
"Ternyata Edward saat ini sudah ditetapkan menjadi salah satu CEO di perusahaan milik keluarganya, dan ada beberapa cabangnya di Indonesia. Bahkan perusahaan itu lebih besar daripada perusahaan punya Firmansyah." Pradipta melaporkan hasil investigasi yang telah dia terima dari anak buahnya.
"Berarti dia akan banyak berada di Indonesia ya. Aku harus lebih hati-hati sekarang, atau aku akan pindah ke luar negeri saja Dity. Perusahaan di Semarang kamu yang urus." mendengar kemungkinan Edward akan banyak di Indonesia, muncul kegalauan di hati Ditya.
"Tidak begitu juga ah Dity..., daripada aku kamu tinggal sendiri di kota ini, mendingan aku kembangkan perusahaan papaku. Aku saja selalu berusaha menghindar jika papa menawariku untuk segera menggantikan posisinya. Kamu hanya harus percaya dengan Naura, aku yakin anak itu juga tidak mau kehilangan dirimu saat ini."
"Aku juga tidak tahu dengan diriku sendiri Dipt, ada apa di Naura yang membuatkau betul-betul bertekuk lulut padanya. Aku tidak bisa berpisah dengannya." Ditya diam melamun.
Setelah mereka diam beberapa saat...
"Oh ya Dipt..., Posisi Edward sekarang ada dimana? Semarang, Jakarta atau di Australia?" Ditya kembali menanyakan tentang keberadaan Edward.
"Anak itu kemarin lusa sudah terbang kembali ke Australia. Dia ambil penerbangan komersial Jakarta - Sydney pada pukul 19.00 malam. Tetapi karena banyak perusahaan yang sudah dialihkan kepemilikannya atas nama dia, aku yakin tidak butuh waktu lama dia akan kembali berada di Jakarta."
"Baik Dipt.., bantu aku untuk melakukan pengamatan gerak gerik anak itu. Minggu aku akan mengajak Naura dan Ezaz ke tempat mama dan papa di Jakarta. Tapi itupun aku juga akan ikut Naura, jika dia mau tinggal di rumah papa ya, kita akan menginap disana. Tapi jika mama masih seperti itu, mau tidak mau aku akan bawa Naura ke apartemen."
"Ha..ha..ha..., konflik mertua perempuan dan menantu dimulai. Itu yang aku khawatirkan jika aku menikah Dity.. karena sering mama kita masih ingin dimiliki khusus oleh anak laki-lakinya." Dipta tertawa.
"Itu kan caramu ngeles Dipt..., bilang saja masih jomblo belum laku. Kayak aku lho, jodoh diberi langsung sama Tuhan," Ditya gantian meledek Pradipta.
"Iya tapi...Bucinmu itu Dity... bikin tepuk jidat. Jika bukan Naura yang jadi istrimu.. sudah ditinggal kamu. Kurangi sifat posesifmu, beri sedikit privacy untuknya. Kita ini makhluk sosial.., sudah kodrat lahir dari sono..kita ini suka berinteraksi dengan individu lain. Tapi kamu Dity... tobat."
"Tobat apanya?" sahut Ditya cepat.
__ADS_1
"Ya tobat..., istri ketemu sama siapa saja, langsung telpon. Dipta selidiki...," cengar cengir Pradipta ganti meledek sahabatnya itu.
Ditya terdiam, dia terlihat termenung sebentar.
"Iya juga ya... kenapa aku jadi posesif kayak gini? Apa karena butuh usaha ekstra untuk membawa Naura padaku, jadi ada rasa khawatir aku akan ditinggal Naura." ucap Ditya lirih.
"Naura itu beda Dity... Dia tipe perempuan yang setia, kamu tahu kan bagaimana kisah pernikahan dengan Firmansyah. Apa dia pernah menuntut atau meninggalkan laki-laki itu? Tidak kan, tanpa dukungan apa-apa dia tetap menjalani pernikahan dengan laki-laki itu untuk waktu yang tidak sedikit. Tiga tahun Dity..."
Ditya tetap terdiam.
"Dengarkan aku.., beri sedikit waktu untuk istrimu! Dia butuh untuk berkembang, jika perlu beri dia kesempatan untuk kerja.. Kan kemarin sudah ada rencana, jika Divisi baru di perusahaan kita akan diisi Naura. Kapan akan mulai Run?" Pradipta terus berusaha mempengaruhi Ditya.
"Ya sudah. Kamu atur saja! Bulan depan.. kita mulai buka divisi itu!"
*********
"Ada apa Naura berani-beraninya kamu menghubungi aku? Ketahuan Ditya bisa diminta sunat lagi aku." Pradipta menerima panggilan telepon dari Naura.
"Minta tolong sekali ini saja deh, please!! Kasih ijin Iin dong, untuk menemani Naura. Boleh ya pak Dipta..., please!" ternyata Naura minta ijin agar Pradipta mengijinkan Iin untuk menemaninya. Karena Iin sudah resmi bergabung dan bekerja di perusahaan suaminya.
"Mau kemana kamu sebenarnya?"
"Mau urusan perempuan lah. Mau mempercantik diri, kan sudah dibuatkan deposit treatment oleh kak Ditya. Dan juga sudah diijinkan untuk ke mall hari ini, tapi masak Naura perginya sendiri. Ga asyik dong." Pradipta tepuk jidat, karena yang mengusahakan voucher itu adalah dia untuk membantu Ditya. Sekarang malah bumerang kembali padanya.
__ADS_1
"Okay.. okay.., hanya khusus hari ini aku ijinkan. Tapi untuk lain kali, No. Bisa rugi perusahaan, kamu tahu tidak gaji untuk karyawan baru si Iin?" seru Pradipta.
"Naura tidak perlu tahu pak Dipta. Naura hanya perlu mendapatkan ijin saja. Terima kasih pak Dipta eks boss Naura yang sangat baik hati. Dah ya." Naura segera mengakhiri panggilan.
********
"Naura.." Naura menoleh ke arah panggilan. Terlihat Iin sudah masuk ke food court tempat dia janjian dengannya. Naura langsung berdiri dan melakukan cipika-cipiki dengan sahabatnya sejak dari masa kuliah itu.
"Mau makan dulu tidak?" Naura menawari Iin.
"Ga ah.., langsung saja yuk. Aku ga enak sama pak Pradipta, ninggalin kantor kelamaan." sahut Iin sambil mengambil gelas lemon tea pesanan Naura. Setelah meneguknya, dia meletakkan lagi gelas diatas meja.
Dengan bergandengan tangan mereka langsung masuk ke klinik kecantikan milik dokter kulit yang tinggal di kota Gudeg.
"Sudah pesan Nomo belum Na?? Biasanya lama antrinya jika belum pesan." Iin bertanya pada Naura.
"Kita tinggal masuk, semua sudah diurus sama kak Ditya."
"Beneran Na?? Nikmat sekali hidupmu teman, suami tampan, putra konglomerat, perhatian lagi. Aduh.. jadi iri aku Na."
"Mulai.., mulai deh lebay nya. Memang kamu mau mengawali seperti aku. Menikah dulu dengan orang tua, yang untungnya patut disyukuri juga. Selama menikah dulu, suamiku tidak pernah sekalipun minta aku untuk melayaninya. Jadi aku bisa memberikan yang pertama untuk kak Ditya suamiku sekarang." dengan hati bahagia, tanpa sadar Naura mengungkapkan isi hatinya.
"Ga mau... meskipun ending nya kamu beruntung Na. Aku tidak mau kalau harus menikah dengan orang yang lebih tua puluhan tahun denganku." seru Iin sambil menggerakkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
__ADS_1
Naura hanya tersenyum melihat reaksi dari sahabatnya itu. Akhirnya Naura segera mendatangi customer service dan menunjukkan member executive nya.
*******"**