
Ditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan tol, dia ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang king size dalam kamarnya. Pradipta berteriak-teriak mencoba mengingatkan sahabat sekaligus Bossnya itu untuk mengurangi kecepatan mobilnya. Tetapi Ditya tidak mendengarkan teriakan Pradipta, dia terus mengemudikan mobilnya dengan kencang.
"Dity..., are you crazy??? Kurangi kecepatan mobilmu, aku masih ingin hidup brooo, aku belum menikah." teriak Pradipta
"Shut up, don't talk too much!" seru Ditya dengan tetap menginjak pedal gasnya.
Pradipta berpegangan pada atas pintu mobil, tahu begini tadi, dia sendiri yang mengemudikan mobilnya. Mereka baru melakukan perjalanan dari kota Batik Pekalongan, karena ada acara temu pengusaha muda disana. Karena acaranya sangat menjemukan bagi mereka, dan mereka tidak menemukan hotel sesuai standar Ditya, akhirnya mereka langsung cabut melarikan diri dari acara.
Setelah berhasil keluar dari tol, Ditya mengurangi kecepatan mobinya. Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku mau tidur, sudah ngantuk. Gantian kamu yang bawa mobil." ucap Ditya sambil membuka pintu mobil kemudian berpindah ke kursi belakang.
"Pintar juga kamu Dity kalau mau mengerjai orang."
Pradipta langsung menggeser tempat duduknya, saat dia menengok ke belakang Ditya sudah terlelap. Sambil mengomel Dipta mengarahkan mobilnya menuju rumah Ditya yang ada di Semarang. Tidak sampai satu jam, Pradipta sudah mamasuki rumah mewah dengan pilar-pilar besar di teras rumah.
"Ditya.., wake up man! Ayo kita sudah sampai, mau tidur dalam mobil atau pindah ke bed?" Dipta membangunkan Ditya.
Ditya membuka matanya, dan melihat Dipta sudah keluar dari mobil, dia langsung bangun dan bergegas mengikuti Pradipta.
Seorang penjaga rumah berlari-lari membukakan pintu untuk masuk rumah, kemudian sekalian membukakan pintu kamar untuk Ditya dan satu kamar tamu untuk Pradipta. Melihat king size bed di kamarnya, Ditya langsung membaringkan tubuhnya, dan tidak lama kemudian dia sudah melanjutkan tidurnya.
******************************************************
Pukul 9 pagi, Ditya terbangun, kemudian menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Kemudian dia berjalan keluar kamar, dan melihat Pradipta sudah menikmati kopi dan pisang goreng sambil melihat televisi.
"Mana kopiku?" teriak Ditya.
"Tunggu sebentar Tuan, saya buatkan." terdengar suara ART dari ruang makan.
Kemudian Ditya duduk dan mengambil satu pisang goreng.
"Aku lapar, ada makanan tidak di ruang makan? Kalau tidak ada, kamu cari delivery order saja Dipt."
__ADS_1
"Kwk...kwkk, aku sudah makan bro. Tadi dibuatkan Bibi nasi goreng sama telur ceplok. Delicious, hmmm.."
"Buset..., sudah telat bangun, malah ditinggal makan duluan. Bi..., siapkan sarapan pagi." teriak Ditya memanggil ART. Pradipta hanya geleng-geleng kepala melihat ketidak sabaran sahabatnya itu.
Bibi datang membawa kopi panas untuk Ditya.
"Ini kopinya Tuan. Untuk sarapannya, Bibi siapkan dimana Tuan Bibi bawa kesini, atau disiapkan di ruang makan saja?"
"Langsung taruh di piring saja, kemudian bawa kesini. Jangan pakai lama."
"Baik Tuan, bibi siapkan."
Tidak lama kemudian, Ditya sudah menghabiskan nasi goreng yang disajikan Bibi, kemudian minum satu gelas air putih. Melihat ketidak sabaran Bossnya, Pradipta geleng-geleng kepala.
"Apa rencana kita hari ini Bro. Langsung balik Jakarta, atau kita nikmati dulu kota ini?" tanya Pradipta pada Ditya.
"Punya apa kota ini? Isinya hanya pabrik saja." sahut Ditya terkesan meremehkan kota ini.
"Hush..., rubah your style. Jangan hanya lihat luar negeri, negeri kita juga perlu kita eksplorasi. Atau kita ke kampus yang minggu lalu kamu isi acara di Minggu Keakraban, siapa tahu bisa ketemu gadis unik itu lagi."
"Gadis unik? Siapa itu, aku malahan sudah lupa."
"Hm..hm.., lupa atau pura-pura lupa. Itu lho Ketua Panitia acara di Sekolah Tinggi, namanya Naura Ramadha sepertinya. Bahkan, kamu memberi dia kesempatan untuk join ke perusahaan kita kalau dia menginginkan kegiatan magang atau sudah lulus dan mencari pekerjaan."
"Terserah kamu saja Dit. Ntar dulu, aku mau lihat televisi sebentar."
Kedua anak itu memiliki kelebihan sumberdaya, dan bingung untuk menyalurkannya. jadi hidupnya setiap hari hanya diisi party, party, and party.
*****************************************************************
Sudah satu bulan Naura memiliki status sebagai seorang istri dari seorang pengusaha. Tetapi Naura tetap menjalankan aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa, yang mulai membatasi pergaulan karena mengingat statusa berat yang disandangnya. Firmansyah tidak pernah mengajaknya keluar, sekedar untuk makan bersama di dalam rumahpun tidak pernah terjadi. Jika Naura ada di rumah, dan suaminya membutuhkan minuman seperti teh atau kopi, dia selalu berusaha untuk menyediakannya. Tetapi ucapan terima kasih, atau sekedar basa basi mengajaknya ngobrol, juga tidak pernah dilakukan oleh Firmansyah.
__ADS_1
Naura tidak memiliki beban atas perlakuan suaminya terhadapnya, dia tetap menjalani kehidupan dengan rasa penuh syukur. Meskipun sudah satu bulan, dia memiliki rasa rindu pada kedua orang tuanya, dan mungkin orang tuanya juga tidak mengetahui dimana dia tinggal bersama suaminya. Tetapi Naura tidak berinisiatif untuk menghubungi orang tuanya, karena rasa khawatir akan menimbulkan rasa marah dari Firmansyah.
"Non, hari ini mau dimasakkan apa? kebetulan bibi mau diantar Ujang ke pasar." Bi ijah bertanya pada Naura.
"Apapun Naura tidak masalah Bi. Maaf ya Bi, kebetulan Naura baru memiliki banyak tugas kuliah, jadi tidak bisa menemani Bibi ke pasar."
"Tidak apa-apa Non. Saya malah menjadi tidak nyaman, kalau Non Naura menemani Bibi."
Naura hanya tersenyum mendengar perkataan Bi Ijah. Dia sendiri belanja keperluannya sehari-hari, dia lakukan di minimarket depan kampus. Pada saat pulang kuliah, dia akan meluangkan waktu untuk mencari apa yang dibutuhkan. Hari-harinya hanya diisi berangkat kampus, di kamar dan kalau pagi hari dia akan jalan-jalan di sekitar rumah.
"Ya udah, Bibi sama Ujang berangkat ke pasar ya Non."
"Hati-hati Bi. Ujang.., naik motornya jangan ngebut ya, pelan-pelan, kasihan Bi Ijah."
"Siap Non."
Naura mengantarkan Bi Ijah sampai halaman depan, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Dia kemudian menyalakan laptop, untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
"Kring...kring...kring.." tiba-tiba saluran telpon berbunyi.
Naura segera melangkah menuju saluran telpon, kemudian mengangkatnya.
"Selamat pagi, rumah keluarga Firmansyah." Naura menyapa.
"Pagi, habis Maghrib siap-siap, aku akan jemput kamu. Temani aku." terdengar suara Firmansyah akan menjemputnya.
"Ya Om, ada pesan apa lagi."
"Sebentar lagi, ada orang dari butik akan datang mengantar pakaianmu. Kenakan untuk acara nanti malam."
"Iya."
Tanpa pamitan Firmansyah langsung menutup panggilan telpon pertamanya pada Naura. Untung istrinya Naura juga tidak mempersalahkan. Karena dia memang sudah bertekat mematikan rasanya, pada saat dia memutuskan untuk menerima pernikahan ini. Naura melanjutkan membuka laptop, dna mulai fokus pada apa yang dia kerjakan.
****************************************
__ADS_1