PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Sarapan Pagi


__ADS_3

Pagi hari Naura sudah berada di dapur, membantu ART mempersiapkan sarapan pagi. Naura memang lebih suka memasak sarapannya sendiri dengan menu tradisional, daripada masakan yang disiapkan di keluarga ini, yang sangat jauh dari nuansa tradisional. ART lebih suka menyediakan masakan *Chinesse Food *dan western food. Sedangkan Ditya masih tertidur kelelahan di dalam kamarnya, karena semalam dia tidur agak malam karena masih berbincang dengan papanya.


"Non Naura mau masak apa untuk sarapan pagi ini Non? Biar Bibi bantu siapkan bumbunya" tanya ART.


"Tidak usah Bi. Bibi sama yang lain segera menyiapkan main menu saja untuk semua keluarga. Naura sudah terbiasa kok, masak menu rumahan." dengan sigap Naura mengambil bawang merah, putih, laos dan daun salam. Kemudian dengan cepat dia mengirisnya.


"Bibi ada petai sama rese tidak? Kalau ada, Naura mau untuk bumbu sayur yang Naura buat."


"Ini Non, kemarin Bibi kebetulan beli, karena rencana mau Bibi pakai lalap sama sambal terasi."


ART lainnya hanya melihat menu masakan yang disiapkan gadis itu, ternyata Naura memasak sayur lodeh, membuat ikan goreng dan tempe goreng. Sambal terasi ikut dibuat gadis itu, dan setelah semuanya siap, Naura menyajikan dalam meja makan. Dia menunggu semua anggota rumah siap sarapan dulu.


"Naura membangunkan kak Ditya dulu ya Bi, mau ke kamar!"


"Iya Non."


Baru berjalan keluar dari dapur, Naura berpapasan dengan Claudia yang masih mengenakan piyama.


"Mau kemana Claudia?" sapa Naura ramah.


"Mau minta dibuatkan kopi panas kak. Kakak sendiri dari mana, kok dari arah dapur?"


"Biasa Claudi, kakak menyiapkan menu sarapan untuk kakak sendiri. Biasa menu rumahan, agak kurang cocok dengan Chinesse food."


"Wah Claudi bisa ikut mencicipi nanti masakan kakak ipar, kebetulan hari ini baru pingin makanan yang lain."


"Silakan, kalau Claudi mau makanan orang desa. Kakak ke kamar dulu ya, mau bangunin kak Ditya."


"Ehm..., berapa ronde nih tadi malam? Sampai kecapaian kak Ditya, jam segini sampai belum bangun juga." kata Claudia sambil terkikik.


"Ah, kamu bisa saja Claudi." Naura langsung meninggalkan Claudia sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Naura masih melihat suaminya masih bergelung dengan selimutnya. Dia segera menghampiri Ditya, dan duduk di tepi ranjang.


"Kak.., kak Ditya, bangun yukk! Udah jam 7 lewat, Naura keburu lapar nih. Masak Naura sarapan pagi sendiri." panggil Naura pelan.


Mendengar panggilan Naura, sebenarnya Ditya sudah terbangun, tetapi muncul keisengan untuk mengerjain istrinya itu. Dia tetap memejamkan matanya, dan mengatur nafasnya teratur  seperti orang yang benar-benar tidur pulas. Naura bingung bagaimana membangunkan suaminya, karena meskipun sudah dua minggu mereka tinggal bersama, tetapi Naura belum pernah memiliki inisiatif untuk memegang suaminya.


"Kak.., kak Ditya, bangun dong! Mau berangkat kerja tidak?" kembali Naura mencoba membangunkan Ditya.


Karena tidak ada tanda pergerakan dari suaminya, Naura memegang bahu Ditya, dan mengguncang bahunya pelan. Melihat istrinya yang berani memegangnya, Ditya langsung menarik istrinya, dan tubuh Naura jadi jatuh menimpa tubuhnya. Dengan cepat, Ditya langsung menempelkan bibirnya di bibir Naura, dan langsung meluma* dengan lembut. Ciuman pagi itu berlangsung sangat lama, Ditya melepaskan sebentar untuk mengambil nafas, tetapi kemudian kembali meluma*nya.


Ketika tangan Ditya  sudah mulai bergerilya untuk memegang dadanya, dengan cepat Naura menolaknya. Tetapi tangan nakal itu sudah memainkan daging kenyal kembar dari balik baju yang dikenakan istrinya.


"Kak Ditya curang, kak....stop! Apakah kakak tidak berpikir kalau tindakan kakak bisa menyakiti anak kita." mendengar ucapan Naura, Ditya menatap mata Naura.


"Morning kiss sayang. Kita harus membiasakannya mulai saat ini, kan kita sudah suami istri tidak ada yang melarang sayang." bisik Ditya.


"A..ah.., kak Ditya..., hentikan dong! A.ah." Naura yang sangat sensitif dengan sentuhan lembut Ditya, tanpa sadar mengeluarkan desa*an manja yang terdengar indah di telinga Ditya.


"Sudah yuk kak, Naura lapar." ajak Naura.


"Okelah, tapi kiss morning dulu ya, baru kakak bangun."


"Kan barusan sudah, lama banget lagi." protes Naura.


"Aku mau, inisiatif kiss morning dari istri tercintaku. Kalau tidak ada, mulai besok pagi, kakak tidak mau bangun."


Akhirnya Naura memberanikan diri memberikan kecupan di kening suaminya, Ditya tertawa kecil. Dia mengira istrinya akan mencium bibirnya, tetapi ternyata hanya di keningnya. Tetapi hal kecil yang diberikan Naura pagi ini, baginya serasa mendapat anugerah.


******************************


"Wow..., ada sayur kampung ini?" kata Prasetyo melihat ada sayur lodeh dipadu dengan ikan goreng, tempe dan sambal terasi. Dia langsung bersemangat mengambil nasi di piringnya, kemudian menggunakan masakan Naura untuk lauknya.

__ADS_1


"Papa makan sama apa itu?" penasaran Marina, mencicip masakan Naura dari piring suaminya.


"Enak pa ternyata, mama juga pakai sayur ini saja deh lauknya."


"Kita tidak menunggu kak Ditya sama kak Naura pa makannya?" tanya Claudia.


"Sudah, biarkan pengantin baru menikmati masa bulan madunya. Kita tunggu, bisa-bisa nanti siang baru bangun mereka." kata Prasetyo langsung menyuapkan nasi ke mulutnya.


Melihat kedua orang tuanya tampak menikmati masakan tradisional itu, Claudia ikut mencicipinya. Bibirnya tersenyum, dan langsung sayur sisa di panci kecil langsung dia tuangkan di atas piringnya.


"Biii........, sini!" teriak Marina memanggil ART.


"Iya Nyonya, ada yang bisa bibi siapkan Nyonya?" tergopoh-gopoh Bibi yang tugasnya menyiapkan menu masakan di rumah ini, datang dari arah dapur.


"Ambilkan lagi sayuran yang ini!" kata Marina sambil menunjuk mangkok kosong yang jadi tempat sayur lodeh.


"Aduh.., gimana ya Nyonya, Bibi ngomongnya?" tampak kekhawatiran di muka Bibi melihat mangkok sayur lodeh, dan lauk gorengan Naura tinggal mangkok dan piring kosong.


"Maksudmu apa Bi, kan tinggal ambil sisa masakanmu tadi di dapur. Malah bertanya cara ngomongnya." semprot Marina.


"Tapi sebenarnya, masakan di mangkok sama piring saji ini masakan Non Naura. Non kurang suka dengan masakan Bibi, makanya Non setiap pagi menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Tuan Ditya." ucap Bibi perlahan.


"Ha..ha..ha.., makanya baru kali ini aku disini, kamu masak ini Bi. Tapi enak, ternyata menantuku pintar memasak juga. Bisa tambah gemuk ini, kalau aku disini satu minggu." Prasetyo tertawa dan memuji Naura.


"Selamat pagi pa, ma, Claudia. Maaf kami terlambat datang ke meja makan." tiba-tiba Ditya dan Naura sudah sampai di meja makan, dan Naura langsung menyapa mereka.


"Naura, Ditya.., maafkan papa ya! Menu sarapan pagi Naura, sudah kami makan duluan. Sekarang habis deh." Prasetyo langsung memberi tahu mereka jika masakan Naura sudah habis.


"Oh papa juga mau ya masakan desa? Tidak apa-apa pa, nanti kapan-kapan Naura bisa masak lagi." sahut Naura. yang merasa senang karena ternyata keluarga Ditya doyan makanan orang desa.


Marina yang merasa malu, diam tidak berbicara sambil melanjutkan sarapan paginya.

__ADS_1


**************************


__ADS_2