
Naura merias wajahnya dengan tipis, kemudian mengganti bajunya dengan baju yang didatangkan ke rumah dari butik langganan keluarga Firmansyah. Setelah selesai, dia menyiapkan dirinya berangkat ke acara, yang dia sendiri juga tidak menanyakan pada suaminya. Dia hanya akan mengikuti suaminya, tidak untuk menolak keinginan suaminya.
"Ya Tuhan, Non kenapa malam ini, Non Naura terlihat sangat cantik sekali." seru Bi Ijah dari arah ke dapur.
"Ah Bi Ijah bisa saja. Yang cantik itu baju yang Naura kenakan Bi. Memang sangat cantik sekali bajunya, jadi Naura ikut terbawa cantiknya."
"Non itu mesti lho, bisa mengalihkan. Non mau kemana, pergi sama Tuan ya?"
Naura hanya menganggukkan kepalanya.
"Tuan dijaga dengan benar ya Non. Jangan sampai ada wanita lain yang akan merebutnya." bisik Bi Ijah takut terdengar oleh Tuan Bossnya.
Naura tidak menanggapi omongan Bi Ijah.
"Kalau ada yang mau mengambil ya silakan. Malahan aku terbebas dari penjara ini." Naura membatin sendiri, tapi kemudian dia menutup mulutnya.
"Tuan itu meskipun usianya sudah akan menuju 60 tahun, tapi Tuan belum pernah menikah lho Non. Tidak tahu apa sebabnya, padahal Tuan itu juga pernah pacaran."
"Tapi yah begitulah, hanya sama Non yang akhirnya bisa menikah. Yah, mungkin karena bermaksud untuk menjaga Non, jadi Tuan kemarin tidak membuat acara ramai-ramai waktu menikahi Non."
"Sudah Bi, ganti obrolan yang lain saja donk. Kebetulan Naura kurang suka ngobrolin orang lain."
"Ehm..," tiba-tiba terdengar suara Firmansyah.
"Maaf Tuan, Bibi tidak tahu kalau Tuan sudah ada disini. Bibi ke belakang dulu Tuan, Nona."
Melihat Tuannya sudah berdiri di dekat istrinya, Bibi Ijah segera pamitan untuk kembali ke dapur. Firmansyah tidak menjawab, kemudian mengajak Naura segera berangkat.
"Ayo." ajaknya singkat.
Naura tidak menjawab, tetapi dia mengikuti suaminya menuju garasi. Ujang berlari menuju garasi dan membukakan pintu di sebelah kemudi untuk duduk Naura.
"Terima kasih." ucap Naura pada Ujang.
"Sama-sama Non, sudah menjadi tugas saya." kata Ujang kemudian menutup kembali pintu mobil.
Tanpa menunggu lama, Firmansyah langsung menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan, hanya diisi oleh suara radio FM yang menyetel lagu-lagu masa kini. Naura yang sebelum menikah sangat menyukai musik, kali ini dia hanya diam tidak ikut menyanyi. Firmansyah juga sepertinya enggan mengajak Naura bicara.
Setelah sampai di lokasi hotel yang sekaligus apartemen, mall dan lainnya, Firmansyah menghentikan mobil di lobby.
__ADS_1
Tiba-tiba petugas hotel sudah membuka pintu mobil untuk Naura, dan akhirnya Naura keluar dari dalam mobil. Firmansyah melihat Naura, dan setelah mereka berdamping akhirnya berjalan.
"Selamat malam Tuan Firmansyah." sapa seseorang di dalam hotel.
"Acara ada di lantai berapa?"
"Roof top Tuan, ada di lantai 20. Perlu kami antar ke atas Tuan?"
"Tidak perlu."
Firmansyah dan Naura langsung menuju lift, dan di dalam lift ternyata sudah ada Pradipta dengan seorang perempuan.
Naura berdiri agak bersandar di sisi sebelah kanan lift, dan setelah menekan tombol untuk lantai tujuan, Firmansyah berdiri di samping Naura.
"Sepertinya aku kok seperti pernah melihat gadis itu ya." Pradipta berpikir sendiri, dan berkali-kali dia melirik pada Naura. Tetapi semakin dia berpikir siapa gadis itu, dia tetap tidak menemukan jawabannya.
Sedangkan Naura yang memang tidak pernah komunikasi dengannya, tetap cuek terdiam.
"Putrinya ya Tuan, cantik." kata Pradipta.
"Kamu Dipt, ga bisa lihat cewek melek dikit. Ehmm.., cuekin saja om." sahut cewek yang diajak Pradipta.
**************************
Setelah sampai di roof top, Firmansyah mendekat pada Naura kemudian menggandengnya. Naura reflek menarik tangannya, tapi Firmansyah melihatnya,. akhirnya dia membiarkan suaminya memegang tangannya.
"Naura...., pa ada Naura putri kita." seru Novi melihat putrinya sedang berjalan dengan digandeng tangannya oleh Firmansyah.
"Jaga sikapmu ma, tunggu mereka kesini. Naura sekarang ini istri dari Firmansyah, tidak semaumu saja." Samsuar menahan tangan Novi.
Novi melihat suaminya, tetapi akhirnya dia mengikuti saran dari Samsuar.
Firmansyah mengenalkan Naura pada teman-temannya, dan memberi tahu jika dia adalah istrinya.
"Ada papa dan mama mertua juga disini ya. Bagaimana kabar kalian, sehat dan aman?" Firmansyah mengajak istrinya menghampiri Novi dan Samsuar.
Mendengar panggilan Firmansyah untuk mereka, Novi merah mukanya. Kemudian dia memeluk putrinya, dan menumpahkan rasa kangen.
"Bagaimana kabarmu sayang, kok tidak pernah pulang ke rumah. Alamat rumahmu dimana sayang, kasih tahu mama. Kalau kamu repot, mama bisa datang ke rumahmu sayang."
__ADS_1
"Naura, ayo ketemu sama mitraku disana. Sudah ya ma, pa. Nanti kalau ada waktu kita ngobrol lagi." Firmansyah mengajak Naura menemui mitranya.
Naura tidak menjawab tapi kemudian mengikuti suaminya.
"Naura ikut om Firman dulu ya ma, pa."
"Iya nak." dengan berat hati Novi merelakan putrinya meninggalkannya berdua dengan Samsuar.
"Pa..., papa merasa ada yang aneh tidak dengan mereka?" tanya Novi yang merasa ada kejanggalan dalam hubungan putrinya dengan Firmansyah.
"Aneh? apanya yang aneh ma. Ya wajar kan, memang Firmansyah kan temannya banyak. Sudah tidak perlu banyak berpikir, ayo temani papa juga cari mitra baru disini."
Meskipun hatinya agak penuh tanda tanya, tetapi Novi mengikuti ajakan suaminya. Matanya mencari Naura dan Firmansyah, tetapi dia tidak dapat menemukannya.
Di sudut roof top, terlihat Santi yang tampa emosi melihat Firmansyah sedang membawa Naura. Dia mau menghampiri Naura yang sedang makan sendiri, karena ditinggal Firmanzah. Tetapi temannya melarang.
"Santi, kamu jangan gila ya. Apakah kamu tidak berpikir kalau cewek itu mengadu sama kekasihmu. Bisa diputus kamu nanti."
"Tapi kamu lihat tidak, bilangnya kemaren menikahi hanya untuk menyiksanya. Tetapi kenapa sampai diajak pada acara seperti ini."
"Yah, ini kan ketemu dengan banyak mitra perusahaan. Apa pikiran orang banyak, usia sudah hampir 60 tahun tapi belum menikah. Orang-orang akan berpikir kalau kekasihmu itu gay."
"Heh..., jangan bawa-bawa umur ya disini. Meskipun mas Firman usianya segitu, coba kamu bandingkan dengan anak-anak muda. Mereka seperti kakak adik."
Tiba-tiba matanya menangkap Firmansyah sedang berada di Corner minuman. Akhirnya dia melangkah untuk menghampirinya. Melihat arah Santi tidak menuju ke Naura, teman-temannya membiarkan.
"Sayang..., kok sendirian kesini. Kenapa tadi tidak mengajakku?" Santi memegang lengan Firmansyah.
"Kenapa kamu ada di tempat ini. Baru mengincar seseorang ya?" kata Firmansyah sambil menarik Santi agak ke pinggir.
"Aku diajak sama teman-temanku sayang, itu mereka ada di sudut. Mau kesana, nanti aku kenalkan dengan mereka."
"Tidak perlu, sudah jaga sikapmu. Jangan murahan, banyak mitraku ada disini." bisik Firmansyah.
"Iya, iya.., tapi cium dulu ya." kata Santi sambil mencium Firmanzah.
Dari kejauhan sebenarnya Naura melihat kedekatan suaminya dengan Santi, tetapi karena rasanya sudah mati jadi diapun tetap cuek dengan aktivitasnya. Naura malah duduk menunggu suaminya selesai dengan urusannya.
***********************
__ADS_1