
Malam itu juga, Ditya mengajak Naura dan Ezaz datang ke rumah keluarga Novi dan Samsuar. Semenjak mereka menikah, baru kali ini Ditya bersedia datang ke tempat mertuanya. Banyak perlengkapan yang dia bawa, karena membawa bayi, seperti orang yang mau bepergian satu minggu saja barang yang mereka bawa.
"Saya benar tidak perlu ikut Non? Nanti kalau Non Naura repot, siapa yang akan megang dan jagain Tuan Ezaz?" tanya Rina baby sitter yang biasa mendampingi Ezaz.
"Tidak apa-apa Rin, kan di tempat mama tidak ada anak kecil. Disana juga ada ART yang dulu mengasuhku waktu masih kecil. Kamu malah bisa istirahat dulu, bisa jalan-jalan dengan teman-temanmu."
"Baik Non, terima kasih."
Naura memang sengaja tidak membawanya, karena tidak ingin masalah keluarganya diketahui pihak luar. Sebenarnya Naura juga tidak yakin untuk mengijinkan suaminya ikut, tetapi Ditya ngotot untuk bersama-sama ke rumah orang tuanya. Meskipun sudah satu tahun, Naura menikah dengan Ditya, mungkin karena tanpa pacaran dan tanpa mengenal terlebih dahulu, mereka bisa menjadi suami istri, ada hal-hal yang bagi Naura sering sungkan untuk berbagi dengan suaminya. Padahal Ditya sudah berusaha untuk meyakinkan Naura, bahwa semua hal dan masalah perlu untuk saling menginformasikan dan memberi tahu. Sehingga mereka bisa saling menguatkan, tetapi Naura masih merasa berada di bawah bayang-bayang tekanan masa lalunya.
"Sudah siap berangkat Momm? Tidak ada yang tertinggal kan?" Ditya mengenakan celana jeans dipadu dengan sweater sudah siap di mobil.
"Sudah kak, kak Ditya nyetir sendiri, ga bawa driver?"
"Sekali-kali kita jalan bertiga, tidak ada yang recokin kita. Biar sekalian driver jaga rumah menemani penjaga."
Perlahan Ditya mulai mengemudikan mobil dan keluar dari pintu gerbang. Naura membetulkan gendongan Ezaz yang lelap tertidur.
"Mau cari oleh-oleh tidak buat Mama di rumah?" Ditya bertanya pada Naura.
"Tidak perlu kak, kasihan Ezaz dia baru tidur. Besok saja kita pesan online, atau delivery order saja."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Iya kak, Naura yakin di rumah juga banyak kue. Apalagi tadi Naura bilang sama mama, kalau Naura dan Ezaz akan menginap di rumah."
"Berarti yang boleh menginap hanya Ezaz? Suamimu tidak kamu mintakan ijin untuk menginap di tempat mama dan papa?"
"Memang kak Ditya mau nginap tempat mama? Rumah kami kecil kak, juga fasilitas tidak selengkap di rumah." Naura memandang ke arah suaminya.
"Tinggal di gubug derita saja, kakak mau dan bersedia sayang. Asalkan kamu selalu ada di samping kakak."
Naura tersipu malu, dan tangan kiri Ditya mencubit pipi Naura.
"Ya sudah, titik lokasinya betul kan? Kamu tidur saja, aku pakai share loc kok. Nanti jika nyasar, baru aku bangunin kamu."
**********************
"Edward.., kenapa kamu bisa sampai di kota ini? Jangan cari masalah lagi kamu, apakah kamu meragukan kekuatan yang dimiliki Aditya Herlambang?" Firmansyah terkejut karena malam ini dia pulang ke rumah, keponakannya sudah santai duduk di ruang tengah menonton acara televisi.
"Tetapi Om tidak mau, jika kamu sampai membuat masalah lagi. Jangan mencari Naura, dia sudah melahirkan bayinya! Banyak pengawal yang akan mengawasinya kemanapun gadis itu pergi."
"Apakah sedikitpun Om tidak mau test DNA pada bayi Naura? Om yakin jika bayi itu bukan hasil hubungan Om sendiri dengan Naura?"
"Jaga bicaramu Edward, apakah kamu merendahkan Om mu sendiri? Aku bukan pedofil Edward, Naura tidak pernah aku sentuh selama kami menikah. Aku menikahinya hanya untuk balas dendam terhadap kedua orang tuanya, bukan untuk yang lain. Tetapi melihat kepolosan dan kebaikan gadis itu, tidak sampai hati Om menodainya." tanpa sadar Firmansyah menceritakan rahasianya selama ini.
Edward terkejut dengan jawaban dari Omnya, kemudian perlahan dia menyesap kopi dari cangkirnya.
__ADS_1
"Tuan Firman sudah pulang. Mau Bibi buatkan minuman panas Tuan?" Bi Ijah segera ke ruang tengah, saat melihat Firmansyah sudah pulang.
"Teh manis panas saja Bi." Firmansyah duduk di depan Edward.
"Om.., Edward ke kota ini untuk refreshing, tidak untuk berbuat aneh-aneh. Kebetulan besok siang, Edward akan menemui tamu di Hotel Santi*a. Tidak bolehkan Edward mampir kesini, jika Om keberatan, saat ini juga Edward mau pindah ke hotel saja."
"Sudah tetaplah disini, tapi pegang kata-katamu. Jangan membuat onar, dan jaga nama keluarga!"
"Siap Om!" Edward tersenyum penuh makna, dia memang membohongi Firmansyah. Dia datang ke kota ini hanya untuk melihat keadaan Naura, dia tidak dapat melupakan gadis itu, senyumnya, suaranya dan semua yang ada di diri Naura selalu tercetak di ingatan Edward. Berbagai cara sudah dia coba untuk menghilangkan pikirannya dari gadis itu, tetapi semakin dia berusaha malah hatinya semakin sakit. Rossie dan suaminya sudah berusaha mendekatkan Edward dengan putra teman-teman bisnisnya, tetapi semua berakhir dengan kegagalan.
"Bagaimana kabar mama dan papamu? Kenapa mereka tidak datang ke Indonesia?"
"Mereka berdua baik dan sehat Om. Cuma akhir-akhir ini papa mudah terserang kelelahan, makanya sebagian perusahaan papa sudah dibalik nama Edward. Papa dan mama sebagai pemegang sahamnya, setiap keputusan yang Edward ambil, harus sepengetahuan papa."
"Baguslah kalau begitu. Tapi itu semua jangan menjadikanmu sombong, jumawa dan berniat untuk bersaing dengan perusahaan Aditya Herlambang. Itu namanya bunuh diri, silakan bermain pada pasar atau produk yang tidak digarap perusahaan milik putera konglomerat itu."
"Sebegitu besarkah Om, perusahaan milik Aditya?"
"Perusahaannya menggurita, dari hulu sampai hilir dia kuasai. Belum lagi perusahaan milik Ditya sendiri, yang dia bangun dan kembangkan tanpa bantuan papanya. Basis perusahaannya ada di luar negeri, jadi kita bukan apa-apa dibandingkan dia. Bahkan perusahaan Om juga ada investasi yang mereka tanamkan, saat Om kekurangan dana."
"Karena alasan itu ya Om, sampai Naura Om jual pada Ditya. Bahkan Edward keponakan Om sendiri saja, pernah meminta Om untuk melepaskan Naura, tidak pernah Om penuhi." Edward tersenyum sarkasme.
"Jaga bicaramu Edward! Om tidak pernah menjual Naura, karena taktik busuk Santi, akhirnya Naura bisa tidur dengan Ditya Herlambang. Santi menjebak Naura, dengan membuat skenario mengundangnya di hotel tersebut, dengan alasan acara perusahaan. Bersyukur, bukan gigolo sewaan Santi yang tidur dengan Naura, untungnya Ditya laki-laki yang bertanggung jawab."
__ADS_1
Edward terdiam, dia tetap tidak bisa menghilangkan bayangan Naura dari ingatannya.
**************************