
Naura sedang menjemur Ezaz di pinggir kolam renang. Rutinitas wajib yang harus dia lakukan setiap pagi. Meskipun sudah ada baby sitter untuk merawat Ezaz, terapi Naura tidak ingin kesempatan merawat buah hatinya hilang begitu saja.
"Selamat pagi jagoan Daddy...., sudah harum sekali." Ditya tiba-tiba mencium pipi Naura, tetapi jarinya berada di pipi Ezaz.
"Tidak keliru Dadd, harusnya ada dimana ciumannya?" kata Naura sambil tersipu.
"Tidak sayang..., prioritas awal pada yang melahirkan Ezaz, kapanpun dan dimanapun."
"Ah... ngibul...., Dadd..., Naura ingin kerja lagi boleh? Janji deh, tidak akan mengabaikan Ezaz. Kalau di rumah, Ezaz tetap Naura yang pegang."
Ditya memandang ke wajah Naura, tampak permohonan terlintas pada tatapan matanya.
"Nanti kita bicara lagi yah. Ezaz juga baru berumur 3 bulan, ayo temani Daddy sarapan dulu."
Naura diam kemudian menyerahkan Ezaz pada Tiwi, baby sitter perawat putranya. Kemudian Ditya merangkul istrinya dan membawanya ke meja makan.
"Minumnya mau teh atau air putih saja Dadd?" tanya Naura. Meskipun dia kesal dengan jawaban Ditya, tetapi sebagai seorang istri dia tetap melayani Ditya dengan baik.
"Air putih saja."
Tanpa bicara Naura mengambil air putih dari dispenser kemudian meletakkan di depan suaminya. Setelah itu menuangkan nasi dan lauk ke piring, tetapi dia sendiri tidak menyediakan untuk dirinya sendiri.
"Kenapa Mommy tidak sarapan? Ingat, tidak perlu diet ., tubuhmu masih seperti saat pertama kita ketemu sayang. Juga saat ini, kamu kan masih harus memberi ASI pada Ezaz. Ayo makan.., atau aku layani?" dengan lembut Ditya memegang bahu istrinya, sebenarnya dia merasa istrinya kurang berkenan dengan jawabannya tadi.
"Masih kenyang, tadi sudah makan jajanan pasar yang dibawa Bibi. Nanti kalau lapar, Naura makan lagi."
Ditya tersenyum, kemudian dia mengambil nasi dan menyuapkan ke mulutnya. Setelah menelannya..
"Mommy.., yang masak sayur ini tadi siapa? Sepertinya ada yang aneh." tiba-tiba Ditya bertanya pada istrinya.
"Masak? Mommy yang masak tuh, dah juga merasa bumbu sudah dimasukkan seperti biasanya." Naura menjawab.
"Sekarang buka mulut Mommy, coba rasakan sendiri! Sepertinya tidak ada rasa garamnya. Ayok... buka mulutnya!" Ditya mengambil satu sendok dari piringnya dan meletakkan di depan mulut Naura.
__ADS_1
Karena penasaran, Naura membuka mulutnya dan Ditya segera menyuapkan sendok ke dalam mulut istrinya sambil tersenyum. Naura mengunyah kemudian menelannya.
"Perasaan Naura tidak ada yang berubah sih Dadd, atau apa ya?"
Saat Naura masih berpikir, Ditya menyuapi Naura kembali. Tetapi setelah lima suapan, Naura baru tersadar jika saat ini dia baru dikerjain sama suaminya.
"Daddy curang.., ngerjain Naura ya?"
"Ha...ha..ha.., ini bukan ngerjain sayang. Namanya ini Daddy perhatian sama Mommy.., ayok makannya barengan saja. Nasinya habis di piring, tambahi lagi ya!"
Akhirnya pagi ini mereka makan satu piring berdua, dengan saling menyuapi. ART yang melihat hanya senyum-senyum malu, tetapi tidak berani mendekat ke ruang makan.
"Ehm..., pagi-pagi tidak sadar apa ya? Dari tadi ditungguin di mobil tidak segera keluar, ternyata suap-suapan ala sinetron." tiba-tiba terdengar suara Pradipta di belakang mereka.
Naura memerah pipinya karena malu, kemudian dia berhenti menyuapi suaminya.
"Mau kemana Momm..., sudah abaikan jomblo merana itu! Kita anggap saja hanya suara angin..!" Ditya melarang Naura, tetapi gadis itu sudah berdiri.
"Pak Dipta sudah sarapan belum? Sekalian saja sarapan disini, Naura siapkan piring dulu!"
Naura menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya kemudian meletakkan di depan Pradipta.
"Ambil sendiri ya pak nasi dan lainnya!"
"Pasti Na..., aku juga tahu kok. Bisa-bisa jika kamu melayani aku di depan dia, nanti dia memporak-porandakan kantor deh."
Pradipta segera mengisi piringnya, dan mulai makan.
"Kamu makan sendiri ya Dipt.., aku mau siap-siap dulu." sambil berdiri Ditya menggandeng istrinya dan melangkah ke kamar.
Pradipta hanya melihat mereka sekilas, kemudian melanjutkan sarapan paginya.
**************
__ADS_1
Edward meregangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan. Mukanya tampak berseri-seri, karena setelah berbulan-bulan berada di Australia, dia sudah kembali berada di Jakarta. Karena sesuatu hal, Rossi meminta putranya untuk mewakilinya mengurus kerjasama di Jakarta.
"Naura .., bagaimana kabarmu saat ini sayang?" gumam Edward sambil membayangkan wajah lembut gadis itu.
"Aku betul-betul merindukan kamu, aku harap dalam waktu yang tidak lama kita bisa bertemu lagi. Naura..," tambahnya lagi.
"Bagaimana Tuan Edward..., mau pulang ke rumah dulu, apartemen atau langsung menuju perusahaan?" tanya pengawal keluarga Rossie, mamanya Edward.
"Apartemen saja dulu, aku tidak akan balik rumah! Hubungi sekretaris, nanti jam 14.00 aku akan mengadakan meeting, dan semua manajer divisi menyiapkan laporan!"
"Baik Tuan, segera saya hubungi Vivian agar segera mengkondisikan."
"Tuan menunggu disini saja dulu, Toni baru mengambil mobil di parkiran."
Baru saja pengawal itu selesai bicara, tampak mobil Rolls ROYCE berhenti. Dengan sigap pengawal segera membukakan pintu bagian belakang, dan Edward langsung masuk dan duduk.
"Apartemen Ton.., Tuan Edward menginginkan istirahat di apartemen saja!"
"Siap!"
Toni membawa mobil membelah jalanan ibu kota, Edward mencoba memejamkan matanya tetapi tidak bisa. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menyalakan. Pertama kali dia masuk ke Instagram, dan melakukan stalking ke Ig Naura.
"Ternyata gadis itu sudah melahirkan.., dan aura keibuan membuat wajahmu menjadi semakin dewasa Naura." gumam Edward sambil tersenyum.
Pengawal dan sopir yang mendengar gumaman Edward tidak berani berkomentar, mereka hanya saling berpandangan. Mereka berdua tahu bagaimana satu tahun yang lalu, majikannya itu membawa lari seorang gadis sampai di kepulauan Seribu. Tetapi naas, karena putra konglomerat negeri itu ikut campur tangan, akhirnya gadis itu bisa diambil lagi dan berakhir dengan Edward di penjara.
"Wajahmu masih persis sama dengan saat terakhir kali kita ketemu Naura. Tapi sayang, aku tidak bisa melihat wajah bayimu, mirip siapa dia? Mirip kamu, Om Fir atau mirip laki-laki yang saat ini menjadi suamimu?" Edward tetap berada dalam pikirannya sendiri. Jari tangannya mengusap gambar Naura yang berada di media sosial.
"Mohon maaf Tuan Edward.., di apartemen kan belum ada makanan. Ini mau kita mampir dulu untuk membelinya, atau nanti delivery order saja ketika sampai di apartemen?" pengawal memberanikan diri bertanya pada Edward.
"Minta orang perusahaan untuk mengurus itu semua, sediakan semua di apartemen! Aku masih capai, akan meluruskan badan dulu sebentar di bed!"
"Baik Tuan, segera saya kondisikan semuanya."
__ADS_1
Edward kembali fokus pada ponselnya yang memperlihatkan foto Naura yang sedang menggendong bayinya, tetapi ada emoticon love di wajah putranya.
************