PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Lamaran Kerja


__ADS_3

Ditya berjalan pelan masuk ke kamarnya, tetapi tidak menemukan dimana Naura. Setelah meletakkan tasnya, kemudian berjalan ke wastafel dan mendorong pintu masuk ke kamar Ezaz. Terlihat istrinya tertidur sambil duduk bersandar tembok di belakangnya. Setelah mencium pipi Ezaz, Ditya mengangkat istrinya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba Naura terbangun dan menggantungkan kedua tangannya di leher Ditya.


"Sudah pulang kak, maaf Naura tertidur tidak bisa menunggu kakak."


"Aku yang salah, tidak sempat memberitahu kalau pulang terlambat. Tadi ada tamu dari Jakarta, teman papa datang mau melihat-lihat produk perusahaan kita." kata Ditya sambil membaringkan istrinya di atas ranjang.


"Kakak sudah makan? Kalau belum, Naura siapkan dulu, kebetulan tadi Naura buat lauk kesukaan kak Ditya."


"Baiklah, aku mandi dulu ya. Mommy bisa menyiapkan makan malam untuk kakak, tapi jangan banyak-banyak ya!" sebenarnya Ditya sudah makan malam bareng teman papanya, tapi dia tidak mu merepotkan Naura yang sudah bersusah payah masak untuknya.


"Baik kak." Naura kemudian turun dari tempat tidur, kemudian ke walk in Closed untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Setelah menyiapkan baju di atas ranjang, Naura melangkah keluar kamar menuju dapur.


"Mau menyiapkan apa Non, biar bibi bantu?" ART bergegas menghampiri Naura, saat tahu majikannya menyiapkan makanan dan memanaskan di microwave.


"Bibi istirahat saja, Naura hanya memanaskan makanan di microwave saja, kebetulan Kak Ditya baru datang."


"Baik Non, kalau butuh apa-apa, panggil Bibi saja ya." ART meninggalkan majikannya yang tidak mau dibantu.


Setelah memastikan masakan panas, Naura menyiapkan di piring. Dengan menempatkan di nampan, Naura membawa makanan ke dalam kamar. Masuk ke dalam kamar, ternyata suaminya sudah selesai mandi.


"Terimakasih sayang, kamu ga ikut makan sekalian?" tanya Ditya menawarkan istrinya untuk makan.


"Tidak kak, kebetulan tadi sebelum menidurkan Ezaz, Naura sudah makan terlebih dahulu." Naura duduk menunggui Ditya makan, sambil mengambilkan ponselnya.


Saat mau melihat email masuk, Naura mendapatkan pesan dari nomor unknown lagi.


"Selamat malam Nauraku sayang, selamat beristirahat, dan titip salam ya untuk adik baby." dengan cepat Naura langsung menghapus pesan yang barusan dikirim.


Dia meletakkan ponselnya, tidak mau memancing keributan dengan suaminya.


"Baca apa Momm?" tiba-tiba Ditya mengajukan pertanyaan.


Tergagap Naura mendapatkan pertanyaan dari Ditya,


"Biasa kak, ngecek pesan masuk di WhatsApp."

__ADS_1


"Oh aku pikir, istriku ada janji dengan orang lain. Bagaimana Ezaz hari ini? Rewel tidak?"


"Tidak kak, tadi siang juga teman-teman Naura pada main ke rumah. Katanya pas kebetulan lewat daerah sini, akhirnya mampir deh. Jadi tadi lumayan sampai agak sore, Naura ada teman di rumah."


"Syukurlah jika begitu, tadi teman papa bilang. Akhir bulan mau mengadakan acara di Jakarta, nanti kita kesana ya! Apalagi aku belum pernah mengajakmu datang ke rumah papa dan mama."


"Jakarta ya? Yah, Naura ikut kakak saja."


"Nanti kalau kamu kurang nyaman tinggal sama mama dan papa, kita bisa menginap di apartemen. Kebetulan kakak juga punya apartemen di Jakarta."


"Ya kak." Naura langsung membereskan piring bekas makan suaminya, kemudian meletakkannya di luar kamar.


"Ngobrol apa saja tadi dengan ketiga sahabatmu?"


"Tadi pada cerita, ternyata Fikri lanjut kuliah. Dia ambil S2 di UNDIP, Akbar buka restoran. Kemudian Iin cari kerja, dan tadi Mommy cek sudah kirim email."


"Apa hubungan Iin cari kerja kok Mommy yang cek email?"


"Kak.., bantuin Iin ya! Dia lagi butuh kerjaan, tadi Naura minta buat lamaran sama kirim CV ke email. Maunya Naura, Iin kerja di perusahaan kak Ditya. Boleh ya kak?"


Mendengar permintaan Naura, istrinya yang selama menikah jarang meminta sesuatu untuk dirinya sendiri, Ditya tersenyum.


Naura berdiri dan memberi ciuman di pipi Ditya, tetapi suaminya yang tidak mau melepaskan. Tidak lama bibir Ditya sudah memagut bibir istrinya.


************


Dengan perasaan deg-degan, Iin memasuki gerbang perusahaan Aditya dan langsung menuju lobby. Melihat ada karyawan yang sedang berbicara dengan karyawan lainnya, Iin berjalan menghampiri.


"Permisi, selamat pagi..." Iin menyapa mereka.


Kedua karyawan itu menghentikan obrolannya, kemudian menghadap ke Iin.


"Selamat pagi juga..., ada yang bisa kami bantu mbak?"


"Mau nanya bisa ketemu dengan Divisi Human Resource?"


Karyawan itu mengerenyitkan dahinya, mereka saling berpandangan.

__ADS_1


"Apakah mbak.."


"Iin." sahut Iin cepat.


"Iya.., apakah mbak Iin sudah janjian terlebih dahulu? Ataukah ada keperluan?"


"Kalau untuk janjian belum ada mbak, tetapi tadi pagi saya mendapatkan pesan WhatsApp, jika hari ini jam 09.00 saya diminta menemui HRD untuk melakukan interview." tidak mungkin Iin menyampaikan bawa dia mendapatkan pesan dari Naura.


"Mbak Iin mengirimkan lamaran kesini? Tapi setahu kami, perusahaan belum membuka lamaran baru. Mbak Iin tidak kena tipu kan?"


Bingung menjawabnya, Iin hanya menggelengkan kepala. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia sampaikan pada karyawan tersebut.


"Atau saya bisa minta tolong, mungkin bisa dikonfirmasi ke divisi tersebut? Nanti akan jelas akhirnya, saya kena tipu atau tidak." ucap Iin.


"Bagaimana ini Ron? Kira-kira pak Irwan marah tidak ya, jika ternyata mbaknya ini hanya kena tipu?" bisik karyawan perempuan pada temannya.


"Ya kita coba saja dulu, nanti kalau marah kan kita berdua yang akan kena. Tadi aku lihat, pak Irwan sudah ada di ruangannya."


"Baik.., coba aku ke dalam sebentar ya. Nitip kalau ada tamu yang lain sebentar ya Ron! Semoga pak Irwan baru free."


"Tunggu sebentar ya mbak Iin. Atau mbak Iin duduk dulu saja, akan saya tanyakan dulu pada manajer divisi."


"Baik mbak, terima kasih."


Iin kembali duduk di kursi tunggu yang ada di lobby. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan saat melihat ke depan, Iin melihat security mengawal suaminya Naura.


"Aku menyapa tidak ya? Yah, kalau suami Naura ingat aku, nanti aku dipikir sok kenal. Tapi kalau dia ingat aku, dipikirnya aku sombong." pikir Iin.


Tetapi Ditya langsung masuk ruangan tanpa melihat kanan kiri, dia tidak menyapa balik karyawan yang berpapasan dengannya.


"Ternyata sombong bener suami Naura, .. tapi lumayan juga, kan aku jadinya tidak perlu harus bingung menyapa atau tidak." batin Iin sambil tersenyum.


"Mbak Iin.., tunggu disini dulu 10 menit ya! Pak Irwan baru dipanggil pak Dipta sebentar. Pak Dipta itu asisten pribadi sekaligus Wakil Chief Officer disini." tiba-tiba karyawan lobby mengajak bicara Iin.


"Oh iya mbak, terima kasih ya bantuannya. Saya akan menunggunya."


Iin kembali menunggu pak Irwan di kursi lobby, dan untuk mengisi waktunya dia memainkan ponselnya.

__ADS_1


****************


__ADS_2