
Sepulang dari berkeliling di sekitar desa wisata dengan menggunakan mobil Volkswagen, Ditya mengajak Naura dan Ezaz istirahat menikmati kelapa muda. Menikmati langsung buah dengan serat merah di pinggir jalan menimbulkan kenikmatan tersendiri. Ditya dan Naura merasakan semua beban dan pikiran menjadi terlepas.
"Daddy..., itu burung apa Dadd, yang warna putih di tengah sawah?" Ezaz tampak kegirangan melihat rombongan burung yang berada di dalam sawah.
"Burung apa ya namanya, kalau ga salah burung bangau itu?" kata Ditya sambil menggaruk-garuk kepala. Dia juga tidak ingat, kemudian menyenggol istrinya.
"Iya itu burung bangau sayang, atau kalau di daerah sini sering disebut sebagai burung ******. Sejenis itulah..., untuk sekarang sudah jarang sekali, disini masih banyak karena masih ada sawah." Naura menambahkan penjelasan suaminya.
"Kalau yang sering dipesan Daddy kalau makan itu burung apa Momm? Bukan burung itu kan, kasihan.. masak dimakan Daddy." sahut Ezaz dengan gaya lucu.
Naura mengusap kepala Ezaz, kemudian membetulkan sedotan agar tidak tumpah air kelapanya.
"Kalau yang sering dipesan itu burung dara namanya, atau sering disebut sebagai burung merpati. Tuh.., coba Ezaz lihat yg terbang dan sekarang berhenti di dahan itu. Itulah burung merpati yang sering dipesan Daddy." Naura menunjuk burung yang bertengger di dahan pohon nangka.
"Wow.., bagus Mommy burungnya. Daddy.., besok tak boleh lagi makan burung merpati ya. Kasihan, kan lebih bagus jika dilihat terbang, bukannya dimakan. Ya kan Momm?" ucap Ezaz dengan polosnya.
"Ya Dadd.., dengar tuh kata Ezaz. Daddy harus lebih memiliki perikehewanan..., besok-besok lagi khusus Daddy harus merubah gaya hidup. Jadi vegetarian, Okay ." kata Naura sambil menggoda Ditya.
Tanpa diduga, Ditya langsung memeluk Naura dan memberi kecupan di pipinya. Muka Naura langsung merah, dia masih memiliki rasa malu meskipun dicium oleh suaminya. Apalagi saat ini mereka berada di pinggir jalan yang banyak orang lalu lalang. Tetapi bukan Ditya, kalau peduli dengan itu semua.
"Dadd..., lihat-lihat tempat dong! Ini tempat umum, tuh lihat.. kita jadi tontonan orang banyak." Naura menundukkan wajahnya ke bawah.
"Biarkan saja mereka melihat, masak cium istri sendiri harus ijin sama mereka. Ya gak Zaz .., apakah Ezaz kalau mau cium Mommy harus minta ijin sama orang lain?" Ditya bertanya pada Ezaz.
"No..., ini Mommy Ezaz.." seru Ezaz sambil berdiri dan ikut memberikan ciuman di pipi Naura.
"Good my boy.., give me five!" Ditya mengajak Ezaz melakukan TOS. Naura hanya geleng-geleng kepala melihat dua laki-laki dalam hidupnya itu tampak kompak.
__ADS_1
"Jalan lagi Yukkk! Masak cuman duduk disini saja." Naura berdiri kemudian meregangkan otot-ototnya.
"Okay my Queen..., yuk jalan ke pematang sawah!" Ditya langsung menggendong Ezaz dan mengajak istri dan putranya jalan-jalan ke pematang sawah.
Beberapa orang tampak tersenyum melihat keintiman yang ditunjukkan oleh pasangan suami istri itu. Tetapi Ditya tidak mempedulikan bagaimana pandangan orang tentang hidup mereka.
"Momm..., itu tanaman apa?" Ezaz menunjuk tanaman yang merambat di tanah.
"Itu ubi jalar sayang, yang umbinya sering dipakai untuk campuran membuat kolak. Yang daunnya kecil-kecil itu, tanaman kacang tanah. Kalau yang disana itu padi." Naura mengenalkan berbagai tanaman palawija dan padi pada Ezaz. Putra laki-laki Ditya itu menganggukkan kepala, mencerna semua penjelasannya yang diberikan oleh Mommy-nya.
*********
Pradipta menghentikan mobilnya di halaman parkir hotel tempat Ditya dan Naura menginap. Hari ini dia dipaksa Claudia untuk mengantarkannya menyusul liburan kakaknya. Setelah mengunci mobil, mereka berdua berjalan menaiki tangga dari yang terbuat dari batu alam.
"Bagus banget view-nya kak Dipt.., kak Ditya pinter milih hotelnya." kata Claudia. Sambil berjalan menuju lobby, dia mengagumi arsitektur hotel dan pemandangan indah yang ada di hadapannya. Pradipta tersenyum, kemudian merangkul kekasihnya itu, dan mengajaknya menuju lobby.
"Kak Dipt mau dibunuh sama kak Ditya?" jawab Claudia sambil tersenyum menggoda.
"Ha .ha..ha.., menyerah aku kalau harus urusan sama kakak kamu itu." sahut Pradipta sambil menyentil hidung Claudia.
Pradipta segera menuju ke meja receptions. Petugas jaga langsung berdiri melihat kedatangan Pradipta dan Claudia.
"Ada yang bisa kami bantu?" dengan ramah, petugas menyapa mereka.
"Mau nanya informasi dulu mbak, bisa dicek untuk reservasi atas nama Aditya Herlambang Pangestu booking kamar untuk berapa hari?" tanya Pradipta.
"Sebentar kami cekkan dulu ya kak!" petugas jaga kemudian melihat ke layar komputer yang ada di depannya. Setelah menunggu beberapa saat,..
__ADS_1
"Untuk reservasi kamar atas nama Tuan Aditya Herlambang Pangestu booking untuk dua hari. Tercatat mereka harus check out besok siang pada pukul 12.00. Ada lagi yang bisa kami bantu?"
"Okay.., jika begitu siapkan dua kamar untuk kami satu malam saja!" sahut Pradipta.
"Mohon maaf Tuan.., kebetulan hari ini pas weekend. Semua kamar sudah booked dari jauh hari. Dan hanya tinggal satu kamar, mungkin Tuan bisa twin sharing dengan pasangan." ucap petugas.
"Sebentar mbak, saya tanya pasangan saya dulu." Pradipta minta waktu untuk berbicara dengan Claudia. Dia menghampiri Claudia yang duduk di sofa tunggu.
"Claudi.., ternyata tinggal satu kamar saja. Kita mau pindah hotel, atau tetap disini tapi kita twin sharing." ucap Pradipta memberi tahu pada Claudia.
"Tanya dulu, kamar yang diambil kak Ditya tipe apa dulu. Kalau ambil tipe famili, nanti Claudia bisa tidur bareng Ezaz. Kak Dipt yang sendiri."
Pradipta kembali ke depan meja receptions.
"Maaf mbak, untuk room type yang diambil oleh saudara saya Aditya Herlambang tadi apa kita boleh tahu?" Pradipta menanyakan kamar Ditya.
"Kebetulan kamar yang diambil tipe famili Tuan."
"Okay.., jika begitu. Tolong satu room yang masih ada, dibook atas nama saya." Pradipta segera mengeluarkan dompet, kemudian mengambil KTP dan credit card dan memberikan pada petugas.
"Baik Tuan.., untuk pesanan atas nama Tuan Pradipta di harga Rp. 14.750.000 ya. Ijin untuk melakukan otorisasi." petugas mengambil credit card dan KTP Pradipta kemudian memproses pesanan. Tidak berapa lama,..
"Tuan.., ini kunci akses untuk masuk kamar. Untuk kamar kita tempatkan di kamar nomor 20, berhadapan dengan kamar yang ditempati oleh Tuan Aditya Herlambang Pangestu." dengan ramah, petugas menyerahkan kunci kamar. Kemudian dia melambaikan tangannya, tidak lama seorang pelayan perempuan menghampiri Pradipta.
"Tutik.., antar Tuan dan Nona ke kamar nomor 20 ya!" petugas memberi arahan pada pelayan yang bernama Tutik.
Setelah beberapa saat mengurus administrasi, Pradipta segera mengajak Claudia untuk beristirahat di dalam kamar. Tutik mengawal mereka menuju kamar sambil menjelaskan tentang fasilitas yang dapat mereka dapatkan selama menginap di hotel.
__ADS_1
*********