
Setelah selesai menikmati pesanan mereka, Fikri mulai mengajak bicara Naura. Iin dan Akbar ikut mendengarkan dan saling melengkapi apa yang disampaikan oleh Fikri. Naura memandang mereka, dia mencoba tersenyum, tetapi dia tidak dapat membohongi matanya sendiri. Tanpa dia dapat mencegah, matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaan yang disampaikan sahabatnya.
"Menangislah Naura, jika itu bisa mengurangi rasa sakitmu." kata Iin sambil memeluk Naura.
Naura membalas pelukan dari Iin, kemudian setelah beberapa saat, Akbar memberikan tissue padanya. Dia menggunakannya untuk menyeka air matanya.
"Maafkan aku teman-teman, kalian begitu baik padaku. Tetapi aku tidak memiliki kesiapan hati untuk menceritakan masalahku pada kalian semua."
Semua terdiam mendengarkan Naura bicara.
"Sebenarnya aku pada semester Gasal kemarin telah melangsungkan pernikahan dengan seseorang. Tidak ada yang tahu, bahkan keluarga besar dari mama dan papa juga tidak ada yang hadir dalam pernikahan itu." perkataan barusan yang disampaikan Naura sangat mengejutkan ketiga sahabatnya itu.
"Apa yang kamu katakan Naura?" tanya Fikri yang langsung melihat mata Naura.
Iin langsung menutup mulutnya, dia seperti tidak percaya apa yang barusan Naura sampaikan. Dia mengamati Naura dari atas sampai bawah. Naura menganggukkan kepala, kemudian dengan mata yang masih berlinang, dia melihat ke mata teman-temannya satu persatu.
"Bukankah usiamu sama usiaku saja masih tua aku Naura. Usiamu baru 18 tahun, kenapa kamu mengambil keputusan secepat itu Na?"
"Aku tidak dapat menceritakan latar belakangnya In, karena ini menurutku adalah jalan yang terbaik untuk menyelamatkan keluargaku. Toh, aku nikah dengan pria yang masih lajang. Dan aku juga sebagai istri pertama, meskipun usia suamiku lebih pantas aku memanggilnya dengan sebutan kakek." kembali air mata mengalir dari mata Naura.
Fikri memukul meja dengan menggunakan tangannya, sedangkan Akbar tidak berkedip memandang ke arah Naura.
"Siapa suamimu Naura, bolehkan kamu ikut mengetahuinya?" tanya Fikri dengan suara serak.
"Jika melihat rumah yang kamu tempati sekarang Na, aku yakin suamimu bukan orang sembarangan. Dia pasti memiliki posisi." sahut Akbar.
Mendengar ucapan Akbar, Naura melihat ke arah Akbar.
"Aku dan Akbar sudah mengikutimu pulang kemarin Na. Kami curiga, kenapa kamu sekarang terkesan menutup diri, bahkan sama-sama pulang bareng saja, kamu sering menolak tawaran yang aku berikan. Padahal kita bukannya sudah saling mengenal sejak SMA, kita bukan kenal hanya sebulan atau dua bulan saja."
"Iya Na, tetapi begitu pintu gerbangmu ditutup lagi sama anak laki-laki seusia kita, akhirnya kita putar balik. Apakah iitu rumah suamimu Na?"
Naura menganggukkan kepalanya, karena dia sudah tidak dapat lagi membohongi sahabatnya. Dia saat ini sudah sedikit lega, dengan memberi tahu masalahnya pada teman-temannya.
"'Suamiku adalah Tuan Firmansyah pemilik PT. Cemani." kata Naura pelan.
"Apa?" Iin langsung menyemburkan air yang baru dia minum.
__ADS_1
"Naura, dia kan sudah tua. Kalau tidak salah, usianya saat ini sudah hampir mendekati 60 tahun. Dia pantas menjadi kakekmu Naura, bukan untuk menjadi suami." seru Iin.
"In, tolong kecilkan suaramu. Kita di kantin saat ini, bukan di tempat khusus." Fikri mengingatkan Iin.
Mendengar seruan yang disampaikan Iin, Naura kembali menganggukkan kepala dan kembali menangis. Iin ikut menangis mendengar cerita yang disampaikan oleh Naura. Dia sama sekali tidak menyangka jika Naura si bunga kampus dengan segudang prestasi, harus mengakhiri masa lajangnya secara dini dengan seorang laki-laki tua.
********************************************************
Jessica uring-uringan di rumah, karena berkali-kali dia mencoba menghubungi adiknya Naura, tetapi tidak pernah bisa menyambung. Naura memang sudah mengganti nomor ponselnya, dan dia tidak menginformasikan nomor barunya pada keluarganya. Jessica merasa kangen, karena Naura belum pernah sekalipun pulang ke rumah, sejak dia memutuskan untuk menikah dengan Firmansyah. Dia ingin menjenguk adiknya, mama dan papanya juga tidak tahu dimana tempat tinggal Firmansyah. Karena dia sudah melakukan searching di internet, dia mendapatkan alamat rumah yang lama, dans aat dia menyambanginya ternyata mereka sudah tidak menempati rumah itu lagi.
"Ada apa Non Jess, kok marah-marah dari tadi. Jangan dibanting-banting lagi ya. Apa Non tidak kasihan dengan Bi Siti?" dengan sabar Siti berusaha mengingatkan Jessica.
Bibi Siti diam mendengarkan putri pertama majikannya itu. Jessica memang lebih dekat dengannya sejak masih bayi, daripada dengan mamanya Novi. Sejak bayi Jessica dan Naura sering ditinggal mamanya untuk kumpul-kumpul dengan teman sosialitanya.
"Non Jess kenapa tidak menanyakan alamat suami Naura pada Tuan Samsuar atau Nyonya Novi Non?"
'Itulah Bi, kebangetan kan mereka. Seperti tidak memiliki tanggung jawab pada putrinya sendiri. Begitu menjual putrinya pada orang kaya, kemudian tidak mempedulikan nasibnya sekarang."
"Non, jangan keras-keras bicaranya Non. Yang sopan ya Non, bicaranya. Nanti kalau Tuan dan Nyonya mendengarnya, Non Jess malah yang repot sendiri nantinya."
"Biarkan Bi kalau mama dan papa mau mendengarnya. memang kenyataannya seperti itu kan."
"Atau Non Jess bisa mencari Non Naura di kampusnya. Bibi yakin Non Naura tetap melanjutkan kuliahnya. Tidak mungkin, hanya karena menikah, Non Naura berhenti kuliah, karena bulan lalu Bibi masih menerima kiriman laporan kemajuan studi Non Naura dari kampusnya."
"Oh iya juga ya. Kenapa aku tidak kepikiran sampai disitu ya. Terima kasih Bi Siti. Memang di rumah ini hanya Bibi yang bisa menegrti aku."
Jessica langsung berdiri dan memeluk erat Bi Siti. Bibi SIti membalas pelukan Jessica. Setelah beebrapa saat, Jessica melepaskan pelukannya dengan Bi Siti, kemudian dia masuk ke kamarnya. Melihat putri pertama mmajikannya sudah membaik suasana hatinya, Bi Siti melanjutkan pekerjaannya di dapur.
__ADS_1
***************************************************
Keesokan harinya Jessica dengan ditemani pacarnya yang bernama Doni berada di kampus Sekolah Tinggi. Dia bermaksud untuk mencari Naura, tetapi dia tidak memiliki jadwal kuliah adiknya. Doni menyarankan agar mereka pergi ke Biro Administrasi Akademik untuk menanyakan jadwal kuliahnya. Akhairnya mereka saat ini sedang antri di loket pelayanan umum.
"Ada yang bisa kami bantu mbak?" petugas BAAK dengan ramah melayani Jessica.
"Cuma mau menanyakan jadwal kuliah adik saya bisa mbak. Namanya Naura Ramadha Samsuar jurusan Digital Business sekarang ada di semester 4."
"Tunggu sebentar mbak, saya cekkan dulu ya."
Setelah menunggu tidak sampai lima menit, petugas BAAK kembali memanggil Jessica sambil menyerahkan print out jadwal kuliah Naura.
'Mbak Cermati sendiri ya, ini sudah saya printkan."
"Oke, terima kasih mbak.'
Jessica menghampiri dan duduk di samping Doni. Sambil menggunakan stabillo, Jessica mewarnai jadwal kuliah adiknya.
"Untung kita datang pagi ya say. Ini ada jadwal kuliah Naura yang berakhir pukul 10.20, di ruang 109."
'Kalau begitu kita menunggu keluarnya Naura di depan kelasnya saja. Khawatirnya kalau di tempat lain, Naura nya sudah pulang." Doni menyarankan.
Jessica menyetujui saran yang diberikan Doni, akhirnya mereka menunggu Naura di kursi tunggu yang ada di depan kelas Naura.
__ADS_1
*****************************************************