PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura

PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura
Kembali


__ADS_3

Karena tidak tahan dengan rengekan Naura, akhirnya esok harinya Ditya membawa Naura pulang ke rumahnya. Naura sedikit terharu dengan perawatan yang diberikan laki-laki itu. Dia tampak terlihat garang di mata lawan bisnisnya, maupun orang-orang yang mencari manfaat darinya. Tetapi di depan Naura, dia berubah lembut dan perhatian. Apalagi saat tahu Naura hamil, meskipun dia tidak layak disebut sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Ditya over protective untuk keselamatan Naura dan bayi yang dikandungnya.


"Kenapa kembali ke rumah ini lagi, Naura masih ada kedua orang tua lengkap? Tolong Naura diantar pulang ke tempat mama dan papa!" tanya Naura pada Ditya.


"Ingat Naura, tanggung jawab kamu dan anak kita, menjadi tanggung jawabku. Jangan bicara terus minta pulang ke rumah. Rumahmu ada disini!"


Mendengar perkataan Ditya, Naura tidak berani membantah. Saat ini helikopter yang membawa mereka, sudah mendarat di halaman belakang rumah Ditya.


"Aku harus memastikan putraku lahir ke dunia ini dengan selamat, jadi kamu akan berada di bawah pengawasanku." tambah Ditya lagi.


Ditya langsung mengangkat Naura dengan kedua tangannya, kemudian langsung membawanya ke dalam kamar.


Naura diam tidak menanggapi pernyataan laki-laki itu, karena percuma tidak akan pernah diperhatikan. Dia mencoba berdamai dengan keadaannya saat ini.


Tampak ART berlarian membukakan pintu kamar, dan menyiapkan kamar Ditya. Setelah membaringkan Naura di atas bed king size di kamarnya, Ditya langsung memanggil Dokter yang sudah menunggu mereka di ruang tamu.


"Non mau minum apa, Bibi buatkan ya!"


"Teh manis panas ya Bi, gula sedikit biar tidak eneg."


"Baik Non, tunggu sebentar ya, Bibi buatkan dulu!"


Ditya masuk bersama seorang dokter perempuan.


"Hallo calon mama, semangat ya biar adik bayinya juga semangat!" sapa dokter menyemangati Naura.


"Diinfus lagi tidak?" tanya Naura khawatir.


"Jika boleh, tidak perlu Dok. Capai dan sakit tangannya."


"Boleh sih, tapi Non Naura harus banyak makan ya. Biar adik bayi sehat!" dokter tersenyum, dan menyampaikan beberapa pesan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi.


Naura mengangguk.


"Memang tidak apa-apa Dokter, apakah kebutuhan nutrisinya bisa tercukupi tanpa infus?"

__ADS_1


"Bisa Tuan, tapi harus dipastikan Non Naura harus makan teratur."


"Coba saya cek dulu ya!"


Dengan hati-hati, Dokter melakukan cek kesehatan Naura. Setelah selesai,


"Tuan, mohon maaf saya tidak membawa obat. Saya tuliskan resep saja ya untuk vitamin yang harus dikonsumsi Non Naura."


Setelah menuliskan resep, dan menyerahkannya pada Ditya, Dokter minta pamit.


"Mau tidur istirahat atau makan dulu? Atau minum teh dulu?"


Sebelum Ditya mengambilkan, Naura sudah terlebih dulu memegang cangkir tersebut. Laki-laki itu tersenyum melihat gadis itu, dan kemudian mengambil cangkir dari tangan Naura. Mereka bertatapan sejenak, tetapi Naura segera tersipu malu.


"Kenapa pipimu merah? Apakah baru menyadari betapa tampannya aku?" goda Ditya.


"Terserah kak, mau bilang apa?" sahut Naura sambil membalikkan badannya.


"Kamu itu sangat menggemaskan sayang, lucu dan imut. Apalagi kalau mau tersenyum untukku."


"Kak.., jangan begini, Naura risih!" ucap Naura pelan berusaha menjauhkan badannya. Tetapi Ditya tambah memeluknya dan tidak membiarkan Naura melepaskan diri.


"Sebentar saja, biarkan aku mendapat ketenangan sedikit saja." bisik Ditya pelan.


*****************


"Ma.., pastikan jam 16 sore kita sudah di rumah! Akan ada tamu yang ingin ketemu kita." Samsuar menelpon Novi agar pulang ke rumah.


"Mama masih ketemu dengan teman-teman arisan pa. Maghrib saja ya sampai rumahnya!"


"Mama itu kapan kapoknya sih? Sudah sampai sekarang anak kita Naura belum ada kabar terbaru, masih bisa-bisanya pergi kumpul dengan teman?" Samsuar menegur Novi.


"Naura itu sudah banyak mengorbankan dirinya untuk kita. Ingat itu ma, sekarang kamu juga lihat, Jessica apa pernah melihat kita sebagai orang tua? Itu semua karena keegoisan kita, sadarlah ma!" lanjutnya lagi.


"Pokoknya papa ingin, papa pulang ke rumah, mama sudah ada! Jika tidak ada, mohon maaf ma, papa tidak akan segan-segan mengambil langkah tegas!" tanpa memberi kesempatan istrinya untuk menjawab, Samsuar langsung memutuskan panggilan telponnya.

__ADS_1


Novi kaget dengan respon dari suaminya, yang biasanya Samsuar akan membiarkan apa yang ingin dia lakukan, kali ini dia bicara dengan nada tinggi. Padahal dari dulu, Novi tahu jika Samsuar tidak pernah marah padanya. Apapun yang dia inginkan, meskipun berat akan selalu disediakan oleh suaminya.


"Kenapa papa bicara keras padaku?" sambil duduk Novi memikirkan sikap suaminya barusan.


"Memang siapa sih tamu yang akan datang ke rumah?"


"Hai Jeng, siang-siang itu jangan melamun! Masak kita ngobrol malahan Jeng Novi melamun." sahut teman sosialitanya.


"Iya nih Jeng Novi. Barusan dapat telpon kok langsung diam. Dapat telpon dari siapa Jeng?" tanya temannya yang lain.


"Berondong kali ya, minta apa berondongnya Jeng? Ha..ha..ha..,"


Tergagap Novi baru tersadar, saat ini dia sedang nongkrong makan siang bareng teman-teman sosialitanya. Dia langsung berusaha mengabaikan ultimatum dari Samsuar, kemudian kembali melibatkan diri menanggapi omongan teman-temannya.


"Iya, berondong beras yang nelpon. He..he..," sahut Novi, tetapi hatinya merasa tidak tenang.


"Jeng, aku jam 14.30 ijin cabut dulu ya! Di rumah mau ada tamu, jadi aku harus menyiapkan kudapan dan sudah sampai di rumah!"


"Kok sepertinya penting Jeng tamunya, siapa memangnya yang mau berkunjung?" tanya temannya yang jadi tuan rumah kali ini.


"Aku belum tahu sih. Tapi sepertinya tamu penting sih, karena aku harus segera pulang ke rumah. Kata mas Samsuar sih."


"Yah semoga saja, tamu yang mau melamar mbak Jessica ya Jeng. Karena harusnya Jeng Novi itu sudah pantas memiliki cucu lho, tapi masak punya putri cantik 2, kok belum dinikahkan."


Mendengar perkataan temannya, Ovi menjadi sedikit pias. Karena memang dia tidak pernah memberi tahu jika Naura putri keduanya sudah menikah 3 tahun yang lalu. Seperti permintaan Firmansyah yang tidak ingin pernikahan mereka dipublikasi, juga karena rasa malu mereka jika putrinya menikah dengan laki-laki tua, akhirnya sudah 3 tahun tidak ada yang tahu dari teman-temannya.


"Jeng, ada apa? Kok melamun lagi?" tiba-tiba temannya menepuk pelan bahunya.


"Iya maaf, aku pulang dulu saja ya? Tiba-tiba kepikiran mau menyiapkan kudapan untuk tamunya nanti." kata Novi tiba-tiba sambil berdiri.


"Waduh Jeng, ini belum dibuka lho arisannya."


"Tidak apa-apa, lagian belum rejeki dapat bulan ini, bulan depan masih ada kesempatan. Sudah ya, aku pulang duluan." Novi langsung melangkah pergi, sambil melambaikan tangannya untuk memberi salam pada mereka semua.


*****************

__ADS_1


__ADS_2