
Firmansyah tampak kalut setelah mendapatkan kabar dari Edward mengenai posisi Naura saat ini. Dia masih berpikir lurus, jika dia berani menyelamatkan Naura, dari putra konglomerat yang juga sekaligus pengusaha muda yang disegani seantero negeri ini, sama halnya dia akan bunuh diri. Tetapi dia juga berpikir jika status Naura saat ini masih sebagai istrinya. Seorang gadis yang rajin, polos, dan selalu tulus pada semua orang. Dia melarikan mobilnya ke apartemen Santi, dan melihat kedatangan laki-laki itu, perempuan itu menyambutnya dengan mata berbinar bahagia.
"Jangan ganggu aku Santi, aku mau istirahat!" Firmansyah langsung masuk ke dalam kamar, kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu sedang ada masalah apa mas, ceritakan pada Santi! Aku bantu mencari jalan keluar dari masalahmu." Santi langsung menghampiri Firmansyah, kemudian mencoba memijit tubuh laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Biarkan aku sendiri Santi, jangan buat aku tambah pusing!" serunya dengan nada tinggi.
Santi langsung berdiri dan meninggalkan Firmansyah sendiri sambil bersungut-sungut. Tetapi bolak-balik Firmansyah mencoba untuk tidur, matanya tidak dapat terpejam. Bayangan wajah Naura seakan menari-nari di matanya. Akhirnya dia bangun dan menghampiri Santi di sofa.
"Buatkan aku kopi panas!"
"Ya, tunggulah sebentar, akan aku buatkan,"
Tidak berapa lama, Santi sudah membawakan satu cangkir kopi panas, dan menghidangkannya di depan Firmansyah.
"Kamu kenapa mas? Apakah aku tidak boleh mengetahui apa yang sebenarnya kamu alami." tanya Santi lembut sambil memijit leher laki-laki itu.
Firmansyah menyesap kopi sebentar, kemudian meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
"Naura hilang." ucap laki-laki itu pelan.
"Apa, tolong ucapkan sekali lagi mas! Apakah benar mas berkata jika Naura hilang?" dalam hati wanita ini bersorak, karena ternyata tanpa mengeluarkan upaya apapun, wanita yang menjadi penghalangnya sudah pergi sendiri dari kehidupan laki-laki ini.
"Iya, sudah dari kemarin ternyata dia sudah tidak pulang ke rumah. Dan aku tak memiliki kuasa untuk membebaskannya. Aku bingung Santi."
"Maksud mas, apakah mas tahu dimana posisi Naura saat ini?"
"Naura ternyata dibawa sama putra konglomerasi negara ini, yang saat ini mengembangkan perusahaan di kota ini."
"Maksudnya Aditya Herlambang Pangestu, untuk apa dia membawa Naura? Apakah gadis itu punya kesalahan terhadapnya?"
"Kata Edward yang barusan pulang dari rumah Ditya, laki-laki itu tertarik dengan Naura, dan menganggapnya sebagai wanitanya." kata Firmansyah lirih.
__ADS_1
Suasana diam sebentar. Santi melihat bagaimana keadaan yang dialami Firmansyah saat ini. Dia seperti kehilangan hartanya yang paling berharga.
"Sialan kenapa gadis itu benar-benar beruntung? Aku tidak akan mampu jika harus berhadapan dengan putra konglomerat itu." batin Santi.
"Mas Firman.., bukannya mas harusnya bahagia? Tanpa kita berusaha sedikitpun untuk melepaskan gadis itu, dia sudah lepas sendiri. Akan sangat mudah bagi mas untuk menceraikannya dengan bukti perselingkuhan dengan laki-laki lain."
"Jaga mulutmu Santi!" seru Firmansyah yang sangat mengejutkannya.
Santi terdiam, kemudian dengan mata berkaca-kaca dia memandang Firmansyah.
"Apakah mas Firmansyah sudah mulai mencintai Naura? Lalu dianggap apa posisiku selama ini?" Santi berpikir sendiri, dan tanpa sadar air mata mulai menetes di pipinya.
Melihat Santi menangis, Firmansyah tersentak kemudian dia memegang kedua bahu Santi dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku Santi, aku lagi pusing. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka " ucap Firmansyah lirih sambil memeluk Santi.
********************
"Ada apa Dipt? Saat ini posisiku sedang ada di rumah, handle semua urusan kantor saat aku tidak ada disana!"
"Fuc" kamu Dity, kamu pulang tanpa memberi tahu aku. Kamu ingat tidak jika hari ini kita ada janji ketemu dengan Gubernur. Haruskah masalah perempuan lebih kamu utamakan daripada perusahaanmu?"
Ditya tertawa Smirk, sambil mengacak-acak rambutnya, dia berkata pada Pradipta.
"Saat ini Nauraku lebih penting dari semua urusan dunia ini Dipt. Dari kemarin kamu juga sudah tahu kan, bagaimana posisinya dalam hatiku."
"Tapi ingat teman, Naura itu istri orang. Kamu bisa kena tuntutan dari suaminya, kamu membawa lari istrinya."
"Silakan saja, aku tunggu jika suaminya berani membuat tuntutan terhadapku. Tugasmu menghancurkan perusahaannya."
"Oh Tuhan Ditya, Ditya..., aku baru tahu begitu Bucinnya kamu sama wanita."
"Hanya untuk ini, kamu menelponku. Urusanku banyak Dipta, bye."
__ADS_1
Ditya langsung memutuskan secara sepihak panggilan dari asistennya itu. Dia masuk ke dalam kamar, dan melihat Naura masih menangis tersedu di pinggir ranjang.
"Hentikan tangisanmu Naura, apakah aku menyakitimu? Sepertinya aku tidak melakukan apapun terhadapmu." dengan lembut Ditya bertanya pada Naura, kemudian dia duduk di samping wanita itu. Tangannya menyibakkan rambut Naura yang menutupi wajahnya, kemudian menghapus air matanya.
Naura menundukkan wajahnya tidak berani menatap Ditya, tapi tangan Ditya mengangkat kembali dagunya ke atas.
"Ini jadi bengkak kan matamu, sudah ya. Aku besok akan ketemu dengan Firmansyah, laki-laki yang tidak memiliki hati. Dia yang telah memenjarakan kamu selama ini."
"Dan semua orang yang telah menyakitimu, sudah aku dapatkan datanya. Selingkuhan laki-laki yang kamu sebut dengan suami, yang hampir menjadikanmu mainan gigolo di hotel waktu itu, sudah akan mendapatkan jatah masing-masing."
Naura memberanikan memandang wajah Ditya, wajah yang sangat tampan. Perlakuannya sangat berbeda dengan saat tadi berhadapan dengan Edward di ruang tamu.
"Naura juga wanita yang tidak baik. Naura sudah berkhianat dengan Om Firmansyah, suami Naura."
"Berkhianat? Selama tiga tahun kalian menikah, apa yang kamu dapatkan sayang? Apakah dia pernah memperlakukanmu sebagai seorang istri yang sebenarnya?"
Naura berpikir sejenak, memang selama ini suaminya tidak pernah menganggap dan memperlakukannya sebagai seorang istri. Tetapi dia merasa tidak masalah, dan menganggap suaminya sebagai kerabat.
"Tetapi Om Firman tidak pernah menyakiti Naura, dia sangat baik. Bahkan Naura merasakan mendapat Bapak angkat, dia membiayai kuliah sampai lulus."
"Ha..ha..ha., jangan naif sayang. Memberikan nafkah, atau sebagian hartanya padamu, itu sudah kewajibannya. Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal itu lagi. Besok aku pastikan, kamu sudah mendapatkan akta cerai dari dia."
"Kamu akan terus tinggal disini bersamaku. Kamu akan menjadi pendamping hidupku Naura. Tersenyumlah sayang."
Tanpa disangka, Ditya memberikan kecupan lembut di kening Naura. Gadis itu tidak bisa menghindar, karena tangan Ditya memegangi dagunya. Dari kening Naura, Ditya menciumi seluruh wajahnya, dan berakhir di bibir mungilnya.
Naura berusaha menggelengkan kepala, tetapi ciuman Ditya malah menyentuh daun telinganya. Berdesir dan merinding seluruh tubuh Naura, seperti ada magnet yang menariknya. Saat Ditya sudah mau bertindak lebih padanya, Naura seperti tersentak. Dia mendorong tubuh Ditya ke belakang, dan hampir jatuh ke lantai.
Ditya tidak marah, tetapi malah tersenyum.
"Aku akan sabar sayang." bisiknya di telinga Naura, kemudian dia berjalan keluar dari kamar.
*****************
__ADS_1