
"Naura, atas alasan kemanusiaan dimana saat ini kamu sedang hamil anak Ditya, aku menerima kamu sebagai menantuku. Tetapi, itu tidak berarti aku sudah menerimamu dan memperlakukanmu seperti putriku sendiri. Masih banyak hal yang harus aku uji dari kamu, termasuk keseriusanmu pada putraku. Aku tidak menginginkan putraku hanya akan menjadi sapi perah bagi wanita-wanita sepertimu, yang hanya memanjat ranjang laki-laki untuk mencapai tujuannya."panjang kali lebar, Marina berpidato pada Naura. Saat ini mereka sudah berada di rumah kediaman Ditya.
"Mama..., kak Naura dan kita semua baru saja sampai di rumah. Tetapi mama sudah demikian panjangnya memberi kuliah pada kakak, tidak bisakah mama beri kak Naura kesempatan untuk istirahat?" Claudia adik kandung Ditya tidak tega melihat mamanya memperlakukan Naura seperti itu.
"Diam kamu Claudia, belajarlah dari pengalaman dan kehidupan orang-orang di luaran sana. Jangan hanya pergi, bermain, shopping menghabiskan uang orang tua!" kata Marina ganti mengomeli Claudia.
"Kak Naura, ikut Claudia yuk! Temani di belakang!" Claudia langsung menarik Naura dan akan membawanya pergi, tetapi dengan halus Naura menolak karena tidak enak meninggalkan mama mertuanya sendiri.
"Claudia, mama sedang menasehati kakak. Kita tidak boleh mengabaikan beliau!" kata Naura pelan.
"Sudah, tidak perlu kamu buat pencitraan di depanku. Banyak artis ibukota yang mencoba untuk memanjat ranjang putraku, tetapi Ditya tidak bisa goyah. Entah jampi-jampi apa yang kamu gunakan, sampai putraku bertekuk lutut padamu. Dari awal, aku sudah tidak setuju Ditya dikirimkan ke kota ini, sangat tidak masuk akal. Belum genap setengah tahun di kota ini, sudah bisa menghamili kamu." selesai mengomel, Marina langsung meninggalkan Naura dan Claudia yang tampak bengong melihatnya.
Sepeninggalan Marina, mata Naura berkaca-kaca. Tiba-tiba Claudia memeluk Naura, kemudian mencoba menghiburnya.
"Kak, kakak jangan diambil hati ucapan mama ya kak! Mama itu sebenarnya baik, cuma kami jujur merasa kaget kak. Kak Ditya baru tadi malam menelpon papa, minta pagi tadi kita sampai di kota ini. Bilang akan menikah, dan kak Ditya sengaja menyembunyikan kakak, sebelum akad nikah selesai, mama belum boleh ketemu sama kak Naura."
"Tidak apa-apa Claudi, memang kakak salah dalam hal ini. Jujur, sampai di masjid Agung, kak Naura juga belum tahu kalau ternyata kak Ditya akan mengajak Naura menikah. Tidak pernah ada pembicaraan sebelumnya kalau akan menikahi kakak, bahkan lamaran juga tidak ada. Makanya kakak bertanya-tanya dari tadi, ternyata surprise pagi ini yang sudah disiapkan kak Ditya dan Dipta." ucap Naura lirih.
"Ya Tuhan, sebegitunya kak Ditya. Berarti kak Naura sangat dicintai kak Ditya, bahkan papa sama mama sebenarnya bingung. Sudah sampai di usia kak DItya 29 tahun, belum pernah ada cewek yang dibawa ke rumah. Sampai mama sering membawa putri dari teman-teman mama untuk dikenalkan dengan kak DItya. Tetapi selalu ada saja alasan kak Ditya untuk kabur meninggalkan rumah."
__ADS_1
Naura tersenyum, dan tiba-tiba dia merasakan kelelahan luar dan dalam. Fisik merasa lelah, apalah psikologisnya, karena dari Masjid sampai di rumah mendapatkan omelan dari mama mertuanya. Sedangkan Ditya sedang berbicara dengan Pradipta dan papa mertuanya di ruang kerja. Tiba-tiba dia ingin istirahat.
"Claudi, kakak ijin mau masuk kamar dulu ya. Kakak mengantuk, karena tadi bangunnya lebih awal, karena harus make up."
"Baiklah kak Naura, selamat istirahat ya! Claudia juga mengantuk, mau tidur dulu."
Sesampainya di kamar, karena merasa gerah dan lengket semua badannya, Naura segera masuk ke kamar mandi. Dia meneteskan essential oil aroma theraphy di bath up, kemudian dia segera berendam air hangat didalamnya. Aroma therapy sedikit merilekskan pikirannya, kemudian khawatir masuk angin, akhirnya Naura segera mengakhiri mandinya. Setelah berganti piyama, Naura merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan tidak lama dia sudah terbang ke alam mimpi.
*************************************
"Mama tolong bersikap baiklah dengan menantu kita, Naura bukan tipe wanita seperti yang mama Pikirkan! Pokoknya papa tidak mau ada keributan antara mama dengan Naura." dengan tegas Prasetyo Pangestu berpesan pada Marina. Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar, setelah Prasetyo selesai berbicara dengan DItya dan Pradipta.
"Tanya putramu sendiri, Ditya yang mendatangi kamar Naura saat gadis itu sudah tertidur. Mereka berdua juga tidak tahu, bagaimana ceritanya sampai akhirnya mereka melakukan hal tersebut. Yang pasti Naura dijebak, dan sengaja akan diumpankan pada orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Papa tidak akan pernah mempermasalahkan latar belakang menantu kita, yang pasti Ditya sangat mencintai istrinya."
"Sudah pa, mama tidak mau kita ribut hanya karena gadis itu. Yang pasti pa, mama perlu menguji dulu sebenarnya bagaimana perasaan Naura pada Ditya, dan apakah betul-betul gadis itu tulus terhadap putra kita, dan tidak hanya mengincar harta kita."
"Terserah kamu ma, tapi jangan ada keributan di rumah ini! Papa mau istirahat."
"Memang wanita itu dimanapun, makhluk aneh yang sangat sulit dimengerti. Salah tidak mau mengaku salah, maunya dibenarkan." gerutu Prasetyo.
__ADS_1
Marina hanya melihat suaminya yang sudah naik ke atas tempat tidur, dia masih membuka sosial media untuk berchat ria dengan teman-teman sosialitanya.
"Jeng Marin.., kemana saja dari kemarin tidak join di arisan? Jeng Nuno tuh yang dapat, katanya putaran bulan depan, mau ngajak mutarnya di Singapore!" kata Tati teman arisan Marina.
"Iyakah? Okay, okay, no problem. Aku pastikan besok dateng Jeng Tati." sahut Marina.
"Sebenarnya dari kemarin Jeng Marin itu kemana? Jeng Lydia sempat mampir ke rumah lho Jeng, tetapi ART bilang jika Jeng Marin sedang keluar."
"Owalah, berarti yang dateng itu Jeng Lydia? Kenapa juga tidak kabar-kabari dulu, kemarin biasa baru jalan ke Senayan City karena tidak ada bahan masakan di kulkas. Dari tadi pagi aku sudah ada di kota Semarang ini Jeng, baru nemani putraku DItya."
"Mas Ditya, calon menantuku ya Jeng, ada apa kok minta ditemani tumben-tumbenan?" sahut Jeng Aline.
"Yah, biasa anak laki-laki jeng Aline. Besok saja kalau kita pas ketemuan, aku ceritakan semuanya!"
"Okaylah kalau begitu. Aku cabut dulu ya, mau nemani suami kondangan dulu."
"Yap, aku juga mau istirahat dulu Ibu-ibu."
Akhirnya grup whattsapps tempat para sosialita saling mengadu dan ngrumpi itu pada berpamitan, dan kembali menjadi sepi.
__ADS_1
***********************************