PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Pendampingku di Masa Depan


__ADS_3

Ditya meminta ART perempuan untuk mengganti baju Naura, dan saat berganti baju, DItya keluar dari kamar. Meskipun mereka berdua sudah pernah tidur berdua, tetapi Ditya tetap menghargai Naura sebagai seorang wanita. Saat dia menunggu ART keluar, Dipta menghampirinya. Dia melempar print out ke meja depan sahabatnya, dan DItya mengambilnya. Terbelalak mata Ditya membaca informasi yang tertulis dalam kertas HVS tersebut, dimana dalam kertas tersebut tertulis status Naura sudah menikah, dan tanggal pernikahannya sudah hampir 3 tahun berlangsung.


"Lepaskan Naura Dity, kamu keliru. Dia istri orang, pemilik perusahaan di dekat pelabuhan." Pradipta mencoba mempengaruhi sahabatnya itu untuk melepaskan Naura.


"Shi*, diam kamu Dipta. Aku yang merasakannya, Naura masih virgin saat dia melakukannya denganku di malam itu. Jadi, tidak salah kan aku membawanya pergi dari suaminya yang tidak bisa melakukan apa-apa?"


Ditya tetap keukeuh dengan keinginannya, dan dia melakukan make out dengan Naura baru satu mingguan yang lalu. Jika Naura benar sudah menikah hampir 3 tahun, berarti pernikahannya akan seperti neraka bagi Naura. Informasi yang tertulis, Naura menikah pada saat usianya baru 18 tahun, berarti sekarang usianya 21 tahun.


"Dipta.., cari informasi tentang Firmansyah. Termasuk posisi keuangan perusahaan, kelemahan dan kekuatan perusahaanany juga. Aku akan mendatanginya, dan akan meminta secara gentle Naura untukku."


"Ditya..., sadarlah. Apakah kamu akan siap dengan resiko, ya jika laki-laki itu menyerahkan Naura padamu. Jika tidak, apa yang akan kamu lakukan."


"Aku yakin, dia akan menyerahkan Naura untukku. Jika dia bersikeras mempertahankan gadis itu, aku akan membuat perhitungan dengannya."


"Tapi bagaimana dengan perasaan Naura? Apakah kamu akan mengabaikannya, dia wanita baik-baik Ditya. Sadarlah, paling tidak ingatlah nama baik Om dan Tante?" Pradipta tetap berusaha untuk meluluhkan hati Ditya. Tetapi sedari dulu, mungkin karena dari kecil dia menempuh pendidikan di luar negeri, Ditya terbiasa hidup mandiri.


"Dipta, ingat posisimu. Berapa lama kamu mengenal Naura, bandingkan dengan berapa lama kamu mengenal aku. Kamu berpikir bagaimana perasaan gadis itu, tetapi sedikitpun kamu tidak bertanya bagaimana perasaanku. Apakah, jangan-jangan, kamu sendiri ada rasa dengan Naura?" seru Ditya dengan nada tinggi.


Melihat sahabatnya sudah dalam mode tinggi, saatnya Pradipta untuk mengalah. Meskipun yang dikatakan Ditya jika dia memiliki rasa tertarik pada Naura itu benar, tetapi melihat status Naura yang sudah memiliki suami, mending dia mengundurkan diri.


"Baik Dity, aku akan segera mendapatkan informasi tentang Firmansyah dan perusahaannya. Aku mau tidur dulu." Pradipta tidak mau ribut lagi, akhirnya dia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ditya tidak menjawab, dan dia menengok ke kamarnya. Melihat ART tidak keluar-keluar dari kamarnya, dengan emosi Ditya masuk ke dalam kamar. Dia melihat Naura menangis di pelukan ART, dan begitu para ART melihat kedatangan Ditya kemudian mereka pamit untuk segera keluar dari kamar majikannya. Ditya duduk di sofa, dia melirik ke arah Naura, ternyata gadis itu sudah berganti dengan pakaian tidur.

__ADS_1


"Kamu sudah membersihkan diri? Sekarang makanlah, kamu makan terakhir tadi siang kan?" dengan suara lembut Ditya menyuruh Naura makan.


"Naura mau pulang, Naura tidak mau membuat bingung orang rumah karena mencari Naura. Pak Ditya.., tolong pak, lepaskan Naura!" Naura kembali menangis memohon pada laki-laki itu untuk melepaskannya.


"Naura..., kamu bisa diam tidak. Hentikan tangisanmu, aku akan membuatmu menjadi istriku secepatnya. Sekarang kamu makan, atau aku akan memaksamu melakukan lagi seperti yang kita lakukan malam itu, di hotel **maya Tower." terdengar nada ancaman dari Ditya.


"Pak Ditya, Naura sudah menikah. Pak DItya bisa memilih gadis lain untuk diajak menikah, jangan Naura pak!" Naura memohon pada Ditya.


Ditya berjalan kemudian duduk di atas ranjang, kemudian dia menyiapkan nasi  beserta lauk di atas piring.


"Apa kamu minta aku suapi Naura? Jika tidak bangunlah, temani aku makan malam. Aku lapar."


Mendengar perkataan Ditya, Naura langsung duduk dan akan mengambil piring. Tetapi dengan sigap Ditya menahan tangannya, akhirnya Naura menerima piring dari laki-laki itu. Setelah makan, Naura akan mengajak Ditya berbicara dengan kepala dingin. Mereka berdua makan dalam diam di atas ranjang. Ditya diam-diam melirik ke arah gadis itu, sambil tersenyum dia makan dengan lahap.


**************************************************


"Pak DItya, bolehkan Naura bicara?" tanya Naura tiba-tiba. Ditya menoleh ke arah gadis itu, kemudian menatap matanya dan menganggukkan kepala.


"Pak, Naura ini orang keturunan Jawa. Kami punya adat istiadat, tata krama, dan sopan santun. Naura pikir, apa yang Bapak lakukan pada Naura malam ini keliru pak."


Ditya meraih tangan Naura, dan gadis itu mencoba untuk menepisnya. Tetapi dengan erat, Ditya tetap menggenggamnya, kemudian mengangkatnya dan mencium tangan Naura. Jantung Naura berdegup kencang, karena baru pertama kali dia mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang laki-laki. Tetapi dengan cepat, Naura berusaha menguasai dirinya kembali.


"Panggil aku dengan namaku langsung, atau panggil aku dengan sebutan kakak. Jangan panggil aku dengan sebutan Bapak!"

__ADS_1


"Iya kak, apakah kakak mendengar apa yang barusan Naura katakan?"


"Aku mendengarnya Naura, dan aku akan memastikan kamu akan menjadi pendampingku selamanya di masa depan. Aku sudah mendapatkan informasi tentangmu, dan jangan khawatir. Tidak lama aku akan membantumu merubah statusmu dari istri Firmansyah menjadi istri dari Aditya Herlambang Pangestu." dengan semyum Smirk, Ditya menatap mata Naura.


Naura terkejut dengan kerja cepat Aditya, kemudian dia menundukkan kepala.


"Kehidupan apa yang kamu jalani selama ini Nauraku? Ceritakan padaku, aku akan secepatnya melepaskanmu dari ikatan itu."


"Jangan lakukan itu kak. Naura bahagia dengan kehidupan yang Naura jalani selama ini. Om Firmansyah baik padaku, tidak pernah menyakitiku, kembalikan Naura padanya kak!" Naura menangis dan memohon pada Ditya.


"Baik? Menurutmu dia sebaik apa, usia 58 tahun menikahi gadis dengan usia 18 tahun hanya untuk balas dendam itu apakah baik? Lalu setelah kamu mengajakku tidur pada minggu lalu, siapa yang jadi korban dari malam itu? Apakah kamu akan lepas tanggung jawab padaku Naura?" Ditya memberondong pertanyaan pada Naura, dan dia tidak mau menjawabnya. Air matanya terus mengalir dari kelopak matanya.


"Naura.., jika aku mau. Malam ini juga aku bisa mengirim orang untuk membunuh suamimu." terdengar ancaman dari mulut Aditya.


"Tetapi aku memilih cara yang elegan. Kamu tetap disini, kamu pulangpun, suamimu saat ini tidak ada di rumah. Dia sedang berada di apartemen kekasihnya. Apakah aku perlu untuk menunjukkannya padamu?'


Naura tetap terdiam, kemudian Aditya diam.


"Kembalilah tidur di ranjang!" terdengar suara lembut Aditya. Naura tidak bergeming tetap menangis dan duduk di sofa.


"Kamu kembali tidur di ranjang, atau aku akan memaksamu untuk melakukannya kembali. Seperti minggu lalu?" tanya Aditya sambil tersenyum menatap mata Naura.


Tanpa menunggu pengulangan perkataanya, Naura  bergegas bangkit dari sofa dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia mengambil selimut, dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tersedia di atas ranjang. Aditya tersenyum melihat tingkah laku Naura, kemudian dia ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


*******************************************************


__ADS_2