendirian ga ada teman. Boleh ya pa?" Claudia langsung ijin pada papanya.
"Yah.., tapi diam. No comment.., dan jaga Rahasia. Termasuk mamamu jangan dikasih tahu." Prasetyo menyampaikan pesan.
Pradipta mengambil cangkir kopi yang dibawakan Claudia, kemudian menyesapnya sedikit dan meletakkan kembali cangkir di atas meja.
"Gimana Dipt.., ada kabar apa?" tanya Prasetyo Pangestu.
Pradipta kemudian menceritakan tentang adanya kiriman chat dari Tamarama, Sydney yang hanya berisi share location. Prasetyo Pangestu tampak berpikir sebentar, setelah mengamati lokasi tersebut.
Setelah diam beberapa saat, laki-laki paruh baya itu mengambil nafas panjang.
"Aneh juga sih. Tapi alamat lokasi tersebut tidak jauh dari mansion kita yang ada di kota itu. Mudah untuk menyelidikinya, tinggal kita atur bagaimana cara kita untuk mencari tahu ada apa disana." kata Prasetyo.
"Atau gimana kalau saya sama Ditya ke Tamarama Om, tetapi kita butuh support orang-orang juga disana. Karena kekhawatiran saya, jika memang Naura benar-benar ada disana, dan itu karena ulah Edward, berarti kita akan kalah sumberdaya. Apalagi untuk wilayah geografis disana, jelas kita kalah banyak jika dibandingkan anak itu." Pradipta menyampaikan pendapatnya.
"Untuk masalah koneksi, nanti aku bisa mengaturnya. Cuman karena kita tidak berada di negara sendiri kita memang harus lebih berhati-hati, karena sistem hukum kita dan Australia juga berbeda."
"Ya Om..., kita juga tidak mungkin asal main rangsek ke rumah itu. Pakai strategi, jadi mungkin agak lama kita nanti melakukan penyelidikan." sambil berbicara, Pradipta menoleh ke sampingnya, karena Claudia yang barusan makan Sandwich sambil mendengarkan musik, tiba-tiba sudah menyandarkan kepalanya di bahu kanan.
__ADS_1
Prasetyo Pangestu tersenyum melihat tingkah putrinya. Tetapi karena sudah mengenal baik dengan Pradipta dan keluarganya, laki-laki paruh baya mendiamkannya.
"Anak itu paling begadang semalaman. Jam 12.00 sepertinya dia baru masuk rumah. Biarkan dia tidur sebentar." ucap Prasetyo.
"Ya sudah..., kamu atur saja kapan berangkat. Siang ini siapkan passportmu dan punya Ditya. Nanti Om kirimkan petugas imigrasi untuk membuatkan visa tinggal di Sydney untuk 2 bulan." lanjut Prasetyo Pangestu sambil berdiri.
"Siap Om." jawab Pradipta cepat.
"Om berangkat dulu, istirahatlah dulu. Biarkan urusan perusahaan pada Ditya. Anak itu harus belajar mandiri." kata Prasetyo Pangestu sambil meninggalkan ruang kerja, kemudian menutup pintu dari luar.
Tinggallah Pradipta dan Claudia yang dalam keadaan tidur di ruangan tersebut. Pradipta sedikit menggeser kepala gadis itu, tetapi malah kembali mencari sandaran untuk kepalanya. Karena tidak tega, perlahan tangan Pradipta mengangkat kepala Claudia dan meletakkan di atas pangkuannya.
"Wah berapa lama gadis ini akan tidur disini?" gumam Pradipta, sambil melihat gadis cantik yang tampak nyaman berada di pangkuannya itu.
Dengan mata terpejam, wajah Claudia terlihat lebih cantik. Bibir merahnya tanpa lipstik tampak menguji untuk mencoba kekenyalannya.
"Sialan..., kenapa malah pikiranku kemana-mana." ucap Pradipta lirih. Akhirnya untuk menghilangkan pikiran negatif yang melintas di kepalanya, laki-laki muda itu ikut memejamkan matanya.
Beberapa saat tertidur, Pradipta terbangun karena merasakan pelukan erat di pinggangnya. Bagian bawah perutnya tiba-tiba terasa sesak, karena ada yang terbangun di bawah sana. Gerakan dan gesekan yang dilakukan Claudia tanpa sengaja, telah memberikan sentuhan erotis yang membuat nafas Pradipta menjadi sesak.
Laki-laki muda itu membuka matanya dan melihat ke bawah, dia melihat Claudia yang semula tidur menengadahkan wajahnya menjadi menempelkan wajahnya di perut Pradipta. Headset yang tadi menghiasi telinganya sudah terlepas dan diletakkan di atas meja.
"Berarti Claudia tadi sudah bangun, tetapi kenapa dia tidak pindah dari posisinya?" Pradipta bertanya pada dirinya sendiri.
"Atau sebenarnya gadis ini juga ada rasa denganku ya, tapi karena melihat kedekatan ku dengan keluarga ini, dia jadi menjaga perasaannya."
Tangan Pradipta memegang wajah Claudia, kemudian menengadahkan wajahnya. Melihat bibirnya yang merah ranum menggoda, tanpa sadar laki-laki muda itu menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Claudia. Tanpa diduga Pradipta, ternyata Claudia merespon balik dan membuka bibirnya. Pagutan demi pagutan tereksplorasi antara dua orang beda jenis itu tanpa ikatan apapun.
"Aaahh.. hmmpfft," terlolos lenguhan dari bibir Claudia. Karena hampir kehabisan nafas, Pradipta melepaskan bibir gadis itu. Dengan muka merah, Claudia membalikkan mukanya.
"Maafkan kakak sayang.." ucap Pradipta lirih.
********
__ADS_1