PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Komitmen


__ADS_3

Beberapa saat terlarut dalam interaksi intim dengan Claudia, Pradipta tersadarkan. Sejenak tadi dia lupa, bahwa saat ini mereka masih berada di pinggir pantai, dan untungnya dia berada di Sydney, yang interaksi seperti itu masih banyak diterima. Ciuman dan pelukan antara laki-laki dan perempuan, seperti menjadi hal atau kebiasaan yang sudah banyak dilakukan untuk mempererat hubungan mereka.


"Maafkan kakak ya Claud.., kakak tidak bisa menahannya." bisik Pradipta sambil menangkup pipi Claudia sambil menatapnya.


Pipi Claudia tiba-tiba memerah, bagaimanapun juga dia seorang perempuan. Dengan mudah dia menerima dan membalas perlakukan dari Pradipta dengan sukarela. Bahkan tidak ada komitmen apapun antara mereka berdua. Claudia melepaskan kedua tangan Pradipta yang masih membingkai wajahnya, dia tiba-tiba menjadi malu untuk menatap wajah laki-laki itu. Dia menolehkan wajahnya ke arah lain.


"Cup.." Pradipta memberikan kecupan singkat di keningnya kembali.


"Kak..," dengan lirih, Claudia memanggil Pradipta.


"Ada apa Claudi?? Apa yang mau kamu katakan pada kakak?" tanya Pradipta dengan suara lembut.


Gadis itu tidak dapat melanjutkan perkataannya, dia kembali mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Pradipta lebih mendekatkan tubuhnya ke arah adik sahabatnya itu, kemudian memeluk kembali Claudia seakan tidak mau melepaskannya.


"Claudia suka dipeluk Kak Dipta?" tanya Pradipta tiba-tiba sambil memegang wajah Claudia dan menghadapkan padanya.


"Suka.., tapi Claudia ga mau kalau kakak juga melakukannya pada perempuan yang lain." ucap Claudia lirih.


Mendengar jawaban Claudia, Pradipta kembali menangkap bibir merah kecil itu dengan bibirnya, dan kembali ciuman dan pagutan terjadi di pinggir pantai itu. Setelah hampir kehabisan nafas, Pradipta menghentikan ciumannya.


"Kamu jangan khawatir Claud.., hanya kamu yang bisa menggerakkan kakak untuk melakukan semua ini. Tidak ada yang lain." kata Pradipta sambil menatap mata gadis di depannya itu.


Claudia balas menatap mata Pradipta, seorang laki-laki yang selama ini sudah dia perlakukan seperti kakaknya sendiri. Dari kecil mereka sudah sering bersama, bahkan dulu laki-laki itu sering menemani dan mengajaknya bermain jika kakaknya Ditya mengabaikan. Tetapi akhir-akhir ini saat dia ketemu dengannya, selalu ada getaran halus dan keinginan untuk selalu bersamanya menjadi tinggi.


"Kenapa kamu malah melamun sayang?? Claudia.., sekali lagi maafkan kakak ya. Bukan maksud kakak untuk mempermainkan kamu, tetapi kakak tidak bisa lama lagi menyembunyikan perasaan kakak terhadapmu." ucap Pradipta lirih.


"Kakak menyayangimu Claudia.., lebih dari rasa sayang seorang Kakak terhadap adiknya. Kakak ingin memilikimu selamanya dan juga seutuhnya." Pradipta melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Maksud kakak?" mendengar perkataan yang diucapkan Pradipta, Claudia menanyakan maksudnya.


"Claudia.., kak Dipta menyayangi kamu, kakak cinta sama kamu. Maukah kamu menjadi pasangan kakak mulai hari ini." akhirnya Pradipta mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini. Rasa plong di hatinya muncul, saat dia berani mengatakan hal ini pada Claudia.


Claudia tidak menjawab ungkapan perasaan Pradipta, dia hanya menatap laki-laki itu tidak percaya.


"Kamu tidak perlu khawatir Claudia.., sepulang dari Sydney aku akan langsung melamarmu pada Om Prasetyo dan Tante Marina. Kamu milikku saat ini, dan aku tidak mau Claudi dekat-dekat dengan laki-laki lain." lanjut Pradipta.


"Claudi mau kak jadi pasangan kak Dipta." ucap Claudia lirih.


Mereka kembali berpelukan di pinggiran pantai Tamarama. Mereka tidak tahu jika sejak tadi, Ditya melihat interaksi mereka dari belakang.


*********


"Main saja tidak ingat waktu. Tahu tidak.., berapa jam aku menunggu kalian disini?" suara Ditya mengagetkan Pradipta yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.


"Seperti kamu tidak pernah melakukannya saja Dity. Sebagai kakakku, aku minta restu pertama kali darimu ya Bro. Aku dan Claudia resmi jadian hari ini." sahut Pradipta cengar-cengir, tetapi Claudia langsung melepaskan tangannya dan segera berlari masuk ke dalam kamar. Dia malu, hubungan awalnya dengan Pradipta langsung diketahui kakaknya.


"Aku bisa bunuh kamu Dipt. Tidak peduli kamu ini temanku atau bukan, jika aku tahu kamu memiliki niat mempermainkan adikku. Jadi, karena alasan ini kamu memaksaku untuk datang ke kota ini?" dengan nada tinggi, Ditya terlihat sedikit marah dengan Pradipta.


"Sabar dulu Broo.., bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk nembak Claudia disini, bahkan aku juga tidak mengajaknya kesini. Tetapi malah Om Prasetyo langsung mengijinkan aku membawanya, saat Claudia minta ijin sendiri sama Om." Pradipta memberi penjelasan pada sahabatnya itu.


Ditya melihat ke mata Pradipta, dan tampak kesungguhan apa yang dia sampaikan di matanya.


"Aku sangat mencintai Claudia Dity.., dan itu tidak main-main. Bahkan beberapa kali aku sudah menyampaikan hal ini padamu kan? Apakah kamu pernah tahu, aku menjalin hubungan dengan perempuan lain layaknya pasangan kekasih?" Pradipta terus melanjutkan penjelasannya.


Ditya terdiam, dan memang selama ini waktu yang dimiliki Pradipta dihabiskan untuk memberi pelayanan terhadapnya. Tidak hanya untuk urusan kantor, bahkan sampai urusan percintaan dengan Naura, semua dilakukan oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Dipt..., aku terbawa perasaanku!" Ditya langsung mendekat dan memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Titip Claudia, dia adikku satu-satunya. Jangan sakiti perasaannya!" ucap Ditya.


"Pasti tidak Dity. Perasaan yang aku punya untuk Claudia tulus, bahkan kalau kamu memintaku untuk menikahi Claudia saat inipun, aku akan melakukannya." dengan tegas, Pradipta siap untuk menikah dengan Claudia.


"Aku masih belum menemukan Naura dan Ezaz, kamu berani-beraninya bicara masalah pernikahan padaku." Ditya langsung menyentakkan Pradipta.


"Bukan itu maksudku Dity, itu hanya untuk menekankan jika aku memang serius dan tidak main-main dengan Claudia." Pradipta membuat alasan pada Ditya.


Ditya terdiam sebentar, tetapi kemudian dia teringat sesuatu.


"Terus.., apa alasan kamu mengajakku kesini.Dan sebenarnya aku hanya diam, tetapi orang-orang melaporkan padaku jika papa juga berada di balik keberangkatan kita ke negara ini." Ditya bertanya pada Pradipta.


"Okay.. okay.., tapi kamu janji dulu untuk tidak terprovokasi. Ini baru dugaan awalku Dity..., aku juga belum memastikan kebenarannya." Pradipta memastikan jika Ditya bisa bertindak tenang.


"Ya, I.m promise."


Setelah mendengar janji yang diucapkan sahabatnya itu, Pradipta mengambil nafas sebentar. Dia menatap mata Ditya.


"Ini dugaan kecurigaanku jika Naura dan Ezaz ada di sekitar mansion ini. Apakah kamu ingat aku pernah bertanya tentang kota ini padamu?"


"What the f**k.., masalah anak dan istriku kamu tidak menyampaikan secara jujur padaku?" Ditya langsung berbicara dengan nada tinggi.


"Jangan salah paham padaku Dity. Ini semua baru dugaan, karena aku tahu bagaimana sikapmu akhir-akhir ini. Maka aku memilih untuk langsung ijin ke Jakarta mendadak. Aku diskusi dengan Om Prasetyo."


*********

__ADS_1


__ADS_2