
Naura menjalani kehidupan sehari-harinya di Semarang dengan pengawasan yang sangat protektif dari Ditya suaminya. Untuk mengurangi kejenuhan Naura di rumah, Ditya mengundang beberapa guru untuk nutrisi gizi, perawatan bayi dan lain-lain. Untungnya Naura bukan merupakan gadis manja, dia menjadikan guru-guru privat yang didatangkan ke rumah, sebagai teman diskusi. Claudia yang sesudah menikah dengan Pradipta juga mengikuti suaminya tinggal di Semarang, hampir setiap hari selalu berada di rumah Ditya jika suaminya berangkat bekerja.
"Kak Naura..., kok Claudi belum hamil-hamil ya? Tadi pagi sesudah bangun tidur, sudah test pakai test pack tapi masih negatif hasilnya." Claudia berkeluh kesah tentang keinginannya untuk segera memiliki momongan pada Naura.
"Sabarlah sebentar lagi, disyukuri setiap nikmat yang kita dapat dari Yang Diatas! Mungkin ada maksud agar kalian berdua mapan dulu, atau komunikasi nyambung dulu, atau masih banyak alasan lain kenapa Tuhan menunda hamba-Nya untuk segera memiliki momongan. Lagian juga baru tiga bulan kak kalian menikah." Naura membuka wawasan Claudia, untuk menerima semua nikmat yang sudah dia rasakan.
"Iya juga sih kak, tapi Claudi iri dengan kak Naura. Kehamilannya sudah mulai nampak..., kayaknya lucu banget deh jika Claudia juga positif hamil seperti kak Naura." kata Claudia dengan pandangan iri pada kakak iparnya. Tangannya mengusap perut kakak iparnya yang sudah mulai nampak, usia kehamilan Naura saat ini sudah memasuki usia 5 bulan.
"Sudahlah ayo kita makan dulu. Tadi kakak buat salad mix vegetables dan mix fruits.., cobain deh!" Naura mengalihkan Claudia dengan mengajak makan bersama. Dia berdiri dan berjalan ke meja makan.
"Mommy...," tiba-tiba Ezaz berlari dari luar rumah, di tangannya memegang mainan baru. Di belakangnya terlihat baby sitter yang menemaninya bermain berjalan mengikutinya.
Saat Ezaz akan menubruk Naura, dengan sigap Claudia menahan Ezaz.
"Sayang.., ingat di perut Mommy ada adiknya Ezaz. Kasihan Mommy dong, jika Ezaz langsung menubruk. Bisa-bisa Mommy jadi jatuh, dan adik di dalam perut Mommy bisa sakit." Claudia menasehati Ezaz.
"Iyakah aunty, adik Zaz bisa sakit?" tanya Ezaz sambim memandang Claudia dengan polosnya. Claudia mengangguk kemudian mengangkat Ezaz, dan mendudukan di pangkuannya.
"Ezaz dari mana sayang?" tanya Naura dengan suara lembut.
"Ikut mbak ke mini market, ini Zaz beli lego sama mbak." Ezaz menunjukkan lagi yang baru saja dia beli dengan baby sitter.
"Uh.., bagus sekali mainan yang dibeli putra Mommy. Ezaz mau makan salad, mix fruits segar sayang. Nanti Mommy taruh prane gelato di atasnya." Naura mengiming-iming putranya.
"Manis Momm..?" tanya Ezaz polos.
"Of course.., Mommy siapkan dulu ya..!" dengan penuh kasih, Naura segera menyiapkan mix fruits salad dengan diberi prane gelato di atas mangkok. Dengan tampilan lucu, dengan memberikan mata menggunakan chocolate chips di atas gelato, Naura meletakkan mangkok di depan Ezaz.
"Wow.., suka..., suka.., Zaz suka Mommy." dengan mata berbinar, Ezaz langsung mengambil sendok dan mulai menyuapkan mix fruits di mulutnya yang mungil.
__ADS_1
Claudia tersenyum, kemudian dia mengambil tissue untuk mengelap tetesan gelato di sudut bibir keponakannya itu. Dia kemudian mengambil piring yang sudah diberikan salad mix antara buah dan sayuran oleh kakak iparnya itu.
"Segar kak Naura.., nanti Claudia diajarin cara bikinnya ya. Buahnya berair semua, jadinya seger banget." Claudia ikut memuji salad buatan kakaknya itu.
*****************
Setelah empat bulan kemudian, Naura mulai merasakan mules di perutnya. Tetapi karena frekuensi mules belum begitu sering, dia masih mencoba menahannya. Dia masih menghabiskan pagi dengan berenang di kolam renang yang ada di belakang rumah.
"Kak Dipta..., apakah hari ini ada schedull rapat penting di perusahaan?" Naura mengirim chat pada Pradipta via aplikasi whattsapps.
"Tidak biasanya Naura kirim chat seperti itu, aku yakin sesuatu terjadi padanya, dan dia masih sungkan untuk memberi tahu suaminya." sudah mengenal beberapa lama tentang Naura, Pradipta bisa menebak apa yang sedang terjadi dan dirasakan oleh Naura.
"Tidak ada Naura.., tunggulah di rumah! Sebentar lagi aku dan Ditya segera akan sampai di rumah, kebetulan kami baru saja bertemu dengan kolega." Pradipta membohongi Naura untuk memberi harapan senang di hati istri sahabatnya dan juga kakak iparnya itu.
"Okay.., hati-hati kak Dipta bawa Daddy-nya Ezaz ya! Naura menunggu di rumah. Bye..." Naura mengakhiri chat.
Setelah mengakhiri chat dengan Naura, Pradipta langsung menghubungi Claudia.
"Ada apa kak? Tumben jam segini sudah telpon." Claudia langsung mengangkat panggilan telpon dari Pradipta suaminya.
"Kamu ada dimana sayang? Tolong beritahu Dokter Sulchan dan minta secepatnya untuk membawa peralatan. Bawa dokter ke rumah Naura. Aku curiga kakak ipar akan melahirkan, aku juga akan membawa Ditya ke rumah sekarang." Pradipta langsung menjawab pertanyaan istrinya.
"Baik kak, hati-hati, Kebetulan Claudia pas di rumah. Hati-hati." mendapatkan kabar dari suaminya, Claudia segera bersiap-siap dan langsung menghubungi dokter Sulchan untuk segera menuju rumah kakaknya.
__ADS_1
**************
"Bisa-bisanya kamu tidak bicara sebenarnya tentang kondisi istriu Dipta." Ditya mencekal krah leher Pradipta, dia terlihat sangat panik melihat Dokter Sulchan sedang menangani istrinya di dalam kamar.
"Lepaskan kak Dipta kak! Claudia mendukung kak Dipta, karena Claudi bagaimana respon kakak jika tahu kak Naura sudah akan melahirkan. Bisa-bisa satu dunia kakak hancurkan, menurut Claudi sebaiknya kakak di dalam menemani kak Naura di dalam kamar." Claudia datang menarik kakaknya, dia melepaskan tangannya dari leher suaminya.
Tanpa bicara, Ditya langsung melepaskan cengkeraman tangannya, dia kemudian masuk ke dalam kamar. Terlihat istrinya sedang menahan rasa nyeri.
"Apakah perlu dibawa ke rumah sakit Dokter..?" tanya Ditya khawatir melihat istrinya.
"Untuk sementara semuanya normal Tuan, dan ini sudah pembukaan jalan 8. Saya malah khawatir jika sekarang ke rumah sakit, malah Non Naura akan melahirkan dalam perjalanan." Dokter menjelaskan kemungkinan Naura akan bisa melahirkan dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Ya sudah.., lakukan semua prosesnya di rumah ini saja. Tapi pastikan semua peralatan sudah disiapkan." Ditya akhirnya memutuskan agar Naura melahirkan di rumah. Dia segera berjalan mendekati istrinya, dengan penuh kasih dia mengusap keringat yang keluar di kening Naura.
"Terima kasih sayang..., ayok istriku pahlawan rumah ini!" ucap Ditya lembut menyemangati Naura.
"Auwwww..., Dadd.." Naura memuntir lengan atas Ditya, saat dia mulai mengejan.
Ditya membiarkan istrinya menggunakan tubuhnya untuk menahan dan mengalihkan rasa sakit yang ditahannya. Dokter mendekati Naura, dia tersenyum melihat bagaimana Ditya yang terkenal keras dan galak, tidak berkutik kala bersama dengan istrinya.
*****************
__ADS_1