
Setelah berhasil menghubungi Jessica dan Doni, Naura menyampaikan agar mereka berbesar hati untuk mengalah pada kedua orang tuanya. Jessica yang masih memendam sakit hati atas ucapan mamanya tidak mau berpendapat apa-apa, tetapi Naura minta tolong pada kakak iparnya untuk mengundang kedua orang tuanya untuk silaturahmi ke rumah mama Novi dan papa Samsuar. Karena niat untuk memperbaiki tali silaturahmi, akhirnya Doni menyanggupi untuk mendatangkan kedua orang tuanya.
"Kira-kira jam 11 siang, papa dan mama akan sampai ke rumah Na.., kak Doni ingin kamu juga berada disana ya! Karena Jessica belum bisa aku ajak bicara." chat dari Doni yang dikirimkan ke whatssapps Naura.
"Iya kak..., malam ini kami menginap di rumah mama kok. Kak Ditya dan Ezaz juga ikut menginap disini."
"Really??... Kakak tidak membayangkan bagaimana posisi tidur suamimu Na.., mesti banyak protes dan ngedumel dia, ha..ha..ha..?"
"Tidak kak.., suami Naura ikhlas-ikhlas saja kok. Tadi sudah Naura minta untuk sementara tidur di kamar tamu atau kamar kak Jess, tapi tidak mau. Itu sudah berbaring sama Ezaz." Naura tersenyum sendiri sambil melihat suaminya yang sedang rebahan di atas bed.
"Woww hebat sekali... Tumben-tumbenan dia, biasanya apa-apa harus excellent, dikit-dikit undang pengawal, pelayan... asisten. Kamu beri jamu apa Naura, sampai-sampai suamimu bisa tunduk padamu.. he..he..he.." Naura tertawa ngikik membaca isi chat dari Doni.
Sedangkan Ditya.. merasa ada yang aneh dengan istrinya, perlahan dia mendekat dan dari belakang mengintip isi pesan istrinya.
"Tidak ada jamu kak.., yah syukurlah suami Naura bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di rumah. Naura juga tidak pernah memaksanya kok, untuk mengikuti apa yang diinginkan Naura. Tetapi dengan sendirinya, apa yang diinginkan di hati kecil Naura.., tanpa disampaikan ternyata kak Ditya selalu bisa memenuhinya."
"He..he..he.., syukurlah. Selamat Naura.., semoga kamu menjalani pernikahan kalian saat ini sampai nanti. Cuma nitip sedikit ya, sampaikan pada Yudha. Jangan galak-galak sama orang lain, orang keder tahu baru melihat bayangannya.. ha..ha..ha."
"Besok Kak Don sendiri saja sampaikan ya! Sudah ya kak, selamat beristirahat dan jangan lupa acara besok! Titip salam untuk kak Jess." Naura mengakhiri chat untuk Doni.
"Okay.. sweet dream."
Naura baru saja menutup ponselnya, tetapi rasa geli ada di belakang telinganya, dan membuat tubuhnya mengalami rasa merinding hebat.
"A..ahhh.., kak Ditya, stop!" bisik Naura yang kaget, karena tadi dia jelas melihat suaminya sedang rebahan di samping Ezaz, tetapi saat ini sudah memeluk dan menciumi leher serta belakang telinganya.
"Kenapa sayang? Bahasa mulutmu beda dengan bahasa tubuhmu sayang, aku merasakan sepertinya tubuhmu malam ini menginginkan hal yang lebih." bisik Ditya sambil meniup lembut belakang telinga Naura.
"A..ahhh, sshh., kak." de..sahan dan desisan keluar dari mulut Naura.
"Aku menginginkanmu malam ini sayang? Boleh ya, ini hadiah untuk istriku karena telah menggunjingkan suaminya pada laki-laki lain."
"What??? Apa maksud kak DItya?" dengan ekspresi bingung Naura melihat ke wajah suaminya, tetapi dengan cepat bibirnya yang mungil langsung dieksplorasi oleh Ditya. Tanpa bisa menolak, Naura menikmati ciuman ganas yang diberikan oleh suaminya.
__ADS_1
"Kak... ada Ezaz disini? Jangan aneh-aneh. Aaa..hh" bisik Naura bercampur dengan suara de..sahan dari bibirnya. Tidak menunggu lama, baju atasan Naura sudah dilempar Ditya ke atas bed. Dengan penuh naf..su Ditya tidak dapat menahan lagi gai..rahnya, dan bibirnya sudah berpindah ke dua bukit kembar di bagian depan tubuh Naura.
Naura yang semula menolak, ikut mengimbangi dan mulai membalas perlakuan suaminya. Tiba-tiba mereka menghentikan gerakannya, saat melihat Ezaz menggeliat, Ditya dan Naura berpandangan mata sambil tersenyum. Setelah Ezaz kembali tidur, Ditya langsung mengangkat istrinya ke kamar mandi.
Akhirnya di malam yang dingin itu, uap panas dari dua tubuh manusia saling membelit, menyesap dan akhirnya saling menyatukan diri terjadi di kamar mandi itu.
*****************
"Masak apa Bi hari ini?" tanya Naura saat melihat Bibi menata hasil masakannya di meja makan.
"Masak rawon Non, karena di kulkas hanya tinggal daging. Belum sempat belanja ke pasar Non, jadi biar cepat Bibi buat rawon saja."
"Tidak apa Bi, sudah cukup kok. Ada telur asin Bi, biar Naura bantuin nyiapkan?"
"Ada di kulkas Non, sebentar Bibi ambilkan."
"Tidak perlu Bi, Naura ambil sendiri saja. Bibi melanjutkan kerjaan lainnnya."
"Baik Non, terima kasih."
"Mommy..., Ezaz haus. Lagi masak apaan Mom?" tiba-tiba Ditya menggendong Ezaz dan sudah berdiri di belakang Naura.
"Sebentar sayang, Momm bereskan ini dulu ya!'
Setelah menyajikan telur asin potong ke meja makan, Naura menata piring dan perlengkapan lainnya untuk sarapan pagi.
"Kak Ditya mau ke kantor pagi ini atau Off?"
"Maunya Off nemani kalian disini, tapi barusan Dipta nelpon, ada rekanan yang ingin bertemu langsung denganku."
"Sarapan dulu ya, Naura siapkan! Tapi pegangi Ezaz dulu."
"Iya istriku yang paling cantik. Temani juga sarapan paginya!"
__ADS_1
Naura tersenyum, kemudian mengambil nasi dan meracikkan rawon. Setelah semuanya siap, Naura mengambil Ezaz dari gendongan Ditya.
"Sekalian kamu duduk disini!"
Naura duduk disamping Ditya, sambil menggendong Ezaz.
"Aaa.." Ditya mengacungkan sendok di depan mulut Naura.
"Apaan sih kak? Naura malu..,"
"Ya ga bisa dong, masak suaminya hanya makan sendiri. Malu sama siapa, aku ga mau makan kalau Mommy ga ikut makan."
"Iya..., iya.. masak kayak gitu saja pakai ngambekan." akhirnya Naura membuka mulutnya, dan dengan tersenyum Ditya memasukkan sendok ke mulut istrinya.
Ditya dengan sabar makan sambil menyuapkan nasi ke Naura.
"Waduh..., ini seperti pengantin baru saja kalian Papa jadi iri..," papa Samsuar datang dan menggoda mereka.
Naura langsung tersipu dan memerah pipinya.
"Kalau disuapkan, berarti Naura pasti makan pa.., soalnya Ditya tidak bisa melihatnya sudah makan atau belum. Karena Ditya harus segera ke perusahaan, titip Naura sama Ezaz ya pa!"
"Pasti putri dan cucu papa aman disini nak, jam berapa mau berangkatnya?"
"Sekarang pa, ganti pakaian dulu. Kebetulan makannya juga sudah selesai."
"Oh gitu.., ya sudah hati-hati."
"Kami ke kamar dulu ya pa, kebetulan Ezaz sepertinya juga mau minum." Ditya langsung menggandeng Naura. Naura sebenarnya agak sungkan sama papanya, tetapi dia juga tidak berani membantah suaminya.
"Terus untuk pakaiannya gimana kak? Maaf, Naura tidak membawa baju kakak untuk kerja!"
"Tidak perlu pusing, ada Pradipta yang nanti akan menyiapkan. Kakak langsung berangkat ya, hati-hati jaga diri. Tidak perlu kemana-mana, jaga Ezaz!" Ditya mencium Ezaz dan Naura kemudian segera berangkat.
__ADS_1
**************
l