
"Na..., besok kamu akan wisuda. Papa dan mama akan kamu undang tidak?" Jessica bertanya pada Naura.
Selesai pemotretan dia menuju tempat tinggal adiknya dengan mengemudikan mobil sendiri. Doni tidak bisa mengantarnya karena sedang pulang ke luar kota untuk mengurus pembukaan cabang baru dari restorannya.
"Menurut kakak bagaimana, Naura perlu mengundang papa dan mama tidak? Kemarin rencana undangan dari kampus kan untuk dua orang, yang semuanya akan Naura berikan pada Om Firmansyah kak. Karena dengan Naura menikah dengannya, papa dan mama sudah tidak pernah mengirimi Naura uang. Sehingga uang jatah bulanan, Naura gunakan sebagian untuk membayar uang kuliah."
"Terserah kamu Na. Karena hal ini merupakan hakmu. Apakah kamu pernah bertemu mama dan papa?"
Naura terdiam, karena memang sudah hampir 3 tahun, dia menikah dengan Firmansyah baru sekali dia ketemu dengan papa dan mamanya. Itupun karena waktu itu tanpa sengaja, saat dia diminta mendampingi suaminya menghadiri sebuah acara jamuan.
"Maafkan Naura kak, Naura baru sekali ketemu dengan papa dan mama. Kadang Naura merasa sedih, kenapa tidak ada upaya dari papa dan mama untuk menemui Naura. Apakah mereka berdua menganggap bahwa sudah tidak ada lagi putrinya yang bernama Naura." akhirnya Naura mengungkapkan isi hatinya sambil menangis.
Jessica mendekat ke arah adiknya, kemudian memeluknya dan menghapus air matanya.
"Kalau kamu ingin mama dan papa datang di acara wisudamu, nanti kak Jess yang akan menyampaikan dan memaksa mereka untuk datang Na."
Naura menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu kak, nanti Naura akan bertanya dulu sama Om Firmansyah. Jika Om tidak bisa menghadiri, Naura ingin kak Jess dan kak Doni saja yang ada di acara wisuda Naura."
"Kamu tenanglah Naura. Ada ataupun tidak undangan, kakak dan kak Doni akan datang di acara wisudamu. Dan ada satu lagi kabar yang perlu aku sampaikan padamu Jess."
Naura menatap ke mata Jessica, dan kakaknya memegang kedua tangan Naura.
"Kakak dan Doni akan segera menikah Na. Tapi kakak tidak mau diramaikan pakai pesta, kakak sudah menyampaikan pada Doni untuk menikah di KUA saja. Nanti kamu harus datang ya Na, meskipun kakak dulu tidak menghadiri pernikahanmu."
Jessica tersenyum kecut, dulu dia memang sengaja tidka menghadiri pernikahan Naura di KUA, karena dia tidak pernah setuju jika adiknya menikah dengan laki-laki tua.
"Benarkah kak? Ya Tuhan, Naura ikut senang kak. Selamat ya kak, bisa menikah dengan laki-laki pilihan sendiri. Semoga kak Jess dan kak Doni akan bahagia sampai dunia akherat."
"Jangan bicara seperti itu Naura. Nanti kakak malah jadi sedih mengingatmu." mata Jessica sudah mulai tergenang air mata.
"Tidak apa-apa kak, do.akan saja Naura selalu kuat ya kak."
Kedua orang kakak beradik itu saling berpelukan. Bi Ijah tersenyum melihat keduanya dari belakang, kemudian dia menghampiri mereka di ruang tamu.
__ADS_1
"Non.., makan siang dulu ya. Bibi sudah siapkan semuanya di atas meja makan."
Naura dan Jessica langsung melepaskan pelukan mereka, saat mendengar Bi Ijah bicara di samping mereka.
"Terima kasih Bi Ijah. Ayo kak, kasihan Bibi sudah menyiapkannya. Kakak belum pernah kan makan siang disini, sekarang ayolah kak." Naura langsung mengajak kakaknya ke ruang makan.
"Bibi masak apa hari ini Bi?" tanya Naura.
"Cuma sederhana Non, sayur lodeh, tempe sama ikan goreng."
"Sayur lodeh, itu pas sayur kesukaan kak Jess. Tuh kak, Bi Ijah sudah punya feeling bagus kan, sudah masak sesuai sayur kesukaan kakak."
"Terima kasih Bi Ijah untuk semuanya, termasuk sudah ikut menjaga adikku kesayangan ini." Jessica mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama Non. Non Naura sudah pintar menjaga dirinya sendiri. Bibi hanya menemaninya saja. Saya tinggal ke belakang dulu ya Non, mau menyetrika baju dulu."
"Iya Bi, sekali lagi terima kasih."
Kemudian Jessica dan Naura keduanya makan siang bersama.
***************************************************************
Saat Firmansyah dan Edward sedang berada di ruang keluarga sedang melihat televisi, malam itu Naura menghampirinya. Kemudian dia duduk di samping Firmansyah.
"Selamat malam Om, sebelumnya mohon maaf. Naura mau menyampaikan sesuatu." Naura memberanikan diri memulai pembicaraan dengan suaminya.
"Hadeh Aunty, masak bicara sama suami sendiri seperti itu. Mana tidak ada mesranya lagi." sahut Edward meledek Naura.
Naura diam tidak merespon ledekan dari Edward. Sedangkan Firmansyah kemudian memandang pada Naura.
"Ada apa anak ini. Tetapi kasihan juga dia, orang tuanya yang materialistis, dia yang harus berkorban." Firmansyah berpikir sendiri.
"Ya, ada apa?" tanya Firmansyah.
"Besok pagi Naura akan wisuda, jika Om ada waktu dan berkenan, maka Om bisa menghadiri acara tersebut. Tetapi jika tidak ada waktu, maka tidak apa-apa Om." kata Naura pelan sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Edward merasa jatuh kasihan melihat ekspresi Naura, di awal dia hanya mengira hubungan antara Om-nya dengan Naura tidak menyedihkan seperti itu. Meskipun mereka sering terlihat saling mengacuhkan, Edward berpikir hanya untuk jaga image dari Naura. Tetapi akhir-akhir ini dan ditambah pemandangan malam ini, menjadikan Edward tidak tega melihat sebegitu kakunya Naura mau bicara dengan suaminya sendiri.
"Jam berapa?"
"Di undangan jam 8, tapi pukul 7.45 pintu masuk auditorium sudah ditutup. Jadi jam 7.30. diusahakan sudah hadir di lokasi."
Firmansyah diam sebentar, kemudian mengambil surat undnagan dari tangan Naura. Dia membukanya dan kemudian membacanya. Setelah itu dia menaruh di atas meja yang berada di depannya.
"Novi dan Samsuar hadir tidak."
Naura sedikit terkejut saat Firmansyah memanggil papa dan mamanya dengan namanya langsung, tetapi kemudian dia menghibur dirinya sendiri. Jika papa dan mamanya adalah teman kuliah suaminya, sehingga wajar jika memanggil nama keduanya secara langsung.
"Maksudku papa dan mamamu." Firmansyah meralat kalimatnya barusan, seakan mengetahui isi hati Naura.
"Tidak." jawab Naura singkat.
"Edward, besok temani Om ya ke acara undangan ini."
"Siap Om. Tenang Aunty Naura, besok Edward akan menjadi kameramen."
"Terima kasih, Naura akan istirahat dulu. Selamat malam."
Akhirnya setelah mendengar jika suaminya dan Edward akan datang di hari wisudanya, Naura ijin untuk istirahat. Sesampainya di kamar Naura menghubungi kakaknya Jessica untuk memberi tahu jika suami dan keponakannya akan menghadiri acara wisuda.
"Tenanglah Naura. Kakak sudah memiliki dua kartu undangan untuk acara wisudamu besok."
"Benarkah kak, darimana kakak mendapatkannya. Karena beberapa hari yang lalu, Naura tanya ke Baak, katanya sudah tidak mengeluarkan lagi kartu undangan tambahan."
"Sudahlah, yang penting besok kakak dan kak Doni akan datang. Sekarang Naura istirahat ya, dan pesan sama Ujang jika kakak mengirimkan make up artist untuk meriasmu besok pagi. Jadi dari jam 5 pagi, dia sudah akan datang ke rumahmu."
"Ya Tuhan, terima kasih telah Engkau hadirkan seorang kakak sebaik kak Jessica. Terima kasih kak Jess."
Naura terharu dengan kebaikan kakaknya, kemarin dia berencana untuk merias sendiri wajahnya. Ternyata kakaknya lebih mengenal adiknya.
************************************************************
__ADS_1