
Di perusahaan Aditya Herlambang Pangestu
Pradipta mendatangi Ditya di ruangan kerjanya. Dia melihat sahabatnya itu, tampak fokus memeriksa file-file yang ada di laptopnya. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Ditya.
"Dity..., PT. Buana minta profit sharing 40%. Gimana pendapatmu, project kita lanjutkan atau kita nego dulu? Paling tidak turun dikitlah." Pradipta minta pendapat Ditya tentang rekanan bisnis yang minta pembagian keuntungan.
Dengan wajah datar, Ditya mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya kemudian melihat ke arah Pradipta.
"Jangan mau kita didikte rekanan, jika mau profit sharing 20% project run, jika tidak failed. Tidak perlu kita lakukan nego, wasting time!" setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ditya langsung berdiri dan langsung menuju pintu keluar ruangan.
Melihat Boss sekaligus pimpinannya meninggalkan dirinya sendiri, Pradipta dengan cepat berdiri dan mengikuti Ditya sampai ke pintu.
"Tunggu Dity.., mau kemana kamu!! Aku ajak diskusi tentang pekerjaan, janganlah kamu terus-terusan kayak gitu. Naura juga tidak akan senang, melihat kekejaman ada pada dirimu. Ayo.., kita kembali bicarakan banyak tawaran-tawaran kerjasama dan pesanan dari customer!" melihat Pradipta membawa Naura, Ditya terdiam dan berhenti. Dengan mata sayu, dia melihat ke wajah Pradipta.
Pradipta memegang kedua bahu sahabatnya itu, kemudian mendudukkan kembali ke sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Sorry Bro..., aku menyebut nama istrimu lagi!! Kita akan tetap ikhtiar menunggu keajaiban Tuhan, aku yakin istri dan putramu akan baik-baik saja. Tetapi jangan juga kamu lupakan apa yang menjadi tanggung jawabmu, siapkan masa depan untuk Ezaz. Apa yang kamu lakukan ini, kamu persiapkan semuanya untuk Ezaz!"
"Aku kehilangan arah Dipt.., arahku sudah pergi meninggalkan aku. Apakah selama ini, Naura tidak pernah meninggalkan sedikit saja ruang di hatinya untukku?? Hingga ada kesempatan sedikit saja, dia sudah jauh meninggalkan aku sendirian disini." tetesan air mata mengalir dari kelopak mata Ditya. Melihat keterpurukan sahabatnya itu, Pradipta juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ditya..., apakah kamu tidak memiliki kepercayaan pada istrimu?? Naura gadis yang baik, dia tidak akan pernah mengingkari kodratnya sebagai seorang perempuan dan juga sebagai seorang istri. Ingatlah waktu 3 tahun, itu bukan waktu yang pendek. Dengan tegarnya dia menjalani kehidupan seperti itu, sendirian, tanpa ada yang pernah mendapatkan curhat isi hatinya. Kehadiranmu disisinya, yang bisa melepaskan dia dari kerangkeng dan jeratan Firmansyah." Pradipta mengingatkan tentang masa lalu Naura.
"Jadi..., aku yakin Dity, tunggulah! Naura sedang berjuang dan mencari cara untuk kembali padamu." lanjut Pradipta lagi.
__ADS_1
"Sudah dua bulan Dipt.., secuil kabarpun tidak aku dengar tentang keberadaan istri dan putraku. Bahkan papa juga sudah menggunakan semua koneksinya, tetapi tidak juga ada berita tentang Naura dan Ezaz. Aku sudah hampir putus asa Dipt!" dengan lemah Ditya kembali mengingat istri dan putranya.
Keduanya terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba..
"Drtt..drttt.." ponsel Pradipta bergetar.
"Sorry bro, aku lihat ponselku dulu! Sepertinya ada chat masuk, siapa tahu dari PT. Buana." dengan cepat Pradipta mengambil ponselnya.
Dia berpikir sejenak saat melihat ada chat masuk dari unknown number. Saat dia membukanya, hanya berisi share location wilayah Tamarama, Sydney. Tidak ada isi berita yang lain. Dia mengerenyitkan kening sebentar, berusaha mencerna makna dari share loc tersebut, tetapi hanya kebingungan yang dia dapatkan.
"Dity..., kamu tahu Tamarama, Sydney?? Daerah apaan itu?" tanya Pradipta pada Ditya.
"Ada apa kamu menanyakannya?? Itu hunian termahal di kawasan pinggir pantai di wilayah Sydney, Australia. Banyak pada selebriti memiliki hunian disana, tempatnya memang bagus sekali. Papa punya satu mansion juga disana, tapi sudah lama kami tidak mengunjunginya. Padahal Dipt.., aku sudah memiliki rencana untuk membawa Naura menikmati malam tahun baru disana.., tapi akh..."
************
#Flash back On
Untuk meredakan rasa panas yang mengalir cepat di tubuhnya saat tanpa sengaja menyentuh kulit halus Naura, dan melihat pemandangan menerawang di depannya, Edward kembali masuk ke kolam renang. Dia mendinginkan hawa panas, yang dengan cepat menguasai sekujur tubuhnya, dengan merendam kepalanya di kolam renang.
__ADS_1
Naura segera meninggalkan kolam renang, setelah memandikan Ezaz di ruang ganti, dia segera berjalan memasuki kamar dengan berbalut handuk. Saat dia mau masuk ke dalam kamarnya, dia melihat ponsel Edward tergeletak di atas meja. Naura menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang melihatnya berdiri di situ.
"Ezaz ke kamar dulu ya, tunggu Mommy sebentar!" Naura meminta putranya masuk ke kamar lebih dahulu.
Naura langsung mengambil ponsel Edward, dan masuk ke nomor kontak tersimpan. Dia mau mengirimkan chat untuk suaminya, tetapi dia lupa berapa nomornya. Karena pernah menjadi sekretaris Pradipta, kebetulan Naura sangat hafal nomor mantan Bossnya dulu yang juga menjadi bawahan dari suaminya. Khawatir Edward selesai dari aktivitas renangnya, dia langsung mengirim share location ke nomor Pradipta. Setelah memastikan terkirim, dia langsung menghapus chat tersebut, dan dengan cepat dia masuk ke dalam kamar. Dia hanya berharap jika Pradipta dapat memaknai apa maksud share location yang dia kirimkan.
"Momm.., Zaz lapar..," melihat mommy nya sudah masuk kamar, Ezaz yang masih terlihat kedinginan karena hanya berbalutkan handuk memberitahukan jika dia lapar. Padahal Naura masih deg-degan karena tanpa ijin barusan memegang ponselnya Edward.
"Ezaz mau makan sama maid, atau sama Mommy. Jika sama Mommy, tunggu sebentar, mommy mau mandi dulu." dengan sabar Naura mengambil pakaian Ezaz, kemudian memasangkan baju pada putranya itu.
"Ezaz makan sama Mommy saja." sahut Ezaz sambil menatap wajah Mommy nya.
"Nah.., sudah ganteng putra Mommy sekarang. Kalau makannya sama Mommy, sekarang Ezaz main dulu di luar. Karena Mommy mau mandi dulu, dan ganti pakaian. Tunggu sekitar 20 menit saja, Okay!" sambil mengacungkan telapak tangan, Naura melakukan tos dengan putranya.
"Okay Momm..," Ezaz sudah mau berangkat keluar.
"Uppss..., sisiran dulu sayang biar gantengnya putra Mommy keluar." Naura langsung mengambil sisir, dan menyisir rambut putranya sambil tersenyum. Saat ini, hanya Ezaz yang dapat menghibur hatinya.
Naura memandangi putranya sampai keluar dari kamar, kemudian dia menutup pintu dan segera masuk ke kamar mandi untuk membilas diri. Di bawah shower, Naura mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki, sambil memakai shampoo dan batch cream. Pikirannya kemana-mana, sambil memikirkan dimana ponselnya disembunyikan sama Edward. Dia hanya berharap saat ini, Pradipta akan segera mengirimkan pertolongan kesini. Dia tidak meragukan bagaimana sumberdaya dari papa mertuanya, akan mudah untuk membawanya kembali.
***************
__ADS_1