PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
I Miss U


__ADS_3

Ekstra keras Pradipta mengawasi Ditya yang masih terus gegabah untuk mendatangi mansion Edward. Dia tidak mau, upaya yang sudah diusahakan oleh Prasetyo Pangestu menjadi sia-sia hanya karena ketidak sabaran laki-laki muda itu. Menjelang sore tamu yang ditunggu untuk melakukan pengecekan di kantor imigrasi, tentang status Naura akhirnya datang.


"Silakan duduk dulu!" Pradipta mempersilakan tamunya duduk. Karena petugas imigrasi tidak bisa berbahasa Indonesia, dia didampingi pengawal yang ditugaskan Prasetyo Pangestu dari Indonesia.


Pradipta masuk ke dalam kamar Ditya, untuk mengajaknya menemui tamu.


"Siapa tamunya kak?" tiba-tiba Claudia sudah berada di belakang Pradipta.


"Ini urusan laki-laki, kalau mau bantu.. siapkan saja minuman untuk mereka. Jangan main suruh Nanny." ucap Pradipta sambil mendorong pintu kamar Ditya, kemudian masuk ke dalam.


Ditya yang duduk menghadap ke jendela menoleh sebentar, kemudian kembali wajahnya menghadap jendela.


"Ayo temani aku, orang imigrasi yang dikirimkan Om Prast sudah ada di ruang tamu!" ajak Pradipta.


Mendengar perkataan Pradipta, Ditya langsung bergegas berdiri dan segera keluar dari kamar. Pradipta hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu, dan segera dia mengikuti Ditya di belakangnya.


Sesampainya di ruang tamu, Ditya langsung duduk dan fokus memandang 3 orang bayaran papanya.


"Can you speak Indonesian?" Ditya tanpa basa-basi langsung bertanya padanya.


"Yes, I can speak a little Indonesian." petugas imigrasi menjawab pertanyaan Ditya, bahwa dia bisa sedikit berbicara dengan bahasa Indonesia. Pradipta memberi kode pada orang-orang dari petugas imigrasi untuk bertindak sabar.


"Okay.., then tell me. What information have you got about my wife." langsung to the point, Ditya menanyakan informasi apa yang sudah dibawa petugas tersebut.


Salah satu petugas mengambil nafas, kemudian dia berbicara pada Ditya.


"Dari informasi dari kantor kedutaan, Nyonya Naura memiliki visa tinggal di negara Australia. Dan kami saat ini sudah membawa bukti salinan identitas tersebut." jawab petugas tersebut.

__ADS_1


"Robert.., show me a copy of Mrs. Naura's identity card!" petugas itu meminta temannya untuk menunjukkan kartu identitas Naura di negara ini.


"Syukurlah.., berarti keberadaan Naura disini legal." ucap Pradipta sambil mengucapkan rasa syukur. Dia menengok ke arah Ditya, laki-laki itu merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kemudian mansion tempat Tuan Ditya ditangkap polisi tadi pagi, terdaftar di data kependudukan jika atas nama Edward Sinaga." salah satu petugas menambahkan.


"Jika begitu, kita harus segera datang ke mansion itu, terlalu lama berada disana, aku semakin mengkhawatirkan keadaan istri dan putraku." kata Ditya sambil berdiri.


"Tunggu sebentar Tuan.., beberapa petugas polisi sudah kita datangkan kemari. Kita tunggu sebentar lagi, kita akan berangkat kesana bersama-sama." salah satu petugas meminta Ditya untuk bersabar.


"Kamu masih memintaku untuk bersabar? Apakah kamu tidak tahu, berapa lama aku sudah dipisahkan dengan putra dan istriku?" dengan mata melotot, Ditya berbicara keras pada para petugas itu.


"Sudah Dity.., tenanglah dulu!" Pradipta langsung mendudukkan Ditya kembali.


"Saya dan Ditya akan pergi ke mansion dulu, toh disana beberapa orang yang dikirimkan Om Prasetyo sudah menunggu. Jika petugas datang, langsung susul kami kesana!" Pradipta membuat pengaturan, kemudian menarik tangan Ditya dan berjalan keluar.


*********


Naura termenung di depan televisi, meskipun matanya ada di televisi tetapi pikirannya terbang kemana-mana. Mata dan kulit putih bersih Ditya tidak akan dapat dia lupakan. Dia sangat yakin, dengan laki-laki yang ditangkap polisi tadi pagi adalah Ditya suaminya.


"Miss... what time do you want to eat? Do you want to wait for Mr. Edward, or will you eat first?" maid menanyakan apakah Naura akan makan terlebih dahulu atau menunggu Edward.


"No need to prepare food for me. Where is Ezaz now?"Naura menanyakan dimana Ezaz.


"I saw Ezaz playing football in the front yard. He was accompanied by Laura." maid menjawab jika Ezaz ada di halaman depan sedang bermain sepak bola ditemani Laura.


"Mommy..., aunty Momm." terdengar suara Ezaz berlari dari pintu depan.

__ADS_1


Naura langsung berdiri dan mendatangi putranya. Tetapi tiba-tiba lidahnya menjadi kelu, dia menatap ke depan tidak percaya.


"Nauraku .., I miss you." melihat kebekuan Naura ., Ditya langsung berlari dan memeluk Naura dengan erat. Gadis itu belum menyadari apa yang terjadi padanya saat ini, mimpi ataukah kenyataan. Dia masih berdiri terpaku, dengan tubuh Ditya yang sudah mengungkung badannya.


Saat bibir Ditya menempel dan mengeksplorasinya, Naura baru tersadar.


"Kak.., kakak..., ini halusinasi atau benar-benar di depan Naura saat ini adalah kak Ditya?" ucap Naura lirih, sesaat setelah Ditya melepaskan dominasi pada bibir Istrinya.


"Hey..., sadar diri dong. Ngebet boleh, tapi lihat sekitarmu ada orang lain tidak?" tiba-tiba terdengar Pradipta menegur mereka.


"Kak Dipta..., Claudia benarkah ini kalian semua?" air mata kebahagiaan langsung menggenangi kelopak mata Naura, melihat semua doa-doanya terkabul di sore ini.


"Hi.. who are you? Enter this house without permission?"seorang maid yang mendengar sedikit keributan segera masuk ke ruang keluarga. Dia langsung menanyakan siapa mereka.


"Relax Helen! They are all my family and this is my husband, he is Ezaz's father." Naura menenangkan Helen. Ditya masih merangkul Naura, dia tidak mau melepaskan istrinya itu.


"Dipta.., kamu urus semuanya! Aku akan membawa Naura dan Ezaz kembali ke mansion. Tunggu sampai Edward datang, urus dia, dan jika perlu masukkan dia ke penjara!" teriak Ditya, dia langsung menggandeng Naura dan menggendong Ezaz kemudian membawanya keluar.


"Help..., don't you go Miss Naura and Ezaz! We will be scolded by Mr Edward!"Helen meminta agar Naura dan Ezaz tidak dibawa pergi, tetapi Ditya tidak mau mendengarkannya. Dia langsung keluar meninggalkan rumah itu.


Naura yang biasanya dia selalu menjaga image tidak pernah mau mendekati Ditya secara terang-terangan, dia saat ini malah yang terus memegang lengan suaminya itu. Dia betul-betul tidak mau terpisah lagi dengan Ditya. Melihat interaksi pasangan itu dan putranya, Pradipta yang mau mengumpat akhirnya menahan diri.


"Claudi.., ikutlah pulang kedua kakakmu!" sadar jika Claudia masih berada disini, Pradipta meminta gadis itu untuk ikut kembali bersama Ditya dan Naura.


"Ga mau.., Claudia bukan obat nyamuk. Claudia mau disini saja menemani kak Dipta." kata Claudia sambil mendekat ke arah kekasih barunya itu.


"Baiklah, tapi hati-hati. Kakak masih menunggu kedatangan Edward, kita akan lihat apa yang masih bisa dilakukan ole laki-laki itu."

__ADS_1


*******


__ADS_2