
Pukul 17, Ditya sudah kembali pulang ke rumah keluarga Novi dan Samsuar. Di tangannya dia menenteng dua paper bag yang berisi kue dan lauk untuk makan malam, dan langsung menaruhnya di meja makan. Kemudian karena tidak melihat istri dan putranya, Ditya langsung masuk ke dalam kamar.
"Sudah pulang kak.., kok tidak ucap salam dulu masuk kamarnya? Maaf Naura tidak mendengar jika kakak sudah pulang." Naura agak kaget melihat suaminya yang langsung masuk ke kamar.
"Selamat sore sayang.., maaf ya salamnya telat!" sahut Ditya sambil tersenyum menggoda.
Ditya menghampiri Ezaz yang sedang berguling-guling di atas bed, dan saat akan menyentuh putranya..
"Kak Ditya kotor.., cuci tangan dulu atau mandi sekalian! Sudah hampir Maghrib, pamali kata orang tua, datang-datang langsung memegang anak." Naura melarang Ditya untuk memegang Ezaz.
"Baik istriku sayang.., aku mandi sekalian saja. Siapkan baju ganti ya!" Ditya langsung masuk ke kamar mandi.
Tersenyum Naura kemudian berdiri dan menghalangi putranya dengan bantal dan guling agar tidak terguling ke bawah. Setelah memastikan Ezaz aman, dia segera menyiapkan satu celana pendek dan kaos serta pakaian dalam untuk ganti baju suaminya.
"Ci luk ba..." Naura mengajak Ezaz bermain. Ezaz terkekeh ketawa, saat Naura menutup kemudian membuka mukanya.
"Renyah sekali suara ketawa putra Daddy, sedang bermain apaan dengan Mommy sayang?" Ditya yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri mereka. Bau harum aroma sabun mandi menggelitik indra pencium Naura.
"Pakai baju dulu kak, malu dilihat Ezaz." bisik Naura.
"Ezaz belum tahu apa-apa sayang. Bilang saja jika istriku jadi muncul gai..rah saat melihat suaminya tidak mengenakan baju." bisik Ditya di telinga Naura sambil senyum menggoda.
__ADS_1
"Ah.. kak Ditya ge er. Sudah ayo to.., kenakan pakaian dulu!" sambil memerah pipinya Naura menyerahkan baju ganti yang dari tadi sudah disiapkan di atas kursi.
"Baik istriku sayang. Ezaz.. Daddy ganti baju dulu ya, takut kalau Mommy marah. Bisa-bisa nanti malam, Daddy tidak dapat jatah." kata Ditya sambil melirik genit ke arah Naura.
Naura hanya tertawa melihat kelucuan suaminya. Ditya langsung menerima baju dari tangan Naura, kemudian dengan cepat menggantinya. Setelah mengenakan baju dan menyisir rambutnya, Ditya bergabung dengan istri dan anaknya duduk di atas bed.
"Sampai kapan kita menginap disini Naura?" tanya Ditya serius.
"Menunggu sampai mama dan kak Jess bisa berdamai dulu kak. Bolehkan?" dengan khawatir Naura memandang suaminya.
"Boleh.., asalkan tidak selamanya. Karena akhir bulan, aku juga akan mengajak kalian berdua ke Jakarta. Kita ke tempat mama dan papa, sekalian Daddy ada meeting disana." jawab Ditya sambil tersenyum.
"Bagaimana tadi, sudah jadi keluarga kak Doni datang kemari menemui papa dan mama?"
"Sebenarnya Naura malu menceritakan hal ini dengan kak Ditya. Maaf kak, dari dulu memang mama itu terkesan materialistis dan sangat mengagungkan sosialitanya. Gaya hedonisme mama belumĀ berubah sampai sekarang, sampai tadi kak Jess mengungkit waktu memaksa Naura dulu menikah dengan Om Firmansyah." Naura menundukkan kepalanya, merasa malu dengan suaminya.
Ditya menengadahkan wajah Naura, kemudian memeluk gadis itu dan meletakkan kepala Naura di dadanya.
"Kamu adalah istriku Naura, tidak perlu ada rasa malu. Masalahmu adalah masalahku juga. Semoga malam ini, mama bisa berpikir dan papa bisa menenangkan hati mama. Sehingga besok, semua sudah dipecahkan dan ada solusi terbaik untuk semua."
"Iya kak Ditya.., Naura juga berharap seperti itu. Terima kasih kak."
__ADS_1
**************
"Tahu Naura mas, yang dulu kerja disini. Jika tidak salah pernah menjadi sekretaris wakil CEO di perusahaan ini?" Edward bertanya pada karyawan Ditya, karena siang ini dia sengaja datang ke warung depan perusahaan untuk makan soto. Dia memutuskan untuk mencari informasi sendiri tentang keberadaan dan posisi Naura.
"Naura sekarang sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ini mas. Sekarang sudah menjadi istri pak Boss, mungkin sudah tidak perlu lagi bekerja, lagian saat ini dia sudah memiliki satu putra laki-laki." salah satu karyawan Ditya menjawab.
"Tapi kemarin aku dapat informasi dari pak Toni, katanya mulai bulan depan ada divisi baru di perusahaan kita. Dan karyawan yang akan ditempatkan di divisi itu sudah mulai ada rekruitment, dan sepertinya mbak Naura yang akan menjadi manajer divisinya." karyawan yang lain menambahkan.
"Wah.. kenapa tidak diambilkan dari karyawan yang sudah ada saja ya. Aku mau jika dijadikan karyawan dibawahnya mbak Naura. Lumayan dapat view menarik, sudah orangnya cantik, murah senyum, pintar lagi."
"Iya.. tapi ada tuh anak-anak dari divisi marketing yang diambil dan ditempatkan di divisi. Ada 2 orang, tapi katanya sih, kebenarannya kita lihat bulan depan saja."
Edward mendengarkan obrolan karyawan perusahaan Ditya, matanya dari tadi tidak lepas dari halaman perusahaan. Dia sangat berharap dapat memandang wajah gadis yang tidak dapat dia lupakan itu, meskipun hanya sekejap.
"Kok tadi masnya menanyakan tentang mbak Naura, apakah masnya kenal dengan mbak Naura?" tiba-tiba ada seorang karyawan yang bertanya pada Edward.
"Kami kenal baik kok, bahkan kami pernah tinggal dalam satu rumah. Karena sebenarnya kami itu saudara sepupu, tapi karena konflik keluarga, akhirnya kami terpisah. Dan dulu Naura pernah cerita jika dia bekerja disini, dan pernah juga sih, dua kali saya mengantarnya kesini." Edward terpaksa membohongi mereka, karena tidak mungkin dia akan menceritakan bahwa Naura dulu pernah menikah dengan Om nya.
"Mbak Naura itu ikut kerja disini sampai usia kehamilannya jika tidak salah 8 bulan. Kemudian cuti melahirkan, dan sampai sekarang belum masuk lagi ke kantor. Dulu tidak tahu kenapa, mbak Naura tidak pernah cerita jika dia itu istrinya Boss Ditya, bahkan teman-teman kantor yang perempuan banyak yang sirik, dan mereka sering menyindirnya. Tapi mbak Naura tidak pernah menanggapinya."
"Iya benar.., akhirnya kami kaget saat diundang pada acara aqiqah putranya ke rumah. Kami betul-betul malu, ternyata mbak Naura adalah istri dari Boss Ditya, tapi sekalipun mbak Naura tidak pernah bertindak sombong."
__ADS_1
Edward hanya tersenyum mendengarkan cerita kebaikan Naura, dan setelah mendapatkan alamat tempat tinggal terbaru Naura. tidak lama kemudian dia pamit meninggalkan warung itu.
*********************************