
Dengan mata berbinar, Naura terkejut melihat Ujang sudah berada di ruang tamunya. Seperti merasa ketemu dengan keluarganya, Naura langsung bergegas menghampiri laki-laki itu.
"Ujang..., kamu sampai disini saat ini? Benarkah penglihatanku?" dengan tak percaya Naura mengguncang punggung laki-laki yang selalu menemani, sebagai tempat curhat saat masih menjadi istri dari Firmansyah.
"Iya Non.., ini saya Ujang. Non sehat?" Ujang tersenyum sambil mengulurkan tangan mengajak Naura berjabat tangan.
Naura menerima uluran tangan tersebut, dan saat dia melihat Mira berjalan dengan menggendong Ezaz.
"Mira.., bawa Ezaz sini!" Naura memanggil Mira, dia akan mengenalkan putranya pada Ujang.
"Ini siapa Non? Putra Non Naurakah? Ya Tuhan..., ternyata sudah satu tahun lebih ya kita tidak berjumpa. Jumpa lagi, ternyata Non sudah memiliki momongan. Boleh Ujang menggendongnya Non?" serasa tidak percaya dengan penglihatannya, karena belum lama menjadi istri majikannya, saat ini sudah berubah.
Naura tersenyum tulus sambil menganggukkan kepala. Melihat hal itu, Ujang langsung mengambil Ezaz dari gendongan Mira.
"Duduk sini Mir.., temani Ezaz!" melihat Ujang saat mengambil Ezaz, dia melirik Mira tiba-tiba muncul ide Naura untuk mengenalkannya.
"Hallo jagoan..., kenalkan nama Om adalah Ujang. Jagoan bisa memanggil Om dengan Om Ujang." Naura tersenyum melihat Ujang mengajak interaksi putranya.
"Oh ya Jang..., kenalkan ini yang membantuku merawat dan mengasuh Ezaz putraku! Namanya Mira." tiba-tiba Naura mengenalkan baby sitter nya pada Ujang.
"Ujang.." dengan malu-malu Ujang mengajak Mira salaman.
'Mira..," begitu juga Mira, dengan tersipu menerima uluran tangan dari Ujang. Setelah tidak berapa lama, khawatir jika mengganggu percakapan majikan dengan tamunya, Mira mengambil Ezaz dari gendongan Ujang. Ujang mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan.
"Luar biasa Non. Rumah Tuan Firman tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan rumah Non Naura sekarang. Suami Non kerja dimana? Wajahnya masih muda atau sudah tua seperti Tuan Firmansyah?" dengan tampang polos, Ujang bertanya tentang suami Naura. Dia juga tampak terkagum-kagum dengan rumah hunian yang ditempati Naura saat ini.
"Kamu bicara apa Jang..., semua rumah itu pasti terlihat luar biasa bagi orang lain? Makanya ada pepatah kan, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di rumah kita sendiri. Yang penting adalah bagaimana cara kita untuk mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan pada kita."
__ADS_1
"Kata-kata Non ini yang selalu membuat Ujang kangen Non. Sekarang di rumah sepi, kemarin sempat ada teman ngobrol waktu Tuan Edward mampir ke rumah tiga hari, tapi sayang sekarang sudah diminta papanya balik ke Australia." mendengar Ujang menyebut nama Edward, hati Naura berdegup kencang. Tapi setelah mengambil nafas panjang, akhirnya Naura bisa menyesuaikan diri kembali.
"Kapan Edward datang ke kota ini Jang? Bagaimana keadaanya, baik dan sehatkah?" untuk menutupi kekhawatirannya, Naura bertanya kabar laki-laki itu.
"Baik Non, dan juga sehat. Tuan hanya mampir, katanya mendapat tugas dari papanya untuk menghadiri acara conference di Jakarta, dan memantau perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Itu saja, Tuan Firmansyah terlihat cuek tidak menyambut kedatangan keponakannya."
"Oh ya sampai lupa, by the way... ada angin apa yang membawamu kemari Ujang? Tidak mungkin kan, hanya untuk berjumpa denganku, kamu sampai berani mencariku sampai sini." dengan tersenyum Naura menanyakan maksud kedatangan Ujang ke rumahnya.
Ujang melihat Mira dan Naura sebentar, kemudian menyerahkan bungkusan kado yang dibungkus dengan kertas warna ungu muda. Ternyata Edward masih mengingat favourite colour gadis itu. Dengan penuh tanda tanya, Naura mengerenyitkan kening.
"Kado??? Dari siapa Ujang, dan kenapa ada dua?? Aku tidak sedang ulang tahun, ... valentine atau tahun baru juga masih lama." tanya Naura yang penasaran.
"Itulah tujuan Ujang kemari Non. Ujang hanya dimintai tolong untuk mengantarkan kado ini kemari, yah.. karena Ujang juga pingin ketemu dengan Non, makanya Ujang bersedia."
"Minta tolong?? Siapa yang minta tolong padamu untuk mengantarkan kado itu kesini?" Naura sudah agak curiga, jika kado itu kiriman dari Edward. Dia tidak mau, Ditya suaminya mencurigainya sehingga dapat berakhir dengan keributan antara keduanya.
"Ujang hanya dimintai tolong Non, diterima ya! Tidak mungkin kan, jika Ujang harus membawanya kembali pulang. Toh.., itu hanya sebuah kado, bukan apa-apa Non." imbuh Ujang tampak khawatir.
Setelah melihat kekhawatiran Ujang, Naura tersenyum untuk menenangkan Ujang. "Yah.., benar juga kata Ujang. Dia hanya kurir yang diminta untuk mengantar barang." pikir Naura sendiri.
"Baiklah terima kasih ya Ujang atas kado untuk putraku, dan juga oleh-oleh buatku. Tolong sampaikan pada Edward ya!"
***************
__ADS_1
Di dalam kamar, saat malam hari.
"Siapa Momm yang datang tadi sore? Teman masa kuliah?" tanya Ditya pada istrinya. Keduanya saat ini sedang berada di atas ranjang.
"Bukan.., itu penjaga rumah di tempat Om Firmansyah." mendengar istrinya menyebut nama suaminya, Ditya menjadi terlihat tegang. Dengan muka serius dia menghadap pada istrinya.
"Untuk apa dia kemari?? Apakah Firmansyah sudah mulai coba-coba mengganggumu lagi??" DItya berbicara dengan nada tinggi.
"Jangan keras-keras bicaranya, Naura takut kak. Om Firman tidak ada kaitannya dengan kedatangan penjaga rumah itu." gadis itu terlihat ketakutan melihat suaminya seperti naik darah.
Ditya mengambil nafas panjang, kemudian dengan nada lembut..,
"Maafkan aku yang tanpa sadar telah bicara tinggi. Itu karena aku takut kehilanganmu sayang..," Ditya meraih tangan Naura, kemudian menciumnya lembut.
"Ujang mengantarkan kado untuk Ezaz dan oleh-oleh dari Edward untuk Naura. Tuh.., barangnya masih diatas meja. Jika kak Ditya mengijinkan, Naura akan membukanya. Tapi jika kak Ditya curiga, Naura bisa langsung membuangnya." Naura menunjuk paper bag dan bungkusan kado besar yang ada di atas meja.
Ditya kemudian berdiri dan menghampiri barang tersebut. Setelah mengamati bungkusan dan melihat isi yang ada di dalam paper bag...
"Kemarilah sayang.., ayo aku temani untuk membuka kadonya!" Ditya memegang kiriman dari Edward tersebut. Naura memandang tak percaya pada suaminya, dia sangat takut jika Ditya hanya berpura-pura bersikap baik.
"Aku tidak akan marah, kan istriku hanya menerima. Jika aku harus marah, aku bisa membawa Edward dan menyeretnya kemudian aku lempar ke laut, biar menjadi makanan hiu." Edward tersenyum.
Dengan terus menatap suaminya, Naura segera turun dari ranjang kemudian berjalan menghampiri DItya.
__ADS_1
*****************