PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Aku Kangen


__ADS_3

Sehari semalam Naura masih dalam keadaan koma, dan hasil diagnosis dokter sementara Naura mengalami Eklampsia. Hal tersebut dapat dipicu karena tingkat stres tinggi di awal kehamilannya, pola makan tidak teratur sehingga terjadi mal nutrisi. Ditya seperti orang yang kehilangan arah, tidak beranjak dari rumah sakit hanya untuk memastikan jika Naura bangun, dialah orang yang akan dilihat pertama kali oleh istrinya. Keluarga Naura sudah pulang, sebenarnya Novi ingin menunggui Naura tetapi tidka diperbolehkan oleh keluarga Ditya.


"Ditya.., kamu juga butuh istirahat nak. Pulanglah, biar papa atau keluarga Naura yang menggantikanmu disini! Setelah kamu istirahat, kamu segera bisa balik lagi kesini." Prasetyo menasehati putranya.


"Iya Dity.., ayo pulang bersama mama. Besok pagi kita kesini lagi, lihatlah penampilanmu nak! Atau paling tidak kamu mandi dan makan, baru kamu kesini lagi untuk menemani istrimu!" Marina ikut menambahkan.


Tetapi Ditya hanya menggelengkan kepala, belum mau beranjak dari tempat duduknya.


"Ternyata sebegitu besar perhatianmu untuk Naura Dity, kira-kira istrimu itu tahu tidak?" ucap Marina tiba-tiba, dia seakan tidak rela jika anaknya menjadi seperti itu hanya gara-gara gadis itu.


"Mama.., bisa tidak kendalikan jika bicara? Atau sudah mama pulang dulu saja, papa disini bersama Ditya!" mendengar perkataan istrinya, Prasetyo terpancing emosinya.


"Bukan begitu maksud mama pa? Hanya mama tidak ingin, masak Ditya jadi seperti ini. Ditya ini putra mama pa, masak dimana sih ada seorang ibu tega melihat kondisi anaknya seperti ini?"


Tiba-tiba Ditya berdiri, kemudian masuk ke ruang ICU tempat Naura dirawat. Prasetyo melotot pada istrinya, kemudian menariknya dan membawanya pergi. Ditya duduk di kursi, kemudian meraih tangan Naura dan meletakkan telapak tangannya di wajahnya.


"Sayang..., kenapa kamu tidurnya sangat lama? Aku kangen denganmu sayang, kangen senyummu, suaramu, dan semua yang ada di dirimu. Bangun sayang!" berbisik Ditya mengajak istrinya berkomunikasi. Tidak lama akhirnya Ditya tertidur di samping istrinya, dengan wajahnya berada di telapak tangan Naura.


**************************


Pradipta sampai di rumah sakit dengan membawa paper bag, dan satu kresek makanan fastfood. Dia melihat di depan ruang ICU tetapi terlihat sepi.


"Pada kemana semua orang? Kenapa jadi sepi sekali disini? Atau mungkin Ditya ada di dalam." Pradipta mendorong pintu masuk, dan terlihat sahabatnya Ditya sedang tertidur di kursi yang berada disamping ranjang Naura.


"Kasihan kamu Ditya.., semoga Naura segera sadar, dan bayi kalian baik-baik saja." akhirnya Pradipta duduk di sofa untuk tempat menunggu pasien.


Dia menyandarkan kepalanya di tembok, sembari istirahat. Karena sejak dia dikabari jika Ditya membawa Naura ke rumah sakit ini, dia juga belum sempat istirahat. Dia dari kantor langsung menuju Paragon mengkondisikan keluarga anak yang menabrak Naura, dan memberesi bill belanja barang untuk baby. Tidak berapa lama, Pradipta pun ikut tertidur di sofa.


Naura merasa sedang bermimpi terbang di lapangan hijau yang penuh dengan bunga-bunga. Banyak kupu-kupu warna-warni yang seperti menggodanya, dan dia ingin mengejarnya. Tetapi Naura merasa tangan sebelah kirinya terasa berat untuk diangkat, dia coba lagi, tetapi semakin terasa berat. Tiba-tiba Naura terjatuh, dan dia membuka matanya.


"Ada dimana aku sekarang?" gumam Naura yang mendadak kepalanya pusing. Saat dia akan menarik tangannya, dia merasa berat dan saat dia menoleh dia melihat suaminya tertidur di atas tangannya.

__ADS_1


"Ternyata barusan aku bermimpi, dan aku masih berada di rumah sakit. Kasihan kak Ditya, dia pasti kelelahan sudah menungguku disini." batin Naura.


Matanya berkeliling, dan melihat Pradipta sahabat suaminya juga sedang tertidur dengan menyandarkan kepalanya diatas sofa. Karena tangan kirinya mati rasa, Naura pelan-pelan mengangkat tangannya dan mencoba menggeserkan dari kepala Ditya. Tiba-tiba Ditya membuka matanya, dia terkejut karena tangan Naura bergerak.


"Sayang.., kamu sudah siuman? Aku panggilkan Dokter ya?" dengan cepat Ditya menekan tombol panggilan dokter yang ditempel di tembok bagian belakang.


"Dipta.., bangun! Istriku sudah sadar, cepat panggilkan Dokter!" melihat sahabatnya tidur di sofa, segera Ditya memintanya untuk memanggilkan Dokter.


Suster dan Dokter berlari menuju ruang ICU, dan segera mendatangi tempat tidur Naura.


"Tolong Bapak-bapak mundur sebentar ya! Kami akan melakukan pemeriksaan kembali kepada Ibu Naura!" dokter memerintahkan Ditya dan Dipta untuk keluar dari ruang ICU.


Dokter menyorot mata Naura dengan menggunakan Penlight senter, kemudian meminta Naura untuk membuka mulutnya.


"Bu Naura.., saat ini apa yang dirasakan?" tanya Dokter.


"Masih sedikit pusing Dok."


Bagaimana dengan kondisi bayi saya Dokter? Dia sehat kan?" tanya Naura pelan.


Dokter tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Suster siapkan suntikan vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh Bu Naura, kemudian setelah istirahat besok pagi kita amati lagi perkembangannya!"


"Baik Dokter."


"Bu Naura.., suntik vitamin dulu ya! Jika sudah stabil, besok baru diambil keputusan sama dokter."


"Keputusan apa Dokter?"


"Keputusan, bayi dilahirkan prematur atau Bu Naura bed rest sambil usia bayi cukup untuk dilahirkan sesuai usia kehamilan normal."

__ADS_1


"Baik Dokt, saya tunggu keputusan baiknya. Secara mental, apapun yang diputuskan Dokter saya siap Dok. Yang penting selamatkan bayi saya Dokt!"


"Sudah.., tidak perlu berpikir yang susah-susah Bu. Sudah selesai suntiknya, sekarang Ibu bisa istirahat lagi. Jika sudah bisa mengunyah makanan, usahakan makan! Mari," Dokter dan kedua perawat meninggalkan Naura di kamar.


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" baru saja keluar dari  ruang ICU, Ditya langsung mencegat Dokter dan menginterograsinya.


"Bu Naura sudah relatif stabil pak, tetapi untuk menjaga keadaan yang tidak diinginkan, malam ini masih harus di ruang ICU. Besok jika kondisinya tetap stabil, baru kita pindahkan ke kamar perawatan."


"Syukurlah, kemudian bagaimana dengan bayi kami?"


"Bayinya sejauh ini juga sehat, tetapi karena terjadi pergerakan bayi turun ke bawah, memang segera harus diputuskan untuk operasi Caesar."


"Selamatkan istri saya Dokter! Jika saya dihadapkan dengan pilihan, aku memilih istriku untuk diselamatkan!"


"Tenanglah Pak Ditya, sama-sama kita berharap dan berdo,a ya! Semoga Ibu dan bayi, bisa kita selamatkan dua-duanya. Silakan temani istri anda pak, saya akan kembali ke ruang jaga."


Ditya dan Pradipta segera masuk ke ruang ICU, dan Ditya langsung mendatangi Naura. Melihat suaminya masuk, Naura tersenyum


"Kak.., Naura ingin minum."


"Okay sayang, minum apa? Mau dingin atau panas?"


"Jika tidak merepotkan, pingin minum teh panas."


"Dipta.., pesankan bagian pantry atau pesankan di luar!"


"Kalau merepotkan, air mineral saja kak! Naura haus."


Dipta langsung berjalan keluar kamar, dan sambil menunggu datangnya Pradipta, Ditya mengambilkan air mineral.


"Kakak belum mandi ya dari tadi?" tanya Naura karena melihat suaminya acak-acakan dan masih mengenakan baju yang sama dengan tadi saat mereka pergi ke Paragon.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2