
Novi, Jessica dan Samsuar datang ke kantor Firmansyah, karena mendapatkan kiriman salinan akta cerai dari pengacara Ditya. Mereka ingin melakukan konfirmasi dan menanyakan keberadaan putri keduanya itu. Tetapi mereka hanya ditemui oleh asistennya, dan saat ini mereka di ruang khusus tamu.
"Mohon maaf pak Firmansyah sedang tidak ada di tempat Bapak/Ibu, mungkin ada yang bisa saya bantu."
"Apakah kami bisa diberi informasi, sedang pergi kemana Bossmu?" tanya Samsuar dengan nada tinggi, tetapi Novi segera menggenggam tangan suaminya tersebut.
"Turunkan nada bicaranya mas!" bisik Novi.
"Kami tidak bisa menginformasikan posisi Pak Firmansyah pada orang luar, mohon dimaafkan!"
"Apa? Kamu tidak tahu, siapa posisi kami bagi Firmansyah? Kami ini mertuanya, dan ini kakak ipar laki-laki itu. Apakah kami masih dianggap sebagai orang luar?"
Asisten itu memandang mereka bertiga, kemudian mengambil nafas panjang.
"Mendadak pak Firmansyah ke Jakarta mencari pak Edward keponakannya. Maaf karena di keluarga Pak Firmansyah sedang ada konflik kecil, jadi saya harus hati-hati untuk menginformasikan dimana keberadaan beliau."
"Okay pak, kami memahami posisi anda. Tetapi apakah kalian tahu dimana posisi istri Firmansyah?" Jessica memotong perkataan asisten Firmansyah.
"Pak Firmansyah ke Jakarta, dalam rangka mencari Non Naura mbak, yang dibawa pergi oleh keponakannya, mas Edward."
"Maksudnya?"
"Mohon maaf Non, hanya itu yang kami tahu. Karena Pak Firmansyah, hanya memberi kami informasi via panggilan telpon. Kemarin sore pak Firmansyah perginya. Dan, saya masih banyak aktivitas yang lain. Permisi."
"Naura ada dimana pa? Naura putriku." Novi menangis menanyakan Naura pada suaminya.
"Sudah ma, ayo kita keluar dulu dari sini. Nanti kita bicara di tempat lain!"
****************************************
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Edward langsung mengangkat Naura dan masuk ke Instalasi Gawat darurat. Dia tidak mengira jika kondisi Naura akan selemah itu.
"Tolong segera diperiksa teman saya Suster!" tampak cemas dan khawatir, Edward segera menemui Suster untuk memeriksa Naura.
"Baik, tapi tolong masnya tunggu di luar ya. Karena pasien pingsan, maka kami akan bantu dengan peralatan oksigen. Dokter juga sedang menuju kesini, tapi untuk sementara karena keterbatasan tenaga medis di rumah sakit ini, dokter umum yang akan menanganinya."
Edward segera keluar dari ruang pemeriksaan, dan seorang dokter segera bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Naura. Berkali-kali Edward, memukul keningnya sendiri, dia sangat menyesal memaksa Naura yang belum makan dari pagi, untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh. Kejadian spontan yang menuntutnya harus segera membawa gadis itu pergi, karena dia juga menyadari bagaimana kekuatan Aditya dan keluarganya.
"Bang, ada rokok?" tanya Edward pada anak buahnya.
"Ini Tuan."
Edward langsung keluar dari IGD, kemudian menyalakan rokok sambil berdiri di depan rumah sakit. Sudah lama dia tidak menikmati rokok, tetapi hari ini dia membutuhkan pelampiasan.
"Mau saya pesankan kopi Tuan?"
"Ini Tuan kopinya, diminum langsung mumpung masih panas. Lumayan untuk menghangatkan badan!"
Edward menerima kopi dari anak buahnya, kemudian menyesapnya. Benar yang dikatakan anak buahnya, rasa sedikit hangat menjalar ke tubuhnya.
******************************************
Akhirnya tengah malam, Naura dipindahkan ke kamar rawat inap. Edward dengan sabar menunggu di samping bed rumah sakit. Terlihat tabung oksigen, selang yang mengalir lewat hidung, dan infus yang menyalurkan nutrisi tampak menghiasi Naura.
"Maaf Tuan, untuk pemeriksaan lebih intensif baru bisa dilakukan besok pagi. Karena yah, maklum rumah sakit ini berada jauh dari kota. Jadi kalau malam hari ada keterbatasan tenaga medisnya. Pemeriksaan di laboratorium juga baru besok jam 7 bisa dilaksanakan." suster perawat memberi tahu Edward agar menunggu sampai besok pagi.
"Iya Sus, dari indikasinya kira-kira teman saya ini sakit apa?"
"Kalau analisis sementara dari dokter sih, faktor kecapaian, kurang asupan nutrisi, dan sepertinya ada sedikit depresi pada pasien. Tapi tidak perlu dikhawatirkan dengan sangat mas, nanti setelah dirawat dengan baik, saya yakin kondisi mbaknya akan segera pulih."
__ADS_1
"Apakah saya bisa konsultasi dengan Dokter yang memeriksanya tadi?"
"Mohon maaf mas, kasihan dokternya juga kecapaian. Biar istirahat dulu, lebih baik esok pagi mungkin masnya bisa konsultasi. Saya tinggal dulu ke depan ya mas!"
"Baik, terima kasih suster."
Edward memutuskan untuk beristirahat dulu di rumah sakit. Dia yakin, anak buah Ditya tidak akan mengira jika dia dan Naura sedang berada disini. Sebelum membaringkan tubuh untuk istirahat, Edward berdiri dan melihat Naura lebih dekat. Dia mengusap pelan wajah pucat gadis itu, dan melihat nafasnya yang teratur. Edward tersenyum, kemudian dia beranjak untuk mengistirahatkan tubuhnya di sofa di depan Naura.
"Selamat malam Naura, mimpi indah!" bisik Edward sambil memejamkan matanya.
*********************************************
Ditya memasuki helikopter bersama Pradipta, dan dua pengawal mengikuti di belakangnya. Mereka mau menuju ke Pulau Seribu, dan beberapa anak buahnya sudah diatur untuk mengamankan pelabuhan keluar dari pulau tersebut. Berdasarkan pantauan dari Dinas Perhubungan dan pihak kepolisian, dari rekaman CCTV, dilaporkan bahwa pada malam hari terlihat seorang laki-laki mengangkat perempuan menuju speed boat dari pelabuhan Kaliadem Muara Angke.
"Kamu yakin, jika yang disampaikan pihak kepolisian itu Naura Dity?" Pradipta yang nampak kelelahan mendampingi sahabatnya, menyandarkan kepala sebentar di sandaran kursi.
"Siapa lagi Dipt, memang ada orang yang berani gambling naik* speed boat* malam-malam hari. Aku hanya berharap semoga Nauraku baik-baik saja!" Ditya tidak berhenti memikirkan stamina Naura. Dari pagi sudah diajak pergi naik mobil ke Jakarta, dan sampai malam hari masih harus menyeberang ke pulau Seribu.
"Sebegitu besarnya pengorbanan dan usaha yang kamu keluarkan untuk mencari gadis itu Dity. Apakah kamu betul-betul ingin mendapatkan gadis itu untuk menjadi pasanganmu, ataukah hanya obsesimu akan tantangan?"
"Jaga bicaramu Dipt! Aku sedang capai dan emosi. Berapa kali aku harus mengatakan padamu, hanya Naura yang akan menjadi pendampingku di masa depan." sahut Ditya dengan nada tinggi.
"Okay, jangan marah sobat. Aku hanya mengukur sedalam apa perasaanmu pada Naura. Sudahkah kamu juga memikirkan cara, untuk memberi tahu Tante dan Om Prast."
"Aku tidak peduli Dipt, terserah papa dan mama akan setuju atau tidak. Aku hanya akan menikahi Naura. Sudah tutup mulutmu Dity, sebentar lagi kita sudah akan sampai."
Dengan rasa prihatin Pradipta menengok ke arah sahabatnya itu, dan dia tersenyum miris. Tetapi tidak ada sepatah katapun yang dia keluarkan.
*************************
__ADS_1