
Karena kondisi Naura sudah semakin membaik, Dokter menawarkan untuk operasi dan bayi dilahirkan saat itu juga. Atau alternatif lain, Naura melahirkan secara normal tetapi harus bed rest sampai usia kelahiran yang sebenarnya karena bayi sudah bergerak ke bawah. Tidak mau mempertaruhkan kesehatan istrinya, tanpa diskusi dulu dengan Naura, Ditya sudah memutuskan untuk operasi caesar.
"Makan dulu ya, aku suapin." Ditya meminta Naura untuk makan, karena nanti siang akan dilakukan operasi.
"Naura tidak ***** makan kak, takut nanti keluar lagi."
"Harus dipaksakan, darimana nanti kamu dapat tenaga? Ayok sayang buka mulutnya!" Ditya mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Naura. Tetapi Naura tidak mau membuka mulutnya, dan Ditya tersenyum, kemudian dia meletakkan sendok, kemudian lebih mendekat ke Naura.
"Kak Ditya mau ap...?" belum selesai Naura berbicara, mulut Naura sudah dibungkam dengan ciuman Ditya.
Sesaat Naura terbuai, dan ketika Ditya melepaskan ciumannya, tangan kanannya segera mengambil sendok, dan langsung menyuapkan bubur ke mulut istrinya. Karena bubur sudah berada di mulutnya, dengan terpaksa Naura mengunyah dan menelannya.
"Cium lagi, terus lanjut makan?" goda Ditya sambil tersenyum. Naura memerah pipinya, kemudian mencubit pinggang suaminya.
"Aduh.., kenapa istriku jadi jahat? Masak suaminya dianiaya, apa ini efek karena pingsan lama kemarin ya?" Ditya tidak berhenti menggoda istrinya, tapi begitu Naura tersenyum, Ditya langsung memasukkan sendok ke mulut istrinya.
Prasetyo mengamati putranya yang sedang menyuapi Naura sambil tersenyum di pintu masuk, sedangkan Marina hanya diam melihati mereka. Setelah Ditya meletakkan piring kembali ke meja, mereka kemudian masuk ke dalam.
"Hm..hm.., sudah makan pagi menantuku sayang?" Prasetyo Pangestu menyapa Naura sambil berjalan dan diikuti Marina.
"Pa.., ma.." Naura berusaha bangun dari tidurnya, tetapi Ditya dengan cepat melarangnya. Prasetyo dan Marina menghampiri Naura dan berdiri di pinggir ranjang tempat Naura tidur. Papa mertua Naura meletakkan punggung tangannya di dahi Naura, kemudian tersenyum.
"Sudah stabil suhunya. Sudah siap Naura, nanti siang jadi operasi kan?" tanya Prasetyo.
Naura menganggukkan kepala, kemudian melirik ke mama mertuanya.
"Tidak bisa makan sendiri apa, harus disuapi sama suami?" tanya Marina agak ketus.
"Mama.., Ditya kok yang ingin menyuapi Naura. Daripada cuman duduk, kan mending nyuapin Naura. Biar rasa sayangnya sama Ditya lebih besar. Iya kan sayang?" Ditya membela Naura yang sudah terlihat sedikit tertekan.
__ADS_1
"Tidak perlu kamu ambil perkataan mamamu Naura, yang penting makannya yang banyak dan bergizi! Jadi, tenaga dan staminamu harus selalu fit." sahut Prasetyo menetralisir suasana.
"Ma...tadi mana soup wallet yang kamu masak?'
Marina mengulurkan ware pemanas pada suaminya, kemudian Prasetyo membukanya.
"Naura.., ini bukti kan jika mamamu sangat menyayangi kamu. Mamamu bangun pagi, soup dari sarang burung wallet ini, spesial lho, karena mamamu sendiri yang masak dari tadi. Ayo dimakan, papa suapin ya!"
"Nanti Naura makan sendiri pa, kan baru saja sudah disuapin bubur sama kak Ditya."
"Baiklah., tapi jangan lupa dimakan ya. Sarang burung wallet ini memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik untuk memulihkan staminamu. Jadi, saat kamu operasi nanti tubuhmu sudah siap. By the way jam berapa operasi Naura Dity?"
"Jam 12.30 pa, karena Dokter ada jadwal isi online conference pagi sampai jam 11. Kalau papa dan mama lelah, nanti Ditya saja yang nungguin Naura. Lagian keluarga dari papa Sam dan mama Novi juga sudah bilang akan ikut nungguin Naura."
"Eh.., kamu usir mama sama papa Dity? Mama mau lihat cucu mama saat dia pertama kali lihat dunia ini, masak mama kamu minta pulang."
"Kan Ditya bilangnya kalau mama lelah, bukan mengusir mama?"
********************************
"Tuan Prasetyo sudah dari tadi datangnya? Maaf ya, saya dan istri agak terlambat. Karena harus tanda tangan dulu beberapa berkas di kantor." Samsuar menyapa besannya.
"Masak sama besan kok panggil Tuan sih, panggil Pak saja! Biar kita lebih akrab."
"Baik Pak." jawab Samsuar tersenyum, kemudian duduk di samping Prasetyo.
"Pa.., ma.., sama siapa kesininya? Sopir?" tanya Ditya sambil menyalami mama dan papa mertuanya. Prasetyo tersenyum melihat perubahan putranya sejak mengenal Naura. Dia sudah bisa merendahkan dirinya di hadapan orang yang lebih tua.
" Iya nak.., kami biasa kemana-mana selalu berdua. Kakakmu Jessica tidak pernah mau kalau diajak pergi bareng."
__ADS_1
"Terus kak Jess sekarang dimana pa? Kemarin bilang sama Ditya, katanya mau ikut nungguin keponakannya lahir."
"Sudah dalam perjalanan sama Doni menuju kemari. Tadi sudah kirim pesan sama mamamu."
Naura hari ini merasa bahagia sekali, karena melihat mama dan papanya bisa terlibat perbincangan hangat dengan mertuanya. Ditya tidak malu dan tidak segan menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya pada Naura. Berkali-kali dia mencium Naura di depan keluarganya, tidak melihat jika muka istrinya merah menahan malu.
"Selamat siang.., mau numpang tanya kamar Naura dimana ya?" terdengar suara perempuan di luar kamar perawatan Naura.
"Diketuk saja mbak pintunya, di depan mbak itu kamar perawatan menantu konglomerat itu!"
Ditya membuka pintu kamar, dan melihat 3 sahabat Naura semasa kuliah sudah berdiri di luar kamar.
"Ayo masuk!" Ditya mengajak mereka masuk.
Iin agak terkejut, dan spontan dia melihat ke arah Akbar dan Fikri. Mereka terkejut dengan keramahan yang ditunjukkan Ditya. Mereka teringat kejadian berbulan-bulan lalu saat mereka dan Kak Jessica mengajak Naura makan soto Semarang, mereka harus berurusan dengan pihak kepolisian. Tetapi mereka langsung masuk, dan agak grogi ternyata keluarga Naura dan keluarga suaminya sudah berkumpul di dalam.
"Iin.., Akbar.., Fikri.., terima kasih kalian datang kemari." Naura menyapa ketiga temannya, dan mereka langsung mendatangi Naura yang duduk di atas ranjang.
"Papa.., mama..., kenalkan mereka ini teman-teman Naura dari jaman kuliah." Ditya mengenalkan ketiga sahabat istrinya pada papa mamanya.
"Oh iyakah? Masih aktif kuliah atau sudah pada kerja sekarang?" tanya Prasetyo ramah.
"Masih skripsi Om, kami memang lumayan kalah jauh dibandingkan Naura. Tapi sudah sebar data, tinggal analisis saja." jawab Fikri.
"Pak Samsuar, Bu Novi..., biar anak muda bicara dengan anak muda. Kita-kita yang tua harus menyingkir, temani saya ngopi dulu gimana?" Prasetyo menawarkan.
"Baik pak, ayo ma.., kita ke food court dulu cari minuman panas!" ajak Samsuar pada Novi.
Mereka berempat keluar dari kamar perawatan Naura, dan teman-teman Naura mencuri pandang pada suami temannya itu. Merasa ada yang menemani Naura, Ditya pindah duduk di sofa, kemudian membuka Ipad untuk memantau pekerjaan kantor.
__ADS_1
*********************************