
Melangkah gontai, Naura berjalan menyusuri jalanan di sepanjang Kota Lama. Pikirannya kosong, bingung apa yang akan dia lakukan ke depan. Mau pulang ke rumah, dia takut dan malu dengan suaminya, karena apa yang telah dia alami tadi malam. Pulang ke rumah orang tuanya, dia tidak bisa menyampaikan pada keluarganya. Dia betul-betul tidak habis pikir, kenapa dia yang biasanya teliti dan melakukan re check saat akan melakukan kegiatan apapun, kemarin dengan mudah dia mempercayai chat dari seseorang yang dia belum pernah mengenalnya sekalipun.
"Tapi apakah kamu harus putus asa, dan kehilangan semangatmu Naura?"
"Bangkitlah, hadapi kenyataan yang ada di depanmu? Semua sudah terjadi, dan tidak bisa diputar kembali."
Naura bermain dengan pikirannya sendiri, bahkan diapun tidak ingat dengan jelas siapa laki-laki yang bersamanya tadi malam. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, dan air mata kembali menetes di pipinya. Dia ingat Ujang, Bi Ijah, Jessica, dan semua orang dekat dalam hidupnya.
"Bangkitlah Naura, tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi dengan dirimu tadi malam. Simpan semuanya hanya dalam hatimu." pikirannya kembali mengembara, tiba-tiba perutnya berbunyi.
Dia ingat, bahwa terakhir kali dia makan adalah kemarin siang. Akhirnya dia menghampiri penjual nasi rames yang buka pagi di jalan tersebut.
"Bu. teh panas sama nasi kuning komplit 1 ya bu." pesan Naura pada penjual di warung tersebut.
"Ya Non, kok pagi banget sudah sampai disini Non. Menginap di hotel sekitar sini ya?"
"Iya Bu, mau nikmati suasana Kota Lama bu. Kalau siang panas, malam hari sangat ramai."
"Benar Non, memang paling enak pagi hari. Sepi. Lihat sebentar lagi akan banyak juga orang datang. Ada yang naik sepeda, sekedar foto-foto atau jalan-jalan."
Naura tersenyum, kemudian dia mengambil ponselnya. Perlahan dia menyalakan ponselnya, tetapi tidak ada satupun panggilan masuk atau chat yang masuk.
"Berarti tidak ada yang tahu apa yang telah kulakukan tadi malam, aku akan pulang saja dulu ke rumah. Semoga Om Firmansyah tidak mengetahui apa yang terjadi." akhirnya Naura memutuskan akan pulang setelah mengisi perutnya.
****************************************
__ADS_1
Pukul 05 pagi, Naura sudah sampai di pintu gerbang. Untungnya pintu gerbang tidak dikunci oleh Joko, mungkin karena menunggunya pulang. Naura langsung menyelinap masuk ke halaman, dan lewat pintu samping dia berhasil masuk ke dalam rumah. Tapi begitu mau masuk kamar, Naura ketemu Bi Ijah yang sedang membersihkan ruang keluarga.
"Sudah pulang Non, naik apa? Pulang bareng Tuan ya?"
Naura tidak menjawab pertanyaan Bi Ijah, tetapi langsung masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau memikirkan apa yang telah dia alami tadi malam. Akhirnya dia merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian dia sudah tertidur.
Bi Ijah yang tidak mendapatkan jawaban pertanyaan yang dia lontarkan ke Naura, hanya geleng-geleng kepala.
"Mungkin Non Naura kecapaian, akhirnya bisa juga berbulan madu sama Tuan. Tetapi kasihan juga ya sama Non, dia masih muda, cantik. Sedangkan Tuan Firman sudah tua." gumam Bi Ijah sendirian.
"Bi Ijah, kenapa bicara sendirian?" tiba-tiba Ujang sudah berada di belakang Bi Ijah.
"Sudah sholat kamu Jang, tidak apa-apa Jang. Tuan Firmansyah sudah datang ya, tadi garasi sudah dibuka belum?'
"Ujang sudah sholat Bi, tapi tidak ada mobil masuk tuh. Kan pintu gerbang sengaja tidak Joko tutup, karena khawatirnya Non Naura dan Tuan Firmansyah pulang malam hari."
"Kalau Non Naura sudah pulang, baru saja masuk kamar. Berarti Non pulang sama siapa ya?"
"Ya Jang benar juga apa yang kamu katakan. Nih lapnya."
**********************************************
"Dity..., kamu kok bisa sampai ke kamar ini bagaimana ceritanya? Kamar kita ini yang di depan ini lho. Makanya semalam, aku mau masuk tidak bisa, harus undang petugas house keeping, kemudian dia yang bukakan kamar."
"Oh my God.., Dipta. Aku salah kamar, tetapi kenapa pintu kamar gadis itu semalam tidka ditutup, sehingga ketika aku dorong langsung terbuka." Ditya tampak bingung, dan mengacak-acak rambut di kepalanya.
__ADS_1
"Gadis? Gadis siapa yang kamu bicarakan Dity? Dan sejak kapan kamu mulai tertarik pada seorang gadis?"
"Dipta.., aku tidak mau tahu bagaimana caranya. Kamu harus mencari informasi, siapa gadis yang booking kamar ini tadi malam. Tolong aku Dipt, aku sudah menghancurkan masa depannya."
"Sebentar, sebentar. Jelaskan padaku dulu apa yang sebenarnya sudah terjadi, baru aku akan membantumu!" terlintas pikiran buruk, tetapi Pradipta berusaha menepis pikiran itu.
Ditya diam tidak menjawab pertanyaan sahabat baiknya itu, dia juga tidak mampu berbicara dan mulai darimana. kemudian Ditya menarik selimut, kemudian menunjuk noda darah yang tertinggal di sprei itu, karena aktivitas intim mereka tadi malam. melihat apa yang ditunjukkan Ditya padanya, Pradipta terbelalak matanya.
"Ditya, apa yang kalian lakukan tadi malam? Apakh kamu sudah memperkosa seorang gadis tadi malam?"
"Aku tidak tahu Dipt, semua terjadi begitu saja tadi malam. Tetapi gadis itu yang pertama memulai, aku bahkan tidak tahu kalau aku sudah berada satu ranjang dengan gadis itu. Dan ketika aku bangun tadi, gadis itu sudah pergi meninggalkan aku, dan hanya meninggalkan catatan ini." Ditya berbicara lirih.
Pradipta duduk kemudian membaca tulisan dalam memo yang ditinggalkan Naura. Dia menjadi ikutan bingung, karena jika berita ini sampai diendus oleh media, maka orang tua Ditya pasti akan mengamuk.
"Apakah sedikitpun kamu tidak bisa mengingat gadis yang telah kamu tiduri semalam Dity. Dalam hal ini, menurutku gadis itu tidak salah. Karena dia tidur sendirian di kamarnya, kamu yang mendatanginya Dity."
Ditya menggelengkan kepala.
"Tetapi wajah gadis itu, aku meras tidak asing Dipt. Sepertinya aku pernah bertemu gadis itu, tetapi aku mencoba dari tadi mencoba untuk mengingatnya, tetap belum bisa menemukannya."
"Bersihkan badanmu dulu, aku mencium bau mesummu semalam. Kita pulang dulu, nanti aku telpon orang-orang kita untuk menyelidiki siapa yang booking kamar ini untuk tadi malam."
Sambil menunggu Aditya membersihkan dirinya, Pradipta mengecek semua sudut kamar. Dia mencoba mencari jejak yang mungkin ditinggalkan oleh gadis itu. Tetapi dia tidak bisa menemukan apapun, bahkan gelaspun masih rapi belum tersentuh sama sekali. Dia langsung menghubungi seseorang dengan panggilan telepon.
"Cari informasi kamar nomor 107 di **maya Tower Hotel, semalam dibooking oleh siapa dan atas nama siapa? Jangan lupa minta rekaman CCTV untuk semalam. Setelah dapat, rahasiakan dan hanya kamu serahkan pada saya!"
"Siap Tuan, segera kami cari informasi."
***********************************************
__ADS_1