
"Tidak tahukah kamu informasi tentang Edward? Jangan main-main dengan Aditya Herlambang!" Firmansyah melakukan panggilan telpon dengan saudara perempuannya, mama dari Edward.
"Tidak, aku tidak tahu apa-apa Fir. Dia melarikan diri ke Jakarta saja, tidak pamit denganku. Untung orang-orang papanya memberi tahu kami. Apa sebenarnya yang terjadi, ceritakan pada kakak!"
"Edward membawa Naura pergi, beberapa hari yang lalu dia memang menyatakan rasa ketertarikannya pada gadis itu. Tetapi Naura tidak menerimanya, karena dia memang masih berstatus sebagai istriku."
"Kenapa Edward jadi seperti itu? Bagaimana kamu mengawasi anakku di Semarang?"
"Sudahlah, tidak perlu kamu menambah masalah untukku. Sudah aku bilang, untuk tidak bermain-main dengan Aditya, malah nekad anak itu. Sekarang Aditya mengerahkan banyak orang untuk mencarinya."
"Lha kamu sendiri bagaimana mengawasi istrimu, sampai bisa dibawa pergi Edward. Sekarang apa hubungannya dengan Aditya Herlambang? Ceritakan yang lengkap, jangan sepotong-potong."
Firmansyah menceritakan apa yang telah dilakukan keponakannya itu, sampai membuat geger putra konglomerat terbesar di Indonesia. Rosi mama Edward, sampai tidak dapat berkata-kata membayangkan nasib putra satu-satunya jika sampai diketemukan Aditya.
"Fir.., cari Edward! Selamatkan keponakanmu itu! Dia satu-satunya putraku Fir." sambil menangis Rosi meminta Firmansyah untuk menyelamatkan putranya.
"Sudahlah Ros, tenangkan dirimu. Aku sudah berada di rumah Jakarta, ternyata Edward tidak ada disini. Tadi orang-orangku juga mencari di apartemennya, tetapi dia juga tidak pulang ke apartemen."
"Terus dimana putraku Fir? Kamu harus menemukannya cepat, sebelum putra Prasetyo Pangestu mendapatkannya. Aku ingin putraku utuh."
"Sudahlah Ros, aku tutup dulu telponnya. Nanti kita kabar-kabaran lagi, Aku mau mencari anak itu dulu!"
Firmansyah langsung mengakhiri panggilan, dan saat dia mau keluar rumah, anak buahnya tergesa-gesa masuk ke dalam rumah untuk menemuinya. Akhirnya dia menunggunya di dalam.
"Boss, tadi beberapa orang dari perusahaan papanya Edward melaporkan jika mereka kehilangan orang mereka. Setelah kita hubungi, katanya mereka sedang berjaga di Swi* Belhotel bandara. Tetapi mereka tidak mau mengaku, siapa yang menyuruhnya."
Firmansyah mencerna perkataan anak buahnya itu, kemudian.
"Kamu sudah kirim orang ke hotel itu belum? Aku curiga, jangan-jangan Edward yang mengaturnya untuk memberinya pengawalan. Ayo antar aku ke hotel tersebut sekarang juga!"
"Baik Boss, mari."
__ADS_1
*****************************************
Naura yang baru makan sedikit tadi pagi, sampai malam hari merasa tidak memiliki ***** makan. Dalam kamar hotel dengan seorang laki-laki yang memiliki perasaan terhadapnya, menjadikan dia lebih waspada. Berkali-kali Edward memintanya untuk makan, tetapi selalu ditolaknya dengan halus.
"Kamu bisa sakit Naura, berkacalah kalau kamu tidak percaya apa yang aku katakan! Badanmu jauh lebih kecil, dari terakhir kita ketemu."
"Aku belum lapar, aku ingin pulang Edward. Tolong pahamilah aku!"
"Beberapa hari lalu kamu menelponku untuk membebaskanmu, tetapi sekarang aku membawamu dan membebaskanmu. Tetapi kenapa dari tadi kamu malah minta kembali ke kota itu?"
"Masalahnya beda Edward. Kita bukan pasangan, dan kita juga bukan saudara. Kita tidak boleh seperti ini, aku hanya ingin pulang kembali pada keluargaku."
"Besok kamu akan ketemu dengan keluarga barumu di Sydney. Kamu akan aku bawa pulang kesana, aku akan menikahimu di negara itu."
"Edward, buang pikiran gilamu itu! Aku tidak akan menikahi siapa-siapa, aku sudah trauma dengan sebuah pernikahan. Aku ingin kembali ke pelukan mama dan papa, serta kak Jessica. Ayo Edward, antarkan aku kembali, atau ijinkan aku kembali pulang sendiri ke Semarang!" Naura merengek sambil menangis pada Edward.
"Tolong diamlah Naura! Kamu akan ikut denganku ke Sydney, kamu akan menjadi istriku Naura. Percayalah, aku bukan Om Firmansyah yang tidak tahu dan tidak bisa membahagiakanmu."
"Ternyata kamu sama saja dengan lainnya Edward. Kamu lebih gila dari Ditya, bebaskan aku!"
"Kapan orang kantor imigrasi datang? Keburu malam!"
"Masih pada tugas di bandara Tuan, mereka menunggu penerbangan terakhir lewat!"
"Oh iya Tuan, sekalian mau melapor. Sepertinya keluarga Tuan sudah tahu apa yang Tuan lakukan. Karena barusan Syamsul menelpon, katanya Nyonya Rosi menanyakan dimana Tuan Edward."
"Siapa yang membocorkan masalah ini? Aku yang akan menjelaskan sendiri apa yang aku lakukan pada mama dan papa. Tetapi nanti setelah kami sampai di Sydney."
"Kemungkinan besar Tuan Firmansyah yang memberitahukan, karena tadi Tuan Firman juga datang ke apartemen, dan saat ini sedang berada di rumah keluarga."
"Tingkatkan penjagaan di luar hotel. Jika ada apa-apa beri tahu aku secepatnya, biar aku segera menentukan sikap!"
__ADS_1
*************************************
Setelah mendapatkan kepastian jika Naura berada di hotel bandara bersama Edward, Ditya ditemani Dipta dan beberapa anak buahnya langsung melarikan mobilnya menuju kesana. Bahkan sebuah helikopter sudah disiapkan di helipad di atas hotel untuk menjaga kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
"Menurut informasi, malam ini Edward mendatangkan orang dari kantor imigrasi untuk membuatkan passport untuk Nona Naura Tuan."
"Passport? Berarti mereka akan lari ke luar negeri ya? Bagus, bagus." dengan senyum sinis Ditya mengomentari perkataan anak buahnya.
"Iya Tuan, orang tua Edward kan menjalankan perusahaan di Sydney. Karena papanya asli dari sana, kemungkinan mereka akan lari pulang ke rumah orang tuanya."
Pradipta berpikir bagaimana ide agar mereka bisa masuk ke kamar hotel tanpa menimbulkan keributan. Mendengar perkataan dari anak buah Ditya, dia menemukan sebuah ide.
"Kalau begitu, hubungi petugas imigrasi bandara. Pinjam baju dan perlengkapan mereka, mungkin kamu bisa menyamar jadi petugasnya Dity!"
"Maksudmu?" tanya Ditya sambil menoleh pada Pradipta.
"Kita mengelabui mereka, aku malas kalau nanti kamu menimbulkan keributan di hotel. Makanya aku pikirkan cara, agar kamu bisa menemui Naura di kamar hotel, sebenarnya lari ke Sydney itu, keinginan Edward atau malah keinginan Naura sendiri."
Setelah terdiam sesaat, Ditya menghubungi Direktur Jendral Imigrasi. Dia beruntung pernah berkomunikasi dengannya, saat menghadiri gala dinner bersamanya. Saat itu dia diminta untuk menemani papanya, mengantarkan pada acara tersebut. Dirjen sempat memberinya kartu nama, dan DItya menuliskan di ponselnya.
"Tumben sekali ini, putra konglomerat menelponku. Ada apa Dity?" tanya **roji Dirjend Inigrasi menyapanya.
Dengan singkat padat, Ditya menyampaikan apa tujuannya menelpon beliau. Setelah terjadi komunikasi beberapa saat, akhirnya **roji menyetujui idenya, dan mereka langsung diminta menuju bandara.
"Okay terima kasih bantuannya pak Roji, saya langsung menuju kantor imigrasi bandara Soetta sekarang juga."
"Dipta, kita langsung menuju kantor imigrasi. Pak Roji sudah mengijinkan, dan sudah memerintahkan timnya untuk menyiapkan apa yang akan kita pinjam."
"Bambang, masuk area bandara langsung. Turunkan kami di depan kantor imigrasi bandara Soekarno Hatta."
"Siap Tuan. Nanti kita tunggu di depan atau di halaman parkir?"
__ADS_1
"Tunggu saja!"
***************************