
"Edward..., kamu tidak perlu menjemput aku ke tempat kerja seperti ini. Apakah kamu tidak mau menghindar dari tatapan curiga orang-orang terhadap kita?" tanya Naura, yang merasa tidak enak, karena Edward kembali menjemputnya saat pulang kantor.
Tanpa pesan apapun pada Naura, di depan pintu gerbang akses keluar masuk karyawan, ternyata Edward sudah menunggunya. Mau menolaknya langsung, Naura tidak enak karena sebagai karyawan baru, dia tidak mau membuat keributan di tempat kerjanya. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut dengan Edward, dan akan menyampaikan keberatannya saat mereka sudah berada di mobil.
"Maaf Naura, aku sudah tidak peduli dengan omongan orang-orang tentang kita. Toh, aku hanya jemput kamu pulang kerja, tidak ada yang aku lakukan terhadapmu."
"Edward..., kamu jangan meremehkan hal ini Edward. Ingat Om Firmansyah, dia bisa mencurigai kita sedang menjalin hubungan. Aku hanya menganggapmu sebagai keponakan Edward, ingat itu. Kamu ini putra dari adiknya Om Firmansyah, jadi kamu ini keponakanku. Tidak ada rasa selain hubungan itu dalam hatiku." dengan tegas Naura menyampaikan posisi Edward dalam hatinya.
Edward tersenyum dan mencibir, dia menengok sebentar ke Naura, kemudian kembali fokus memandang ke jalanan yang ada di depanya. Dia mengendarai mobil dengan hati-hati dan pelan, berharap rumah tidak segera sampai.
"Aku tidak peduli dengan omongan orang, dan bagaimana kamu menanggapiku Naura. Yang perlu kamu tahu, aku sudah mendapatkan informasi banyak tentang hubunganmu dengan Om Fir. Kalian hanya sepasang suami istri dalam akta nikah, tetapi kalian tidak pernah menjalani kehidupan sebenarnya sebagai suami istri."
"Dan aku yakin, Om Fir akan melepaskanmu untukku Naura. Jika perlu, aku akan segera menyampaikan hal ini pada mama. Aku tulus mencintaimu Naura, tidak pandang apapun."
"Edward, aku sampaikan sekali lagi. Terserah kamu berpikir apa tentangku, dan hentikan di depan. Aku akan pulang nail Ojol, jika kamu terus mengoceh tentang masalah Cinta. Cinta dihatiku sudah musnah dan hilang saat aku memutuskan untuk menikahimu Om Fir." Naura mengancam pada Edward.
"Okay.., okay.., aku tidak akan bilang lagi hal itu padaku. Tetap di dalam mobil sampai kita di rumah." akhirnya Edward memutuskan untuk berhenti membicarakan perasaanya, daripada gadis itu turun di tengah jalan.
Naura menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, dia menatap jalanan dari kaca mobil di sampingnya. Edward tersenyum melihat Naura, yang terlihat begitu anteng duduk di sebelahnya. Tiba-tiba ponsel Naura berbunyi, dengan sigap Naura mengangkat ponselnya.
"Selamat Sore pak Dipta, ada yang bisa Naura bantu?"
"Dimana posisimu sekarang, bisa ketemu denganku sebentar. Ada yang mau saya konfirmasi terkait draft yang sudah kamu konsep tadi siang?" tanya atasan Naura di kantor, Pradipta.
"Pak Dipta sekarang ada dimana posisinya? Naura bisa kok langsung menuju kesitu, karena saat ini Naura posisi masih di jalan pak. Maaf pak, Naura pikir tadi sudah tidak ada kerjaan, jadi begitu jam kerja menunjukkan pukul 16.00, saya langsung pulang bareng Bambang."
"Oh, kamu sudah pulang? Besok lagi, kalau mau pulang ijin dulu ya sama saya. Siapa tahu, malam saya ada masih ada schedull. Sebagai sekretaris itu, tidak hanya menyiapkan surat menyurat saja Naura, bahkan terkadang saya minta ditemani bertemu client, maka kamu juga harus menemani saya."
"Iya pak, mohon maaf karena Naura belum tahu, tugas semuanya dari sekretaris. Jadinya Naura menemui Bapak dimana ya?"
"Sudah, besok pagi saja. Kamu datang sampai perusahaan jam 07.00. Temani saya menemui client pukul 08.00 pagi,"
"Baik pak, dan sekali lagi, mohon dimaafkan karena ketidak tahuan saya. Selamat sore pak Dipta."
__ADS_1
Setelah Edward melihat Naura menyimpan kembali ponselnya, Edward bertanya pada Naura.
"Kenapa, kena tegur dari atasanmu?"
Naura tersenyum kecut.
"Iya, habis Naura belum tahu tugas semuanya dari posisi sekretaris di perusahaan. Saya pikir cuman handle pekerjaan surat menyurat saja, jadi tadi begitu semua surat sudah terkonsep, dan terekspedisi, tanpa pamit Boss, aku langsung pulang."
"Itu kalau tugas karyawan bagian admin seperti itu Naura. Bahkan kamu harus siap, terkadang seorang sekretaris juga harus menemani Boss nya keluar kota. Makanya banyak kan terjadi affair antara sekretaris dengan Boss."
"Kok kamu malah do.akan aku seperti itu sih Edward. Gak, aku tidak akan tertarik pada laki-laki lain, kan aku sudah menikah dengan Om Fir. Tidak pernah marah, selalu mencukupi kebutuhanku."
"Hubungan suami istri itu bukan hanya seperti itu Naura. Bagiku suami istri itu ikatan yang sakral, tidak hanya seperti yang antara kamu dan Om Firm alami."
"Sudah, sudah.., masak kembali lagi ke situ. Langsung pulang saja Edward."
"Iya, iya, pangeran Edward siap mengantar Tuan Putri."
"Bagaimana Dipta, sudah kamu konfirmasi sama sekretarismu? Yang diinginkan dari perusahaan ini apa maunya?" tanya Ditya.
"Aku lupa kasih tahu sama Naura, apa tugas-tugas yang harus dia lakukan selaku seorang sekretaris. Ternyata dia sudah di jalan." Pradipta senyum sambil cengar cengir mempermainkan pulpen di tangannya.
"Ha...ha..ha, Dipta.., Dipta. Kamu selalu begitu, terus bagaimana kita menemui client ini. Kalau kita saja belum tahu apa mau mereka, masa kita besok jam 08.00 pagi sudah harus ketemu mereka. Atau minta pada Naura untuk re schedull saja!"
"Tenang Boss, tidak bisa tinggal berapa jam saja kita harus reschedull. Tenang, besok jam 07 Naura sudah janji akan sampai kantor. Jadi, terserah besok kamu mau langsung ke lokasi, atau berangkat bareng kita dari perusahaan. Aku akan bareng Naura sambil diskusi dulu."
__ADS_1
"Confident sekali kamu Dipt, mau ajak diskusi sama sekretarismu. Hm.., jangan-jangan kamu naksir ya sama sekretarismu itu. Jangan rubah hubungan manajerial dengan hubungan percintaanmu Dipt, mau kamu kemanakan Lita."
"Tenang Boss, yah, sekalian approach sama Naura tidak masalah kan. Dia anaknya Smart, baik, dan pasti cantik banget, swear. Kulitnya putih bersih." Pradipta membayangkan wajah Naura sambil senyum-senyum sendiri.
"Halah, bangun, bangun.., jam segini jangan ngigau kamu. Terus bagaimana penyelidikanmu siapa yang booking kamar hotel, sudah dapat informasi belum?"
"Sudah Boss, tenangkan hidupmu. Tapi untuk kebenaran siapa yang tidur dengan Boss di malam itu perlu kita teliti lagi lebih jauh. Yang menyewa kamar itu atas instruksi dari kekasih Firmansyah pemilik perusahaan di pelabuhan."
"Ehm..., terus?"
"Kekasihnya namanya Santi, inginmenjebak istri Firmansyah dengan gigolo yang sudah mereka bayar untuk bercinta dengan istri Firmansyah itu. Tujuannya yah, biasa lah. Perebutan pewaris perusahaan Firmansyah. Tetapi kamu bilang padaku, jika kamu tidur dengan gadis yang masih virgin. Tidak mungkin kan itu istri Firmansyah, karena umurnya saat ini sudah 60 tahunan."
"Selidiki terus Dipta, aku segera ingin bertemu dengan gadis itu. Dia betul-betul masih virgin, selidiki juga apakah Firmansyah memiliki putri. Jangan-jangan gadis itu putri dari Firmansyah dan istrinya."
"Iya, iya..., tapi ya sabar dong. Jangan setiap ketemu, selalu itu saja yang kamu tanyakan padaku."
************************************
Author sedang ikut Misi Kepenulisan
Judul
REVENGE: Terlahir Kembali
__ADS_1
Tolong baca ya, dan jangan lupa tinggalkan Like disitu!!! Terimakasih