
Tiba-tiba Naura mendapatkan sebuah undangan untuk hadir di rumah makan Bowery, dia mendapatkannya via pesan di whattsapps. Berkali-kali Naura mencoba memandangi picture si pengirim pesan, tetapi Naura sama sekali tidak mengenalinya. Naura tidak membalas pesan itu, tetapi kemudian ada lagi pesan yang masuk.
"Tante tunggu jam 12.30, dan tante harap kamu dapat hadir on time. Terima kasih!"
"Tante??? Naura tidak mengenalnya, masak harus hadir, tetapi sepertinya Tante itu mengharapkan sekali Naura dapat hadir disana. Datang tidak ya Naura?" Naura berpikir sendiri.
"Kalau datang, perlu ijin kak Ditya atau pak Dipta tidak ya? Kalau tidak ijin, pasti geger jadinya kalau ketahuan. Tetapi kalau ijin, Naura yakin Kak Ditya pasti tidak akan mengijinkannya."
"Tring." ponselnya berdering lagi, dan terdapat pesan masuk lagi.
"Naura, tolong jawab Tante sayang! Jangan khawatir, Naura akan aman. Tante hanya ingin berbicara denganmu nak, penting!"
Naura tampak kebingungan, tetapi karena rasa penasaran dan ingin tahunya juga tinggi, akhirnya Naura memutuskan akan datang ke undangan makan siang tersebut. Setelah sampai di jalan, dia baru akan memberi tahu Pak Pradipta selaku atasannya.
"Iya Tante, Naura usahakan datang. Tetapi tolong tante menjaga keamanan Naura ya!"
"Terima kasih sayang. Tante tunggu."
Naura kemudian menyimpan ponselnya di dalam tas, kemudian dia membuat draft jawaban permohonan kerjasama dan jawaban surat-surat yang masuk. Dia harus memastikan bahwa semua pekerjaannya sudah beres saat dia meninggalkan kantor.
"Naura, ke ruanganku sekarang ya! Ada yang akan aku bicarakan." tiba-tiba Pradipta memintanya masuk ke ruangan.
"Ya pak, Naura save file dulu."
Naura save file yang sedang diketiknya, kemudian masuk menemui Pradipta di ruangan.
"Gimana pak Dipta, ada yang mau dikonfirmasi?" Naura langsung duduk di depan meja kerja Pradipta.
"Mau minta pendapatmu saja. Coba kamu baca sebentar, kemudian kira-kira yang pas yang mana?"
Naura mengerenyitkan dahinya, karena ternyata Dipta menanyakan motif batik padanya.
"Ya dilihat dulu tujuannya untuk apa pak? Untuk seragam kantor, atau untuk acara apa gitu? Karena harus disesuaikan peruntukannya, biar tidak salah kostum." kata Naura.
"Ehm.., untuk apa ya? Sudah dibilang saja untuk seragam hajatan pernikahan."
"Wow..., selamat pak Dipta. Bapak sudah mau menikah, calonnya orang mana pak?"
__ADS_1
"Lhah...., kamu itu ternyata lucu Naura. Ditanya cocok yang mana motifnya, kok malahan balik jadi interogasi saya. Ayo cepat dipilih, karena segera mau diambil sama tailor, untuk partai besar waktunya mepet."
"He..., he.., he.., Naura mau pilihin. Tapi Naura minta ijin nanti siang bisa gak pak? Sebentar saja, kalau Pak Dipta tidak percaya sama Naura, boleh kok Pak Dipta mengirim satpam untuk mengawal saya, biar agak terasa seperti ibu negara gitu."
"Kok malah barter sih, pilih dulu. Ini saya segera konfirmasi sama perajin batiknya."
"Iya, iya."
Naura mengamati ada sekitar 10 motif batik, akhirnya dia pilih yang warna sogan kecoklatan.
"Menurut Naura yang ini pak, dia bisa masuk untuk kulit apapun. Kalau kulitnya putih, akan tampak lebih bersinar nanti. Deal ya pak, jam 12 siang Naura ijin keluar sebentar!"
"Masak ijinnya sama aku. Sana ijin sama Boss Ditya dulu, dibolehin tidak?"
"Kan ini pas hari kerja pak. Pas jam istirahat lagi, jadi ijinnya sama atasan langsung bukan melewati satu level. Pokoknya sudah Deal, Naura mau melanjutkan kerjaan ya pak Dipta. Pokoknya pak Dipta, Boss yang paling baik deh." sahut Naura sambil berjalan keluar meninggalkan Pradipta.
*****************************************
"Ehm.., mau kemana mbak Naura? Ada janji ya?" sapa teman kantor dari Divisi lain.
"Iya mas Andi, mau keluar makan siang. Mas Andi juga sama kan, mau keluar juga?"
"Iya sama sih, tapi ya saya ga level kalau makan siangnya satu level dengan mbak Naura. Saya mah selera kaki lima saja, tidak seperti mbak Naura yang menu bintang lima."
Naura merasa perkataan Andi seperti sarkasme, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk meladeni laki-laki itu. Bergegas dia menuju jalan depan perusahaan, menunggu ojek online yang sudah dipesannya lewat aplikasi. Untungnya saat Naura sudah sampai di depan gerbang, Ojol sudah datang. Pak Kardi tampak berlari mau bertanya pada Naura, tetapi mobil yang ditumpangi sudah membawanya pergi.
"Sesuai aplikasi ya mbak, restoran Bowery?" tanya driver ojol.
"Yupz, langsung kesana ya! Saya ada undangan jam 12.30, bisa sampai disana kan?"
"Bisa mbak, paling cuma 15 menit perjalanan kok dari sini."
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Naura berdering, dan saat melihat screennya, Naura menghela nafas, tapi tidak mau mengangkatnya. Karena panggilan itu dari Ditya, dan Naura yakin jika laki-laki itu tahu kemana tujuannya, pasti akan melarangnya.
"Kok tidak diangkat panggilan telponnya mbak?"
"Lagi malas angkat mas, paling juga dilarang tidak boleh pergi kalau saya angkat."
"Pasti dari pacarnya itu. Ya baguslah mbak, itu namanya pacar mbak itu protective, sangat menjaga mbaknya."
"Bukan protective sih menurutku, tapi lebay. Soalnya terkadang over protective nya minta ampun."
"He..he..he.., terserah mbak bilang saja deh. Kalau saya mendukung pacar mbak, nanti mbaknya ga jadi naik Ojol saya, kan berabe."
Ponsel Naura kembali berdering, dan kali ini yang menelpon bossnya Pradipta.
"Ada apa pak Dipta menelpon Naura? Kan tadi Naura sudah ijin ke Bapak, kalau jam 12 pas makan siang, mau ijin keluar sebentar. Bapak tidak perlu khawatir deh, Naura pastikan tidak akan nyampe jam 14.00, Naura sudah akan sampai di kantor lagi."
"Tapi kenapa kamu ga bilang lagi pas mau berangkat. Ini aku yang kena semprot sama suamimu, dia marah-marah dari tadi. Bisa-bisa satu kantor diobrak abrik sama dia."
"Lha terus gimana lagi pak Dipta? Masak sedikitpun Naura tidak punya privacy. Naura kan juga punya keluarga, punya teman, masak harus tinggal dalam tempurung, sedikitpun tidak boleh menjalin silaturahmi dengan mereka. Tolong dong, bapak sampaikan pada Kak Ditya!"
"Sudah tidak perlu banyak alasan. Sekarang katakan padaku, tujuan kamu kemana? Aku akan menyusul kesana." Naura kaget karena suara Dipta sudah digantikan oleh Ditya. Dia diam sebentar, mencoba berpikir mencari solusi.
"Kenapa diam sayang? Apa susahnya sih, kan tinggal bilang saja mau kemana? Aku janji deh, tidak akan menganggu acaramu. Aku hanya akan memastikan keamananmu." kata Ditya dengan suara lembut.
"Naura ada undangan makan siang di Bowery Restaurant jam 12.30. Tolong beri privacy untuk Naura kak, please!"
"Iya, aku tidak akan mengganggumu. Sudah aku sama Dipta mau sekalian juga makan siang disana. Kamu sudah sampai mana?"
"Ini mobil yang kunaiki sudah masuk halaman parkir. Sudah ya kak, Naura mau turun mobil."
"Kenapa mbak? Hadapi semua dengan senyuman dong. Syukur masih ada orang yang memperhatikan kita mbak, daripada dikacangin." goda driver ojol.
"Iya juga ya. Makasih ya mas sudah nganterin saya."
"Siap."
__ADS_1
*************************************